10 Sep 2013

Kerokan Satu Tanda Cinta

Advertisement
Kerokan dan masuk angin adalah sebuah fenomena yang sudah mendarah daging pada masyarakat saat ini. Kalau sedang tidak enak badan karena masuk angin, ada pilihan untuk minum obat, istirahat atau kerokan dan istirahat.
Kerokan sendiri merupakan aktivitas dengan menggunakan koin atau alat untuk kerokan menggunakan balsem atau minyak angin pada punggung seseorang. Mengerok bisa dilakukan siapa saja, karena pada dasarnya tidak diperlukan keterampilan seperti aktivitas memijit.
Jika hasil kerokan berwarna merah kehitaman, itu tandanya masuk anginnya sudah banget. Tapi jika hanya pink atau merah sedikit dan ketika dikeroki tidak sakit, mungkin hanya kelelahan saja.
Saya pribadi bisa dihitung jari dech dikerokin, pikirannya "takut ketagihan gitu" karena menurut saya pribadi, kerokan juga salah satu jalan untuk meringankan tubuh yang lelah dan pegal. Ya...seperti dipijit, kadang ketagihan dech....nah saya enggak mau yang ketagihan itu, hihiii *kasihan yang ngerokin.
Beda dengan suami saya yang rada mirip dengan bapak saya. Hampir setiap hari minta dikerokin, alasannya kadang badan pegel, masuk angin atau sekedar lelah. Memang sekarang lebih mudah ada minyak angin yang bisa dipergunakan untuk mengerok, jadi tangan enggak pegel *haaaih? iya, jadi seperti menulis di punggung saja... *kelaaar.
Tapi, kata suami enggak mantep dech kalau enggak dikerokin menggunakan koin. Menurut suami, setelah punggung dikerok rasanya ringan dan enak sekali setelah tidur beberapa jam. 
Ibu saya dulu juga menyarankan mengerok bagian punggung my lovely kids, yang baru berusia setahunan menggunakan bawang merah ketika si anak rewel enggak selesai-selesai.  Setelah dikerok menggunakan bawang merah, bisa istirahat dengan tenang dan enggak rewel lagi. *jadi my baby waktu itu sedang masuk angin?
Sengaja niich, browsing di google mencari-cari kerokan, manfaat, bahaya dan efek sampingnya ternyata kok ada juga bahayanya siiich? hm.... coba dech sekalian saya tulis untuk para sahabat blogger ya...
Khasiat Kerokan
Kerokan dinilai ampuh untuk mengusir masuk angin. Angin yang masuk ke dalam tubuh biasanya membuat tubuh menjadi pegal dan nyeri. Pengobatan dengan dikerok ini sangat manjur hingga keluar jawa dan akhirnya keluar negeri lho... dan pengobatan tradisional seperti kerokan tersebut dipercaya sebagai bukti teori Einstein (E=MC2) yang menerangkan bahwa energi muncul karena pergesekan dua benda.
Tubuh digosok menggunakan benda tumpul---> panas meningkat---->pembuluh darah melebar---->oksigenasi ssemaikin baik----> peredaran darah lancar---->nyeri dan pegal berkurang.
Untuk point di atas saya engeh *dan rada paham akan logika kerokan, baiklah teruskan aktivitas kerok-mengerok.
Bagaimana mengerok yang baik? 
Ternyata ada juga yang membahas cara kerokan yang benar, jadi enggak asal kerok-kerok punggung ya. Diambil dari berbagai sumber dan diolah dengan pengalaman pribadi.
  1. Siapkan balsem, minyak angin dan koin.
  2. Lumuri punggung menggunakan balsem
  3. Mulai dari punggung kanan dan kiri baru kemudian tulang ekor yang memisahkan punggung kanan dan punggung kiri.
  4. Lebih baik posisi yang akan dikerok adalah duduk, kalau terlentang takutnya tertidur
  5. Arah kerokkan mengikuti tulang rusuk, berbentuk melengkung
  6. Koin dimiringkan dan ditekan kuat-kuat dan berulang, tidak bolak balik hingga menghasilkan tanda kemerahan
  7. Setelah selesai punggung kanan dan kiri, lumuri punggung menggunakan minyak angin.
Bahaya Kerokan
Memang dituliskan bahaya kerokan tidak langsung, namun dikemudian hari namun tidak begitu berat.
  1. Mengakibatkan kontraksi dini. Bagi wanita hamil lebih baik tidak mengunakan pengobatan tradisional kerokan. Kerokan melepaskan prostaglandin yang menyebabkan kontraksi pada rahim.
  2. Masuknya virus dan bakteri. Setelah dikerok kulit tubuh akan meradang dan pori-pori terbuka. Hal ini akan memudahkan virus dan bakteri untuk masuk kembali ke dalam tubuh.
  3. Sebagian besar akan merasa ketagihan saat dikerok dan akan melakukannya lagi jika terserang masuk angin atau badan pegal dan nyeri. *ting, bener kaaan?
Hm... semoga kedepan saya mampu menelaah secara ilmiah mengenai kerokan *whaaaat? saya? namun yang baik, sesuatu jika berlebihan adalah tidak bagus. Kerokan boleh tapi jangan terlalu sering. Nah, mengapa judul tulisan ini adalah Kerokan Satu Tanda Cinta?

Setelah menyelesaikan pengobatan kerokan, satu kecupan mendarat dan ucapan terima kasih serta janji untuk melakukannya sampai renta nanti terlantun. Memang kesannya begitu doang, tapi kalau memang males untuk ngerokin pasangannya, siapa lagi? tukang pijat? ibu mertua? kalau istrinya bisa, kenapa harus dua orang tersebut? ahihiii.

Referensi :

12 comments:

  1. tapi jangan sering2 kerokan, mak, ntar pori2nya terbuka lebar dan jadi mudah masuk angin. Kerokan terus, deh.

    ReplyDelete
  2. Kalo saya gak pake koin lagi mbak, pake sedotan yg bekam itu loh, jadi nggak pegel2 lagi tangan kita.. :D

    ReplyDelete
  3. Mak Leyla : Iya niich, paling kalau emang dah pegel baget aku olesin minyak angin saja sambil dipijit2.

    Mba Rini : Belum pernah nyoba bekam aku Mak...

    ReplyDelete
  4. Aku nggak suka kerokan. Sakit rasanya.

    ReplyDelete
  5. saya dulu sering kerokan, tapi sekarang enggak lagi, karena gak ada yg ngeroknya hehehe

    ReplyDelete
  6. Banyak yg suka, bnyk jg yg ndak yo mbak.. Hehe..
    Memang pengobatan, apapun itu sepertinya akan selalu ada efek samping, walau ndak selalu kejadian setiap saatnya kan, wallahu'alam.. :-)

    Aku sendiri sih ndak pernah dikerok mbak, cuma kadang kecanduan sm pijit, hahaha..

    ReplyDelete
  7. Bunda Niken : sakit banget menurutku...aku sukanya diolesi minyak angin aja

    Mba Santi : heheee,

    Mba Thia : iyaaa...pilihan itu mah, Kloo yang udah kecanduaan pinginnya dikeroook mulu.

    ReplyDelete
  8. wadduh.. paling anti dengan kerokan.
    sakkiiittttt!!!!

    ReplyDelete
  9. Aku jg ga suka dikerok, Mak, selain sakit, juga meninggalkan bekas tak eloknya itu yang bikin ga nyaman. :)

    Kalo diurut, nah, suka bangeeeet! Biasa kalo dah masuk angin sih, aku panggil Mak Urut langganan, dan nikmat banget! :)

    Btw, artikelnya kereen, ilmiah gitu deh kesannya. Hihi

    ReplyDelete
  10. Jangan salah bu ...
    ini juga berlaku sebaliknya lho ...
    hehehe

    Suami juga harus bisa ngerokin istrinya ... bilamana istri sakit atau masuk angin ...

    (paling tidak itu yang selalu diminta oleh istri saya ...)(dia nggak bisa dikerokin orang lain selain oleh saya ... )(hahaha)

    Salam saya Bu

    ReplyDelete
  11. dan satu lagi ...
    saya suka dikerok ...

    itu rasanya "endang bambang" bouw ...
    enak banget ...

    hahaha

    salam saya lagi

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...