30 Jan 2014

Perempuan Bersahabat Dengan Internet


Perempuan, itu aku.
Perempuan memiliki sifat keingintahuan yang tinggi, segala hal ingin sekali ditanyakan oleh si perempuan, baik masalah dalam keseharian ataupun masalah yang paling pelik. Perempuan memiliki potensi diri yang lebih besar dalam hal rasa ingin tahu, mungkin karena perempuan saat ini memegang peranan hampir di semua bidang. Perempuan diharapkan mampu menangani berbagai hal, terlepas dari pendidikan dasar yang dimilikinya.

Perempuan itu aku, aku yang penuh rasa ingin tahu dan ingin segera mencari tahu jawaban atas apa yang ada dipikiranku. Masa aku kecil, aku bisa bertanya kepada ibu atau bapakku dan mereka mampu menjelaskan apa yang ingin kutahu, terbatas pada pengalamannya. Beranjak dewasa, perkembangan dan masa juga berubah dengan cepat. Aku menjadi gemar memasak dan menyukai bidang kepenulisan, memasak aku masih dapat bertanya kepada ibuku.
Hasil Ubek-ubek internet, sebagai kado untuk ibu mertua

Internet, salah satu perkembangan teknologi yang memudahkan perempuan.
Masa sebagai serorang mahasiswa di tahun 2000, aku baru mengenal era internet. Mungkin terlambat sekali ya? Itupun aku belajar dari kakaku yang juga baru menggunakan internet. Kami sama-sama belajar menggunakan internet di warnet depan kampus. Pengetahuan pertamaku dengan internet adalah penggunaan email.

Ternyata, dengan internet yang menggunakannya harus mengeluarkan uang tersebut, aku bisa melakukan apapun. Dengan email, aku mampu memangkas kertas dan perangko untuk mengirimkan sebuah kabar dengan temanku, dengan catatan dia juga terlebih dahulu sudah memiliki alamat email juga. Saat itu, muncul pro dan kontra penggunaan internet pada lingkungan internal kami. Ada bahaya yang menghadang kita yang aktif dengan internet.

Dulu, sebagai mahasiswa baru,mungkin akalku masih pendek dan mengeksplorasi internet tidak jauh dari email. Namun sekarang tahun 2014, pemikiranku akan internet berubah drastis. Apalagi sejak tahun 2012 setelah aku mampu membuat blog secara otodidak di tahun 2010 dan aktif kembali mengisi blogku setelah menemukan Kumpulan Emak Blogger. Komunitas yang beranggotakan para perempuan yang disapa dengan Emak tersebut, kutemukan saat aku berinteraksi lebih sering dengan internet.

Perempuan dan internet tidak bisa dipisahkan, tidak bisa dijauhkan.
Saat ini, Internet adalah sahabatku, dengan internet aku bisa bertanya apapun. Kemandirianku juga atas peran internet yang mungkin lebih dekat denganku daripada suamiku. Bisa begitu ya? Itu karena aku tidak perlu menunggu suamiku mengangkat handphonenya, aku bisa langsung menggeledah internet sekian detik jika ingin bertanya cara mengusir virus di komputer kantorku.


Aku juga mengenalkan internet kepada anakku, tentunya batas untuk belajar

Internet tidak mungkin dipisahkan dariku, dari seorang perempuan yang haus akan informasi dan pengetahuan. Kumpulan Emak Blogger mempertemukan aku dengan para perempuan hebat pada bidangnya. Mereka menjadi inspirasiku untuk senantiasa aktif dengan blog yang telah aku buat. Tidak hanya untuk blog, namun aku menemukan hobiku dengan bertemu mereka. Hobi tersebut sebenarnya telah ditekuni oleh ibuku sejak dahulu, baru saat aku tinggal jauh dari ibuku, aku menyukai merajut. Kemana aku belajar? Internetlah yang menjawabnya, aku berguru pada internet dan pada teman-teman di Kumpulan Emak Blogger
Aku bertemu dengan Mak Iprih (salah satu anggota KEB) yang mensupportku belajar merajut.
Salah satu hasil kreasi otodidakku, belajar dari internet

Kini, aku tidak perlu khawatir lagi akan bahaya internet. Aku berusaha memaksimalkan penggunaan internet dengan bijak dan sehat. Dengan pemikiran bahwa teknologi berkembang adalah untuk mempermudah segala sesuatu, tentunya dipergunakan dengan baik dan tidak disalahgunakan. Hampir setiap hari aku bersama internet. Internet adalah sahabatku, yang tidak mungkin dipisahkan dari seorang perempuan. 

FP KEB

TWITTER KEB

27 Jan 2014

Ketika Anak Bermain Di Luar

Setiap anak-anak identik dengan bermain dan bermain,
Pemikiran seorang anak dijalin dengan natural,
Tingkah anak sejuta makna,
Dengarkan, lihatlah dan temani mereka.

Temani mereka, temani anak-anak ketika bermain. Baik kala bermain sendiri maupun bermain bersama teman-temannya. Faiz, anak ku yang jagoan bermain di luar rumah hari Minggu kemarin. Aku biarkan bermain bersama teman depan rumah, aku beberes rumah hingga bisa menyelesaikan pukul 11.00. 

Tidak begitu saja aku biarkan Faiz bermain, kadang beberapa menit aku longok ke rumah temannya. Aku pastikan semuanya baik-baik saja, menjaga agar hal ayng tidak diinginkan tidak terjadi, namanya anak-anak bisa bertingkah apapun (bukannya kita tidak percaya). Setelah mandi, aku lihat Faiz dan Rafa temannya berada di luar rumah, persis di depan carport Rafa. Aku sengaja berdiri tidak jauh dari mereka, ada ketika Faiz sedang beranjak dan menjauh dariku.

Sebuah peristiwa yang mencengangkan terjadi. Seorang anak perempuan, setahun lebih tua dari Faiz berlari ke arah Faiz dan melewatiku, membawa batu di masing-masing kedua tangannya. Aku tidak pernah berpikir untuk dilemparkan ke arah Faiz. Sejak tadi Faiz bermain bersama Rafa, dan Faizpun tidak ada tingkah ke si anak perempuan tersebut.

Tiba-tiba, satu batu dilepaskan dari tangannya dan mengarah ke Faiz, meleset. Aku tersadar, Faizlah sasarannya...aku teriak agar Faiz berlari dan menghindar, luput satu batu melesat hendak ke perut Faiz dan untungnya Faiz menghindar dengan berlari kecil. Tapi sayang batu itu masih bisa mengenai punggung kaki Faiz, Alhamdulillahnya bukan perut.

Emosi, mungkin iya...tapi aku masih berpikiran logis dan rasional. Aku gandeng anak perempuan itu untuk kupulangkan ke rumahnya (kebetulan sebelah rumahku). Sebelum memasuki gerbang rumahnya, si anak menangis histeris (hanya digandeng, tak ada suara aku memarahi dia, mungkin perasaanku yang bergejolak). Dari dalam rumah muncul tantenya, bertanya panik dan aku sampaikan bahwa dia melempar batu. Lah malah balik tanya si tantenya "Siapa yang melempar?"

Pyuuuh... si H melempar batu ke kaki Faiz, dan meledaklah tangisan histeris di dalam rumah. Seee...Faiz hanya melonggo berdua Rafa dan anteng diam di balik gerbang rumah rafa. Dalam hati, ummi tidak sudi kamu nanti disalahkan, ummi maunya meluruskan fakta dengan benar.

Aku kembali ke rumah dan terlihat si ibu dari H hendak masuk ke rumahnya, aku samperin dan said, "Bu, tadi H melempar batu ke kaki Faiz" nafasku kuatur sedemikian rupa agar tidak terlihat emosi. Hm...si ibu nampak menabung nafas dan keluarlah jawabannya "tapi enggak berdarah, kan?. Whaaaat? jadi kalau berdarah? kenapa dan kalau tidak berdarah kenapa? ini masalah membawa batu di kedua tangannya dan melempar secara tidak terduga ke anakku?

Si ibu menyampaikan, bahwa tidak mungkin si H melakukan hal seperti itu. Si ibu bilang kalau H diprovokasi, tidak mungkin H berani melempar batu. Baiklah, aku tanya dengan PD, siapa yang memprovokasi? dia menyebut si B. Nyengir saja dech, ini menjadi pelajaran buat para orangtua yang gemar sekali meninggalkan anak-anaknya bermain di luaran, sendirian tanpa pengawasan orang yang lebih tua.

Ketika Faiz pulang dan bermain bersama Rafa, si ibu membawa si H ke rumah. Si H ingin minta maaf, baikkan ya... hm...aku pesankan untuk hati-hati jika bermain dan tak lupa aku mengingatkan kepada Faiz untuk hati-hati dan langsung lari saja jika ada anak membawa batu. Alhamdulillahnya Faiz enggak pernah dendam, hanya berceloteh bahwa ada anak kecil berani ya...melempar batu...hihiii, padahal si H itu lebih tua dari Faiz, tapi Faiz badannya memang lebih tinggi dari H.

Jadi, para ibu...bolehlah kita membiarkan anak-anak bermain sendirian di luaran atau ketika bermain di rumahnya untuk mengajarkan anak-anak kemandirian dan keberanian. Namun, alangkah bijaknya jika kita sebentar-sebentar untuk melihatnya, tidak usah terlalu dekat, cukup dari jauh memantaunya dan si anak tidak melihat kita. Karena anak usia dibawah 6 tahun belumlah memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri.

Satu cerita tambahan, sekalian titip curhat.

Minggu yang lalu, pada hari kerja (di suatu hari yang hujan) Faiz aku titipkan di rumah Rafa dengan embaknya, karena si embak di rumah sedang pulkam, aku bekerja dan suamiku bekerja, Alhamdulillah si ibunya Rafa yang menyarankan juga.

Pagi hari aku mengantar si Faiz ke rumah Rafa, tidak lama...si A (kakaknya si H dalam tulisan di atas) memanggil Rafa dan mau main di rumah Rafa. Pikiranku langsung kalut *hihiii...., benar juga.

Siang hari aku dikabari ibunya Rafa, bahwa si A mengamuk di rumah Rafa. Kronologisnya...adalah ketika Rafa main Ipad, dan Faiz main tablet, si A tidak diijinkan meminjam baik oleh Faiz maupun Rafa. Alasannya si A kalau minjam suka lama dan enggak mau gantian juga. Si A membisiki Rafa, agar si Faiz disuruh pulang saja. Hm...pinter banget ya? gemes banget aku..hihiii

Si embak mulai kesal, Rafa dan Faiz diminta masuk ke kamar dan si A mulailah mengamuk dengan melempar mainan Rafa dan membuang bekal makanan Faiz. Hm..tidak itu saja, si embak di cakar lengannya ketika akan menyelamatkan barang-barang yang hendak dilempar oleh si A. Terakhir, sandal Faiz di luar menghilang tanpa jejak, aku berbaik sangka kepada para pemulung, karena pemulung di cluster kami, disaring oleh si satpam. 

Jika si ibu kebetulan membaca blog ini, aku senang sekali cerita yang terakhir jadi sampai ke hati ibu. Aku ingin menyampaikan kejadian di rumah Rafa, tapi kebetulan aku tidak berada di tempat, kalau cerita di atas, aku melihat di depan mataku sendiri. Jadi aku saksi dari si H melempar batu dengan enaknya ke arah Faiz.

Semoga si ibu paham, aku blogger dan tujuanku membuat tulisan di blog adalah untuk menebarkan hal positif ke dunia, semoga dengan tulisanku yang ini, para orangtua, waspada dan tidak asal anak senang berada di luar, lantas asyik sendiri di dalam rumah.

Salam
Astin Astanti

25 Jan 2014

Sabtu Merindui Lelaki ini

Pejaman matamu, menarik hatiku ingin membangunkanmu,
Barusan tadi aku tertawa bersamamu, di sini di hati kita,


Manusia memang memiliki dua hal yang selalu beriringan. Ketika diberikan sebuah kesempatan bersama, kadang enggan untuk mengakui, walau hanya memandang dan menikmatinya. Ketika sepi melanda...rasa mengharu biru menjadi gundah gulana dan bilang alam tidak adil. Hm...itu aku,

Aku yang bilang merindumu ketika kamu terlelap,
Aku yang mengacuhkanmu ketika kamu mengajakku tertawa.

Dua kali hari Sabtu, kamu selalu ada di sini, menemaniku di ruangan kantorku,
Hari ini, Sabtu yang lumayan cerah, aku lalui hanya sendiri berangkat ke kantor.

Dua kali hari Sabtu itu, aku bilang...jangan berisik, jangan lari-lari, jangan macam-macam, jangan berantakin kantor ummi.
Hiks..sekarang, aku benar-benar merindumu, merindumu di meja kantor ini, di depan monitor ini.


Dua kali hari Sabtu itu, sabtu pertama si embak sakit dan kamu menonton thomas dari youtube. Sabtu kedua, si embak pulang kampung, kamu kembali ikut ke kantor ummi sembari berjas hujan, kamu tetap ceria.

Sabtu ini...ketika cerah, aku merindumu, aku mengingatmu dua kali sabtu itu, anakku sayang...setiap hal darimu, menjadikan pelajaran untuk ummi. Terima kasih untuk semuanya ya...kamu, ladang untuk ummi senantiasa belajar, belajar dari kehidupanmu.

Dan rindu di hari sabtu ini, aku mau kamu di rumah juga mengingat yang terindah dari kita. I Love U, anakku, Faiz...ummi selalu merindukanmu, tidak juga di hari sabtu ini, namun setiap detik dan setiap hari...rindu ini untukmu. Namun, untuk hari Sabtu, adalah terspesial karena kamu beberapa kali ikut ke kantor..adalah hari Sabtu...Sabtu yang merindu.

Lelaki yang kurindu di Sabtu Merindu


GA Sabtu Merindu
Salam rindu dari ummimu,
Astin

Mengoptimalkan Waktu Bersama Anak

Sepagi ini matahari telah berkisah,
Aroma basah tanah masih kentara,
Menyibak sisi lelapnya semalam,
Mendapatkan nyala semangat go to #SB2014 on KEB

Alhamdulillah, hari ini aku lebih lama berinteraksi dengan anakku, Faiz. Kadang memang rutinitas sebagai ibu rumah tangga, istri, ibu, karyawan dan makhluk sosial harus pintar-pintar terbagi secara rata *sedikit lebih porsinya untuk salah satu status sebetulnya.

Beberapa hari belakangan ini, porsi untuk bocah bernama Faiz, rada berkurang. Pagi-pagi aku harus melawan morning sick dan bergelut bahwa aku harus bisa menyajikan menu makanan untuk suami dan anakku, juga untuk aku tentunya. Setelah menyelesaikan rutinitas rumah, Faiz sudah membaurkan diri bersama teman-temannya di luar. Hm...bukan waktu yang tepat pastinya untuk bermanja berdua bersama Faiz.

Semalam, aku sempat berteriak di dalam hati, aku ibu seperti apa? yang kadang dicueki Faiz yang lebih asyik bermain truk dan robotnya. Kadang aku yang menampik untuk membacakan dongeng ketika Faiz membawa buku bacaannya, ummi ngantuk. Hm...maafkan ummi, Nak, sekarang kamu sudah semakin besar dan sudah tidak lagi -ngelendotin- ketika ummi sedang mengupas wortel atau membantu ummi mengganti sprei.

Faiz sudah semakin beranjak besar dan saatnya ummi harus memprioritaskan kamu dengan lebih. Kapan lagi waktu untuk bersamamu saat kanak-kanak ini, dua, empat, enam tahun lagi...kamu akan memilih bersama teman-teman dan kegiatanmu. 

Iyaaah...waktu kita adalah ketika hendak berangkat tidur dan bangun tidur yang sangat intim. Ummi senang sekali bangun pagi tadi, kita sempat ngobrol. Sudah lama kamu enggak ngelendotin ummi, sudah lama kamu asyik dengan mainan-mainan dan sibuk dengan teman-temanmu.

Makasih ya, Nak. Meskipun ummi melambatkan untuk berangkat ke kantor dan memilih untuk memandangmu lebih lama sembari becanda, ummi puas sekali. Pesanmu agar ummi di rumah saja dan tidak bekerja, masih ummi pertimbangkan berdua dengan abimu. Ada sisi psikologis mengapa ummi harus bekerja, Nak, suatu saat nanti, kamu akan mengerti.

Menjadi sempurna itu, rasanya terlalu melebihkan buatku, namun berusaha menjadi selalu lebih baik dari waktu ke waktu, adalah sebuah proses yang dilakukan dengan penuh cinta. Untuk waktu yang berkualitas, dibutuhkan sebuah kerelaan untuk melepaskan diri dari riuhnya peran pribadi. Waktu yang berkualitas untuk Faiz, adalah ketika ummi dan Faiz sama-sama berada di waktu yang bebas, bukan ummi dengan pekerjaan dan bukan faiz dengan mainannya. 

Salah satu kebersamaan ketika membawa Faiz ke kantor


Hubungan kami-senantiasa baik, meskipun kadang ada tangis Faiz, namun pelukan setelahnya

Tentunya sangat banyak waktu-waktu tersebut, bisa di rumah, bisa di jalan, bisa di sebuah tempat ataupun ketika melakukan liburan. Hm...sayang Faiz, selalu kuat, selalu sehat dan semakin bertambah akal yang baik ya, Nak. Doakan selalu ummi, abi dan semuanya untuk dipanjangkan usia agar senantiasa mengiringi perjalanan hidupmu melukiskan indahnya duniamu. I Love U, Faiz.

Salam
ummi astin


24 Jan 2014

Mendapatkan Kado Terindah

Di pagi yang hujan, dingin tak berselimut tebal...
Jemariku melentik pada keyboard di sini....

Alhamdulillah, aku masih bisa beraktivitas seperti biasa, meskipun hujan dan gundah gulananya hati merajam menjadikan pilu dalam mendung. *ops tyash...lidahku jadi kelu. Yup, beberapa hari, em..mungkin bulan ya, jemariku tak menuntaskan pikiranku yang mengebu ingin meng-up date Tanti's Story, kenapa siiich?

Ehem...sebenernya gak cuti-cuti amat nulis di blog, aku sedang asyik menuliskan apa yang kurasa hari-hari ini, di blog berwarna pink...emping, hihii di cerita kehamilanku. Iya...awal-awal kehamilan ke dua yang kualami tidak semudah kehamilan pertamaku, jadi ya..rada spesial bawaannya.

Nah, Kado kebahagian dipenghujung tahun 2013, tentunya dikabarkan oleh dokter bahwa aku sedang mengandung, Alhamdulillah seneng sekali. Akupun sangat paham akan konsekuensi-konsekuensi yang akan mengikuti hari-hariku. Aku masih berstatus sebagai karyawan, aku harus mengkondisikan bahwa aku harus senantiasa sehat, aamiin. 

Konsekuensi yang paling membutuhkan perhatianku adalah *pengertian untuk Faiz dan tentunya untuk blogku yang berjalan di mana-mana. *berjalan? hihiii. Rasa mual sangat menyiksa ketika berlama-lama duduk, meni bisa nulis sembari jalan-jalan...hihiii.

Kado kebahagian selanjutnya adalah ketika sedang melakukan perjalanan pulang dari Jakarta menuju Tangerang menggunakan Commuter Line yang sumpek, penuh dan pyuuuh enggak bisa gerak. Iseng baca notifikasi di Fb by Smartphone *kebetulan aku duduk. Whaaat...senyum-senyum dewe dan narik nafas panjang ketika Om NhHer memasukkan tulisanku dalam The Nine From "Caring Emerald"

Namun sayang pasword wordpress ku kembali terlupa, jadi komentar yang kutuliskan pada postingan beliau, tidak berhasil masuk dan sebelum aku memberikan berita kegembiraanku, morning sick menyerang...Mohon maaf Om. 

Lantas, kegiatannya apa untuk menahan mual pada jam-jam tertentu? main sudoku dan hitung-hitungan, entah aku suka sekali yang berhubungan dengan angka-angka. Melihat angka rasanya hidupku itu menjadi tenang dan mualnya sedikit berkurang, apalagi angka pada lembaran berwarna merah bergambar bapak Sukarno-Hatta. Hihiiii, untungnya kok aku sedang tidak gemar belanja, Alhamdulillah penyelamatan lembaran-lembaran itu menjadi aman.

Kado kebahagiaan selanjutnya, masih di bulan Januari 2014 adalah hari ini. Hm...jika dipikir-pikir, sepertinya kado kebahagiaan itu setiap hari aku dapatkan siiich (takut ngilang-ngilangin..hihiiii...setiap nafas ini adalah kado kebahagiaan terindah dari Allah, melihat suami dan anak yang sehat...kado kebahagiaan luar biasa juga). Hmmm.

Kado kebahagiaan dikabarkan dari rekan-rekan blogger, namaku masuk dalam 50 besar nominasi SB2014 dari KEB. Subhanalloh, Allah benar-benar tepat memberikan kesempatan ini untuk aku. Di saat sedang berjuang melawan morning sick pada waktu-waktu yang tidak tepat, undangan mak Myra ke group SB2014 menjadi warning. Aku harus melawan apa yang dikatakan orang *bawaan bayi...ach aku enggak percaya, hihiii dengan sedikit pusing...tulisan ini bisa panjang juga..hihiii, hup...meskipun sering ditinggal untuk jalan-jalan dulu, menghilangkan mual.

Untuk rekan-rekan blogger seantero dunia, terima kasih untuk semangat kalian yang menginspirasiku untuk tetap menulis, menulis dan mengabarkan kepada dunia berbagai hal yang positif. Terima kasih kepada Om NhHer dan seluruh jajaran panitia SB2014 untuk kado kebahagiaan ini. 

Salam
Astin

15 Jan 2014

Kapan Aku Menikah?

Menunggumu adalah sesuatu yang pasti, aku percaya janji Allah.

Mungkin kalimat itu mampu menenangkan hatiku pada waktu itu, hati yang kadang merasakan ingin segera menikah seperti teman-temanku. Hati yang kadang menerka dan menebak siapa gerangan insan Allah yang dijodohkan denganku. Hati yang kadang berharap dia yang kuukir namanya di hatiku, menjadi salah satu nama yang tertulis dalam setiap doaku. 

Usiaku tak lagi muda ketika aku berada di kota Jakarta, 25 tahun. Sosialisasiku dengan rekan satu profesi, yang kebanyakan masih "single is happy" karena memang pekerjaan ini sangat mengasyikan ketika masih sendiri. Tapi kabar dari teman SMA, dari teman kuliah, dari teman kecilku yang telah membina sebuah keluarga cukup mengusik hatiku. Aku kapan? kapan aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk menyampaikan kepada ibu dan bapakku, bahwa akan ada seseorang yang melamarku.

Sahabatku menikah dengan gadis pilihannya, aku sangat bahagia dan dia bertanya kapan aku akan menikah. Akan menikah? yang dekat saja hanya teman-teman biasa, akupun merantau dan tidak ada yang berani mengenalkan aku dengan lelaki rekomendasinya. Hiyaaah... di sinilah aku diuji oleh Allah. Aku menyerahkan semuanya pada Allah, benar dengan kalimat di atas tadi. Satu persatu datang dengan tegas ingin menikahiku, salut dan inilah saatnya, aku ingin menikah dan ada yang akan menikahiku. Jadi segera menikah dooong? 

Hihiiii, awalnya ingin aku ceritakan lelaki yang mengajakku menikah dengan detail, tapi cukuplah aku yang menyimpan semua itu. Namun sebuah jawaban dariku membuatku kaget sendiri dan bagiku itu bukan sebuah hal yang menyakitkan untuk mengatakan "Aku tidak bisa". Jawabanku adalah "Aku akan menikah dengan seseorang, sebentar lagi, maaf ". Dan saat itu, belum ada lelaki yang telah melamarku, sempat khawatir dan takut bahwa ini adalah kebohongan.

Namun Allah memberiku ketenangan, ada dua lelaki dalam satu waktu yang mengutarakan niatnya untuk menikahiku. Mereka sama-sama aku kenal baik dan mereka juga sangat baik, mereka seniorku dalam pekerjaan ini. Mereka cukup sabar dan dari segi akhlak ke duanya bisa dipertimbangkan. Sebuah ujian yang cukup berat, memang terlihat seperti akan memilih *gaya banget ya? tapi ya...sebuah keputusan harus kuambil dan aku tidak ingin berlama-lama berada dalam keadaan yang tidak pasti.

Dalam bulan suci Ramadhan, waktu yang sangat tepat untukku menyerahkan semuanya kepada Allah. Satu malam, aku terbangun dan mendirikan shalat malam serta shalat istiharah sembari mengatakan hajatku, untuk dipilihkan satu diantara dua lelaki tersebut. Aku mengirimkan pesan singkat berisi hadis yang aku terima dari seorang dokter, dokter tersebut senang mengirim pesan berisi hadis dan Ayat Allah. 

Hanya ada tanggapan dari satu lelaki, yang iyaaah...Allahlah yang memilih. Allah memberikan sebuah tanda dan Allah-lah yang akhirnya menguatkan aku untuk mengabarkan kepada orangtuaku, bahwa akan datang keluarga si A pada saat lebaran nanti. Usiaku 26 tahun ketika menikah, satu tahun dari aku menyerahkan kepada Allah dan berikhtiar serta tidak mengikuti emosi untuk mengatakan bahwa aku siap menikah. Allah Maha Tahu dan Maha Menentukan kapan waktu yang terindah untukku untuk menikah.




Alhamdulillah, doaku saat ini, panjangkanlah jodohku bersama lelaki pilihan-Mu ya Allah. Berikalah petunjuk-Mu, agar aku selalu menjadi pendamping yang sabar bagi lelaki yang kini menjadi suami dan ayah dari anakku, aamiin.