15 Apr 2013

Ciri Anak Autis

Advertisement
Autis? Autisme? megnapa aku membuat postingan seperti ini? Semalam aku mendapat me time cukup lama. Faiz tertidur ketika suamiku belum pulang dari kerja. Melihat tayangan televisi, saluran yang bernama JakTV, sebuah program talk show Kata Dokter dengan presenter dr. Lula Kamal dan dr. Boyke. Nara sumbernya ibu Gayatri seorang master terapi anak berkebutuhan khusus dan chef chitra yang cantik.

Awalnya memang ketika Faiz berusia satu tahun, aktivitasnya tak bisa dikendalikan, jika sudah lelah bukannya berhenti dan istirahat, namun akan semakin tinggi aktivitasnya dan melempar mainannya. Tapi sykurlah, seiring perjalanan waktu, Faiz tumbuh normal.

Credit

Anak dikatakan memerlukan penanganan khusus, jika terdapat dua ciri dari ciri-ciri sebagai berikut;
  1. Tidak bereaksi atau tidak mendengar saat dipanggil namanya
  2. Cenderung main sendiri
  3. Membeo (mengulang) kata yang diucapkan
  4. Menggunakan gerakan untuk menunjukan keinginannya, misalnya menggandeng ayah/ibunya untuk mengambilkan gelas untuk minum
  5. Tidak suka dipeluk/disentuh
  6. Kurang/tidak melakukan kontak mata orang yang mengajak berbicara
  7. Keterlambatan berbicara
  8. Tidak menyadari adanya bahaya
  9. Tertarik pada bagian mainannya, bukan pada mainannya
Menurut ibu Gayatri yang cantik dan awet muda ini, terapis untuk menangani anak berkebutuhan khusus adalah orang tuanya sendiri. Ibu Gayatri sendiri telah berpengalaman menangani anandanya sendiri. Saat ini, anak beliau sudah berusia 20 tahun, sudah bisa mencari nafkah sendiri, menyetir mobil dan sudah berhaji sendiri. Kuncinya adalah dari orangtuanya sendiri, orangtualah yang harus menjadi terapis bagi anaknya, karena orangtuanya yang setiap waktu berada di sampingnya.

Terpikir anak dari temanku, yang ketika bertemu ketika reuni dibawanya. Ketika itu, aku tidak tahu, jika si anak berkebutuhan khusus. Mungkin memang sukanya berlarian dan tidak dapat berhenti sejenakpun, barang-barang di rumah temanku dibanting dan dijatuhkan, tapi sepertinya tidak ada perasan bersalah dari anak berusia sekitar 6-7 tahun itu. Ketika itu Faiz tidur dan aku tidurkan di atas karpet, anak temanku itu menginjak tangan Faiz yang sedang tidur ketika berjalan, sama sekali tidak merasa bersalah. Setelah mengobrol dengan istri temanku tersebut, baru 'engeh' ternyata...sudah dari kecil terapi.

Alhamdulillah, memiliki buah cinta yang normal sehat dan meskipun ada saja ulahnya...seperti itulah masa anak-anak, tinggal bagaimana orangtua yang bijak menasehatinya. Faiz...big hug for u, Nak. 

Ibu Gayatri memiliki sebuah website yang bisa diakses oleh para orangtua yang mencari informasi dan media-media bagi anak berkebutuhan khusus. Beliau sangat peduli dengan mendirikan sebuah organisasi bernama Mpati, simak di halamannya ini.


4 comments:

  1. Salam kenal Mak...
    Kebetulan anakku bersekolah inklusi, jadi sering mendengar cerita ABK, anak berkebutuhan khusus. Memang mendengarnya suka sedih, tapi itulah titipan Tuhan yang terbaik yang diberikan kepada para Ibunya ya. Pasti Maha Pencipta mempunyai makna dibalik semuanya itu

    ReplyDelete
  2. Dua Sepupu isteri saya anaknya menderita autis padahal yang satu isterinya juga dokter.
    Autis katanya tidak bisa disembuhkan namun masih tetap bisa berprestasi.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  3. Mba Sari : Kata Ibu Gayatri : sedih boleh, tapi sebentar saja kemudian bangkit untuk menemani sang ananda.

    ReplyDelete
  4. Pakde Cholik : Benar pakde, semoga komentar pakde bermanfaat bagi yang lainnya *

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...