Skip to main content

Di Tepi Sungai Serayu # Part 2

Setelah makan siang bersama teman-teman di kantor, shalat dzuhur dan membuka FB, ada notifikasi dari seorang blogger yang biasa dikenal dengan om Nh Her. Intensitas pertemuan dengan beliau ada di Warung Blogger, jujur jarang juga sich...maklum emak yang kadang bawang merah dipegang kadang mesin fax, mesin scanner yang dipegang.

Namun, sungguh membuat saya tersanjung ketika membuka notifikasi tersebut di FB. Om Her memainkan Di Tepi Sungai Serayu dengan indah dan cantik. Iya, waktu itu saya sempat menuliskan lirik Di Tepi Sungai Serayu sepulang dari mudik lebaran 2013. 

Buat Om Her, terima kasih banyak...kepingin banget saat ini dari Tangerang langsung duduk di depan jembatan kereta api, di mana di situlah sungai Serayu terbentang luas. Ceritanya waktu melewati sungai Serayu, Faiz kecil sedang bobo di pangkuan, jadi enggak sempat mengabadikan gambarnya.

Memang kesannya berubah, namun masih indah kok Di Tepinya Sungai Serayu itu, semoga pemerintah Kabupaten Banyumas dan sekitarnya tetap mengupayakan kealamian dan keindahan alam Di Tepi Sungai Serayu tersebut. Kelak, bagi para blogger yang penasaran dengan keindahan Di Tepi Sungai Serayu dari alunan musik om Her merasa tidak ingin meninggalkan sungai Serayu #Yup.

Bagi yang mendengarkan alunan musiknya, terima kasih. Alunan musik keroncong tepat sekali didengarkan siang-siang begini. Kesannya bak jaman 45-an, dan membuat hati tenteram, adem dan nyaman #kangen alm. Mbahku yang asli Banyumas.

Comments

  1. Menuju rumah Jeng Tanti diiringi alunan musiknya om NH, salam kenal

    ReplyDelete
  2. Saya percaya sepenuhnya ...
    bahwa Kali Serayu itu ...
    bagi sementara orang
    pasti menyimpan berjuta kenangan ...

    Salam saya Bu

    ReplyDelete
  3. wah aku pnasaran nih ma lagunya.. Keknya legendaris bgt ya..
    Kompi ktrku ga bs buka video.. :(

    ReplyDelete
  4. jd penasaran pengen tau lagunya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Tabung Elpiji Bisa Berbunyi?

Alhamdulillah, ya Allah...pagi ini masih bisa menikmati sajian makanan meskipun hasil beli di pasar. Iya, tadi pagi sudah semangat untuk bikin sop buat anakku, tapi ceritanya jadi beda gegara ini.
Sebelum sholat subuh, saya merebus daging untuk sop dan menitipkan ke suami untuk melihat api di kompor, karena indikator di regulator menunjukkan gas hampir habis. Namun, suamiku masuk kamar dan aku sholat subuh. Masuk ke rakaat terakhir, saya mencium bau gas, menyengat dan langsung mempercepat gerakan sholat.
Saya matikan api, menarik nafas, karena tidak sampai mati apinya, jadi kalau pasang elpiji bisa gampang pikirku. Selang beberapa lama, saya kembali ke kompor dan mendengar suara mendesis dari elpiji *apa ini? aku panggil suamiku dan suamiku hendak mencabut regulator pada tabung elpijinya. Kaget kami berdua, suaranya dari mendesis menjadi *ngiiiiiiing seperti alarm kebakaran, panjang dan keras.
Saya melihat wajah suami mulai panik, tapi masih terkendali, saya diminta keluar mengajak a…

Bagaimana Cara Print Out Mutasi Rekening BCA

Hallo selamat pagi? semangat pagi karena telah berganti tahun dan berharap tahun 2015 ini semakin lebih baik dari tahun -tahun sebelumnya. Sedikit informasi, tumpukan pekerjaan tahun 2014 masih banyak sekali dan beberapa kendala dari status sebagai anak, istri, ibu, majikan **eheheee..., pekerja kantoran, tetangga dan pengguna jalan umum, membuat pusing tujuh keliling.
Nah, daripada memikirkan masalah yang belum tentu menjadi terhambatnya aktivitas, maka syukurilah apa yang sedang dihadapi. Si embak ijin pulang kampung begitu lama ya..disyukuri saja meskipun tumpukan baju kering banyak.
Lah, apa hubungannya bagaimana cara print out mutasi rekening BCA dengan itu semua tadi? iya, saya itu kan gaptek kalau terpaksa, tapi kalau tidak terpaksa saya akan menjadi tidak gaptek, karena saya males untuk mencari tahu.
Beginilah jika dalam situasi terpaksa, akhirnya saya menggunakan klik BCA yang telah lama dianggurin untuk hal pekerjaan. Kenapa? pernah terblokir malas pakainya jadi ***tuh kan,…

Wardah, Kosmetik Pilihan di Usia 30

Mengingat waktu masih pakai seragam abu-abu putih, bedakpun masih yang beli di warung seharga 500 perak, lipstik cukup pakai madu dan deodoranpun pake yang serbuk anti bau badan. Pantesan banyak cowo-cowo lari lunggang lunggung kali ya dari dirikuh dan enggak punya pacar waktu es-em-a. aaaach kenapa jadi buka rahasia???
Pun ketika sudah menjadi mahasiswa yang katanya lebih dewasa gitu *ini aneh bin ajaib gitu loh, masih pake bedak baby *pyuuuuh. Lipstik udah mule pake lips gloss getu dan deodorant pun ada plus minyak wangi. Tapi untuk riasan wajah, jauh dikatakan dewasa *qiqiqiqiqiqik.

Lambat laun ketika terdampar di kota gudek Jogja yang indah akan eksotisme kulkural dan mengenal dunia kerja, akhirnya mau enggak mau keluar masuk salon yang berdominasi warna empink itu. *uuugh, jadi inget pake pingin ke Jogja.
Kosmetik yang digunakan pun hanya kosmetik dari tempat perawatan tersebut. Bedak masih yang imut-imut dikhususkan pada range usia remaja *laaah, padahal saat itu usiaku sudah tidak…