29 Dec 2012

Anniversary 4 th in December, 30 2012

Advertisement
Desember adalah sebuah bulan yang sebenarnya sama dengan bulan-bulan yang lainnya. Tetapi eh karena di bulan Desember, empat tahun silam telah terikat tali yang sungguh indah menyambung dua pribadi yang sama sekali berbeda jauh ke dalam sebuah ikatan pernikahan. Ehem, ini mah ngomongin saya sendiri, jadi malu *lebay sekali.
Dalam buku hijau dan merah milik saya dan suami tertulis jelas tanggal 30 Desember 2008 kami menikah di sebuah rumah Allah di sebuah desa Gumilir, di dekat rumah orang tua saya. Jadilah bulan Desember ini menjadi bulan kenangan bagi saya dan suami tercinta untuk mengabadikan moment yang sedikit spesial bertabur romantis yang pasti masih dalam batas-batas normal *cailaaa?
Berawal dari satu, satu yang terserak berjauhan  dan didekatkan dalam suatu tempat yang memberikan kami sejuta cerita terbingkai dalam barisan kalimat yang menjadikan sebuah kenangan bagi perjalanan cinta mewujudkan gerbang pernikahan. Betapa jalan menuju kearah episode pernikahan bukanlah suatu jalan yang tanpa aral bagi kami masing-masing. Betapa Allah memberikan kami keyakinan dan kekuatan untuk tetap beriringan membangun sebuah rumah tangga pada, 30 Desember 2008 dalam balutan kebahagiaan bagi setiap detak dan hati orang-orang yang menyayangi dan selalu kita jaga.
Akad Nikah, Desember 30, 2008

Resepsi Pernikahan, Februari 2009

Jakarta, adalah kota yang mempertemukan saya dan suami disebuah pekerjaan. Tidak pernah menyangka dan mengira *yang ini pasti bakal gak dipercaya teman-teman. Jodoh, memang hanya Allah yang tahu. Kami bersama dalam setahun pada pekerjaan yang sama, kemudian mengalirlah sebuah rahasia Ilahi ini.
 
Cilacap merupakan kota asal saya sebagai tempat terukirkan janji kepada Allah dalam Akad Nikah yang diselenggarakan disebuah Mushola di desa Gumilir, terdekat dengan rumah saya. Menyatukan bukan hanya saya dan kamu menjadi kami, namun tugas kami adalah menyatukan saya kedalam keluarga besar kamu dan kamu menyatu dalam keluarga besar saya juga keluarga besar saya mengenal keluarga besar kamu. Berbagai peran kita coba untuk pelajari dengan saling memahami. 

Depok sebuah kota perbatasan Jakarta Selatan, menjadi tempat pilihan untuk tinggal bagi kami setelah menikah. Disebuah rumah petakan yang memiliki tiga ruang, yaitu ruang tamu, ruang tidur dan dapur serta kamar mandi menjadi saksi kisah cinta kami merajut ruang perkenalan antara sisi ruang cinta yang kami masuki satu demi satu mencampurkan adonan berbagai rasa agar terbentuk sebuah pondasi rumah tangga yang mampu untuk didirikan sebuah bangunan rumah cinta kami.

Hingga, dipenghujung tahun, tepatnya bulan Oktober 2009 lahirlah buah cinta kami pada tanggal 11 Oktober 2009 dan kami beri nama Faiz Ghaisan Muttaqi seperti yang saya ceritakan disebuah postingan dalam blog ini. Kelahiran anak kami, menjadi kado terindah menyambut anniversary kami yang pertama di tahun 2009.
Faiz Ghaisan Muttaqi, 11 Oktober 2009

Semarang adalah sebuah kota diutara pulau jawa sebagai tempat tinggal kami mulai tahun 2009 karena suami saya mendapatkan tugas didaerah tersebut. Belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Semarang, apalagi suami saya. Benar-benar buta, namun kami menjalaninya dengan ikhlas dan berbahagia bersama dengan buah hati kami yang tumbuh sehat dan pintar di kota itu.
Semarang, Kuil Sam Poo Kong

Kami tinggal masih disebuah rumah kontrakan didaerah Klipang, tepatnya di perumahaan Klipang Pesona Asri. Bertambah teman dan saudara, kompak dalam mengasuh faiz anak kami, walaupun terbilang baru sekali dalam berumah tangga, jauh dari keluarga dan kerabat, namun kami selalu yakin kami bisa.

Bertabur senang dan berselimut susah kami coba untuk menerima dan menjalani sebagai bagian dari pembelajaran kehidupan.Kadang rumah cinta kami berwarna biru saat sedang menunggu ribuan kelepak cahaya menaungi rasa rindu, kadang berwarna merah dalam semburat kebahagiaan maupun kegalauan *asiiik, Kadang bisa seperti pelangi yang menghiasi rumah cinta kami ini.

Tahun ke-dua pernikahan menjadi suatu cerita sendiri melengkapi pembelajaran rumah cinta kami. Memilih bekerja dan meninggalkan anak, menjadi satu hal yang membutuhkan perhatian ekstra dalam rumah cinta ini. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap stay at home mengasuh faiz dan mengiringi tumbuh kembangnya.
Anniversary 2 nd, Cilacap

Pelajaran yang saya petik adalah, seorang isteri harus sabar yang ikhlas terhadap suami, menjalin komunikasi penting dalam keadaan yang tenang. Berusaha untuk memahami posisi masing-masing. Pelajaran terindah bisa saya petik karena pernah menghadapi suatu masalah dan berhasil mengatasi masalah tersebut dan terbuka terhadap masukkan dari manapun.

Suamiku.... "hiiii, sudah lebih cantikkan saya?"  cantik disini kami artikan hati, pikiran dan sikap. Yup, usia dua tahun pernikahan memberikan kami banyak sekali pelajaran baik menghadapi suatu hal yang membuat kami bersyukur ataupun diberikan kesempatan untuk bersabar.

Karawaci, Tangerang, Banten. Akhirnya kami kembali lagi kesebuah kota didekat Ibu Kota Jakarta setelah suami saya mendapatkan kabar dari kantornya bahwa dia di mutasi dari Semarang menjadi di Tangerang. Setali tiga uang bahasa *tuing..mikir deh.... yah seperti itu deh, Allah memberikan jalan yang indah bagi hamba-Nya yang mengambil hikmah. 

Bibi suami saya sedang menderita sakit keras, tentu saja lebih fleksibel kami bisa menjenguk dan menemaninya saat itu, jarak anatara karawaci dan tanjung priuk tidak begitu dekat, namun karena cinta dan hormat kami lakukan mengendari sepeda motor memakan waktu hampir tiga jam. Sesuatu terjadi karena suatu alasan, itulah yang sampai sekarang membuat kami bersyukur. Sebulan setelah kami pindah ke karawaci, bibi suami saya meninggal dunia, Subhanalloh Allah begitu Indah memberikan jalan.

Dan dibulan yang sama, Desember 2011 hitungan ketiga tahun pernikahan ini kami rencanakan dengan sedikit romantis. Suami saya mengajak saya dan faiz untuk makan malam disebuah restoran, yah yang penting di Mall dech *hehee, Karena mendekati malam tahun baru, mall begitu penuh sampai harus pusing memilih tempat makan
SMSerpong, merayakan anniversary 3 rd

SMSerpong, merayakan anniversary 3 rd

Cerita yang kami petik dari usia tiga tahun pernikahan adalah sebuah kelapang dadaan dan keterusterangan serta mau dan mampu menceritakan masa lalu. Buat apa? pasti sakit lho.... memang, tapi daripada denger dari orang lain???? *tuing lebih syok dunk??? smile... Dan yang ini sangat susah buat saya dari pada si suami. Heheee, entah karena saya seorang wanita ya? tapi lama-lama sebuah tradisi ini menjadi pelengkap keintiman kami. 

Cipondoh, Tangerang, Banten. Saya mengajukan sebuah proposal kepada suami untuk bekerja kembali, horay....akhirnya di acc namun dengan sebuah catatan tidak sebagai marketing yang bersliweran dijalan seperti saat muda dulu...ahai seperti cerita disini tentunya, Klik ya. Okai akhirnya ada sebuah perusahaan*masih farmasi tentunya yang membutuhkan admin, tak dipungkiri karena pertolongan Allah akhirnya diterima dengan penghasilan yang Alhamdulillah separoh dari pekerjaan saya semula.
Aku saat bekerja

Oleh karena itu, suami memutuskan untuk pindah kontrakkan di daerah Cipondoh disebuah perumahaan yang bernama Puri Permata. Nice place menjalani hari-hari kami yang telah lengkap buat kami walau belum memiliki sebuah rumah tinggal sendiri, namun rasa syukur dan kebahagiaan yang tercipta itu sulit untuk dipungkiri. Bahagia itu sederhana, sebuah kalimat yang selalu saya katakan bila rasa yang sangat tidak diinginkan muncul.

Mengecup manis kening faiz saat hendak tidur dan mengucapkan selamat pagi bila faiz bangun, menambah keromantisan lingkaran tangan saya memeluk suami. Kedewasaan memang tidak bisa dinilai lewat apapun selain sebuah pendirian dan pandangan hidup yang sesuai. Kami belajar untuk lebih dewasa dalam menghadapi apapun, belajar untuk menerima kado terindah-Nya, baik dan buruk dimata Allah adalah sama yaitu iman kami kepada-Nya. Sulit, iya sulit kalau dipikirnya sulit, namun akan menjadi ringan dan mudah bila kami senantiasa membiasakan diri untuk ikhlas dalam bentuk apapun.
Separuh Aku, My Hubby

Faiz Ghaisanku...

Benarkah? lha wong namanya hidup itu adalah pembelajaran kok, salah benar itu hidup, senang susah ya itulah hidup, tangis dan tawa lagi-lagi dalam hidup ya pasti ada. Jadi kalau kami masing-masing punya salah, ya lumrah dalam hidup tinggal bagaimana mengatasi dan menyelesaikan salah itu menjadi benar??? 
Refleksi ini semoga menguatkan kami berdua untuk semangat belajar dari kesalahan terkecil, apalagi besar serta mempertajam mata kami untuk melihat yang tak nampak dan memekakan telinga untuk mendengar sebuah kalimat yang tak terdengar serta menyamankan hati kami masing-masing.

Usia empat tahun bila dianalogikan seorang anak, dia telah mahir berjalan, berlari, bercakap, mendengar dan merasa, kelas-kelas disebuah pembelajaran menanti dengan pintu terbuka. Semoga kami mampu dan mau untuk belajar serta memahami setiap sisi kehidupan yang bukan hanya kami menjalaniny, tapi ada seorang anak lelaki kami, ada keluarga besar kami, ada tetangga kami dan karib kami.

Suamiku, Happy Anniversary Yang Ke Empat...
Senantisa disayang Allah, senantiasa mendapat limpahan kasih sayang-Nya, agar segala sesuatu dari Allah tercurah dari kamu.
Seperti diatas telah dituliskan, saya bukan wanita yang sempurna, tapi saya mencoba untuk melakukan apa yang memang harus saya lakukan.
Saya mencintaimu lagi-lagi karena mengharap Ridhlo-Nya.
Tiada kata yang lebih indah untukmu selain DOA yang kupanjatkan kepada Allah.
Tiada bingkisan yang berarti untukku selain senyum dan KEHADIRANMU dari Allah.
Tiada Ujian yang mnyenangkan tempat kita mencurahkan kebahagian, tiada lain seorang ANAK dari Allah.
Tiada kekhawatiran yang kita punya karena kepada Allah-lah tempat kita memohon.

 Pintaku,
Beri saya pelukkan dalam keadaanku yang sedang emosi
Bisikan kalimat yang indah saat kembali kalut menghampiriku
Dekap erat dan hiburlah saat tangisku terpecah
***





 
 








2 comments:

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...