25 May 2014

Mengecilkan Foto Menggunakan Paint

Kamu pasang foto apa siiich di blog? buka fotonya lamaaaa banget. Suatu ketika di sebuah malam, ketika suamiku membuka blogmu via smartphonenya. Walaaah, ternyata dia kepo juga sama blog aku, heheee...penggemar rahasia yaak.

Daaan, emang gitu, aku pun merajuk dan terlanjur mengeluh hingga meminta saran. Kalau mau upload foto di postingan itu laaama sekali. Nah, malahan dijawab, kaaan bisa diresize...dikecilkan dulu, biar blognya juga enggak berat. Caranya gimana? kemaren nyoba pake compres tep saja, dan malam itu enggak ada praktek cara mengecilkan ukuran foto, aku juga malas buka laptop, saran suamiku di beberapa software bisa kok.

Naaah, daripada enggak jelas, karena pagi ini aku ingin memposting artikel untuk lomba, aku googling (menyempatkan) demi eksistensi di dunia perbloggeran, tjshaaaah. Yupppi...ada siiich cara yang paling mudah meskipun awalnya aku ragu...yaaa better laah.

Di sebuah situs bernama, CaraPedi.com akhirnya aku menemukan link yang bisa aku ikuti dengan mudah *maklum, emak-emak yang lagi mikir berapa hari aku ngabisin cabe merah sekilo yang dibeli suami.

Caranya juga gampaaang sekali, dan enggak kudu ngedownload ataupun menginstal software apapun, aku sich enggak ngerti dan paham, apakah ada perbedaan jika enggak pake software khusus yaak. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Buka foto yang hendak di resize, klik dua kali
  2. Letakkan kursor pada foto, kemudian klik kanan, pilih Open with--> paint
  3. Terbuka paint, klik resize
  4. Lalu sesuaikan dengan kebutuhan,  ooo yang ini kudu memilih sendiri aka kira-kira yaak.
Naaaah, kalau paint kan di setiap PC atau laptop ada semua, enggak kudu instal lagi, tapi penasaran juga dengan hasil yang pake software, mungkin lebih bagus kali yaaa.

That's, thanks CaraPedia.com untuk artikelnya.

Salam
Astin

23 May 2014

Aku Anak Sehat, Tubuhku Kuat

Menulis judul Aku Anak Sehat, Tubuhku Kuat...kok jadi ingat sebuah lagu jaman aku masih digendongan ibuku yaaak, lagu hampir 30 tahun yang lalu selalu dinyanyikan...sebentar, aku googling duluh, kalau perlu tanya ibuku.

Aku anak sehat, Tubuhku kuat
Karena ibuku,  rajin dan cermat

Semasa aku bayi, selalu diberi ASI
Makanan bergizi dan imunisasi

... ... ... ...

(Lagu Posyandu)

Naaah, lagu yang berjudul Anak Sehat ini menginspirasiku untuk membuat sebuah cerita, "bagaimana anak Indonesia berkarakter hidup bersih, sehat dan mandiri", tentunya tidak terlepas dari beberapa kata dari lirik lagu di atas. Aku sebagai seorang anak dan seorang yang mendampingi anak, tentu harus memperhatikan hal tersebut, kan.

Anak sehat berawal dari keluarga yang sehat

Mengapa demikian? karena keluarga yang sehat akan membentuk kepribadian dan pemikiran untuk anak, bahwa hidup sehat itu perlu. Anak akan mengupayakan untuk mengikuti arahan dan bimbingan serta mengikuti keluarga yang menerapkan hidup sehat. 

Sebuah kalimat yang hingga kini masih selalu aku ingat, berasal dari bapakku. Seorang PNS pada jamannya, dengan empat orang anak dan mengijinkan ibuku menjadi full mother at home. Apa katanya?
"Pemenuhan kebutuhan dilihat prioritasnya ya, Mba. Pengobatan-jika sangat diperlukan itu yang didahulukan, ke dua adalah asupan pangan yang sederhana dan ketiga pendidikan, kebutuhan lainnya setelah tiga kebutuhan tersebut terpenuhi"

Aku percaya, membentuk anak yang sehat sangat bergantung pada contoh yang diberikan dari dasar, yaitu keluarga. Mengapa? sejak kecil anak bersama orangtua dan penanaman yang sangat melekat adalah sifat dan sikap dari orangtua. Jika orangtua memberlakukan dan mencontohkan hidup yang sehat, Inza Allah anak akan mengikutinya.

Beberapa hal yang dilakukan oleh ibuku, terutama karena beliaulah sumber asupan makanan di rumah adalah menyiapkan sajian masakan ala rumahan yang sederhana. Sesederhana bapak juga yang mencontohkan kepada anak-anaknya untuk bangun pagi, jalan pagi di depan rumah dan memberikan jarak yang tepat ketika membaca buku atau di depan komputer. Tidak terlepas asupan rohani untuk membekali diri, bergaul di luar rumah adalah kunci kesehatan yang utama untuk keluarga sehat.

Keluarga sehat mengacu pada hidup bersih

Kebersihan Adalah bagian Dari Iman

Ketika masih sekolah, sering sekali ya, membaca sebuah slogan tersebut di dinding sekolah. Kebersihan adalah bagian dari iman, mungkin lebih luasnya lagi, kebersihan membantu lingkungan menjadi sehat dan berkualitas.

Alhamdulillah, aku boleh bangga dengan apa yang dicontohkan oleh keluargaku, memang bukan istana ataupun rumah dengan bentuk istimewa serta perabotan yang lux yang dulu kami tinggali. Namun, ibuku senantiasa memberikan sebuah kalimat.
"Meskipun rumahnya kecil, enggak bagus tapi kalau tertata dan bersih, kan enak, nyaman dan sedap dipandang orang"
Heheee, dan kalimat tersebut menjadi kalimat andalan buat suami dan anakku, yiiipppiiii, tuh kan sebetulnya guru dari aku menjadi seorang wanita tidak lepas dari ibuku sendiri, gak usah mencari les menjadi istri atau ibu, seorang wanita sudah belajar dari pengalaman dan dari apa yang dilihat semenjak kecil. Jadi, keluarga adalah yang utama, lagi-lagi perlu sekali, keluarga memberikan contoh yang tepat dan baik****akan ditiru lhoooo, hayooo bersikap yang positif yaaa untuk keluarga kita.

Aku menjadi seorang istri dan ibu dari seorang anak sekarang, harus mau untuk mengajak anggota keluarga untuk hidup bersih mulai dari rumah. Dan itu semua adalah imitasi dari apa yang (lagi-lagi) ibuku lakukan untuk keluarganya.
  1. Membersihkan rumah adalah wajib untuk aku lakukan sendiri, dari teras, kamar tidur, kamar mandi, dapur hingga peralatan untuk sajian ataupun yang berhubungan dengan pemakaian sehari-hari anggota keluarga.
  2. Menyiapkan sajian makanan ala rumahan dengan bahan makanan yang sehat, bersih dan terjaga, yang disimpan dalam sebuah tempat yang (lagi-lagi) harus bersih, higienis dan sudah direkomendasikan (lagi-lagi) aku imitasi dari ibuku.
  3. Sudah menjadi kodrat seorang wanita yang sudah menjadi istri dan ibu, untuk memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak ataupun kesehatan suami. Tidak begitu saja memperbolehkan mereka untuk mengkonsumsi makanan dari luar yang sekiranya akan mengganggu kesehatannya.
  4. Bagaimana aku mengontrolnya? aku membawa bekal makanan ke kantor untuk makan siang, apakah aku saja? tidak kebetulan suamiku meminta sendiri untuk dibawakan bekal untuk makan siang, daripada membeli dari luar, lebih baik menyantap makanan istrinya daaaan...aku juga sudah menyiapkan wadah-wadah makanan terpilih untuk anakku kelak jika sudah bersekolah. Eiiits, kadang ketika sedang berpergian aku juga suka membawa bekal, apa saja misalnya makanan kecil, makanan padat dan tentu saja dalam wadah yang kupercaya. 





Inza Allah, dengan keikhlasan melakukan semua itu, anakku akan tumbuh sehat jasmani dan rohani, tubuhnya kuat karena ditopang dengan sajian makanan serta pengawasan yang selalu kulakukan. Jikapun anakku sakit adalah (lagi-lagi) karena virus flu dan bakteri yang menyebabkan batuk. Itupun harus diberikan sebuah pengertian dengan memberikan sebuah medianya, contohnya;
  1. Memberitahu bahwa jika ada temannya yang batuk dan tidak menutup mulutnya, hendaknya anak pergi menjauh dan jangan dulu bermain dengan yang sedang batuk dan flu misalnya.
  2. Jika sanga anak kita sedang batuk, hendaknya jangan bermain di luar rumah terlebih dahulu, hal itu akan membuat teman-teman tidak nyaman, karena namanya virus sangat mudah untuk menyebar.
  3. Jika menggunakan tissue untuk membuang ingus dari flu atau menutup mulut ketika batuk, hendaknya membuang pada tempat sampah yang tertutup, jangan meletakan sembarangan.
  4. Memberikan contoh untuk senang minum air putih, selain sehat air putih lebih murah dan bersih daripada meminum minuman lainnya.


Hidup sehat, hidup bersih berawal dari kemandirian semua anggota keluarga

Sebuah analogi di jalan raya yang ramai dan padat. Jika masing-masing pengendara bermotor tertib melajukan kendaraannya, tidak saling serobot, tidak saling mendahului, tentu kecelakaan ataupun hal-hal yang membahayakan serta pelanggaran kecil kemungkinan terjadi. Namun, jika ada beberapa pengendara yang mementingkan emosinya sendiri, bisa jadi tidak hanya membahayakan dirinya sendiri namun orang lain juga. Heheee, analoginya kejauhan ini, kenapa iniii?

Sama dengan tatanan keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak serta anggota keluarga lainnya misalnya ada si embak atau saudara lainnya tinggal di rumah tersebut. Jika satu anggota keluarga mengindahkan untuk hidup bersih dan sehat, tentu akan menjadi aneh sendiri, jika keanehan itu berawal dari tokoh anutan, contohnya ibu atau bapak, tentu akan menjadi berantakan sebuah kelaurga itu untuk dikatakan kelaurga yang bersih dan sehat.

Jadi perlu adanya niat dan keinginan dari semua anggota keluarga untuk melaksanakan hidup bersih dan sehat. Dari anak yang akan mencontoh bapak dan ibunya, seperti aku yang selalu imitasi dari ibuku dalam ahl membersihkan rumah, menata rumah, hingga memilih peralatan dan wadah makanan untuk keluarga.

Anak perlu diberikan contoh dan dibiarkan untuk mandiri melaksanakan apa yang mendukung agar hidupnya bersih dan badannya menjadi sehat. Jika boleh aku memberikan tips, bagaimana agar anak juga harus memiliki jiwa mandiri untuk ke arah sehat, begini;
  1. Selalu contohkan setelah masuk rumah dari berpergian, hendaknya mengganti baju dan mencuci anggota tubuh yang terkena debu, tangan, kaki dan muka.
  2. Sebelum makan, berdoa terlebih dahulu dan pastikan bahwa tempat yang akan digunakan untuk makan (meja dan kursi) bersih. Kalau peralatan makan, aku memepercayakan bahwa pirantinya adalah yang bagus dan dari bahan yang bagus, jika itu bukan pecah belah.
  3. Jangan paksa anak untuk membuang sampah di tempatnya, berikan (lagi-lagi) contoh dan sediakan medianya.
  4. Ceritakan bagiamana terjadinya sebuah penyakit yang ringan yang sering terjadi, ajak anak untuk menjauh dari sumbernya. Contohnya, makan-makanan ringan yang dijual di warung-warung, jika tidak tepat akan menyebabkan sakit pada pencernaan dan pernafasan karena bumbu-bumbunya sangat keras. Atau tidak mengkonsumsi air es terlalu sering apalagi membeli dari warung yang belum jelas, apakah yang digunakan adalah air matang.
  5. Ajak untuk memilih perilaku yang benar diantara banyak perilaku yang tidak tepat, contohnya, menonton televisi, nyamankah jika terlalu dekat? menyimpan makanan apakah memilih wadah terbuka atau wadah yang dilengkapi penutup sehingga makanan akan tertutup dari incaran nyamuk atau lalat ataupun kecoa.
  6. Melibatkan anak untuk menyajikan makanan bersama, bagaimana sebuah makanan yang sehat disajikan dan dibuat, serta mengapa bahan-bahan makanan tersimpan dengan bersih dalam wadah yang tentunya juga menarik anak untuk membantu di dapur. 

Aku percaya, berawal dari sebuah keluarga yang mencontohkan hidup bersih dan memberikan kemandirian kepada anak untuk melakukan yang baik tidak dengan paksanaan namun dengan memberi contoh, Inza Allah anak akan tumbuh sehat jasmani dan rohani dengan badan dan iman yang kuat. 
Pengalaman menjadi anak dari ibu yang mendukung anak sehat dari hidup bersih
Sebuah pengalaman pribadi aku melihat bagaimana ibuku menata dan menyajikan makanan sehat, bersih dan tidak cepat basi adalah menggunakan wadah makanan dan minuman yang menyejukan mata warna-warnanya. Akupun mengikuti apa yang ibuku lakukan dan mengecek, bahwa wadah makanan yang digunakan ibuku aman untuk kesehatan. 





Menurut yang aku baca, wadah tersebut dibuat dari bahan LPDE atau Low Density Polyethylene atau plastik tipe 4 dan dari bahan PP atau Polipropoline atau plastik tipe 5. Naaah, jadi tambah pengetahuan kaaan? plastik tipe 4 dan 5 itu apa siiich?
  1. LDPE atau plastik tipe 4,  kuat, tembus cahaya, sulit bereaksi kimiawi dengan makanan, jadi aman untuk menyimpan makanan.
  2. PP atau plastik tipe 5, bening dan transparan, daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik pada lemak,  stabil pada suhu tinggi, banyak direkomendasikan untuk wadah makanan dan botol minuman.
Jadi aku tidak pernah meragu untuk memilih wadah makanan yang seperti di atas, selain warnanya bagus, rumah menjadi bersih, bahan makanan tetap terjaga kesehatannya, aku, suamiku dan anakku nyaman dengan kehidupan kami yang berharap senantiasa diberikan kesehatan, karena kesehatan adalah awal mula dari sebuah keberhasilan dan kesuksesan.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Tupperware Indonesia

Karakter Hidup Bersih, Sehat dan Mandiri Anak Indonesia


21 May 2014

Pesan Tiket Kereta Api Online

Lebaran sebentar lagi, oooops puasa Ramadhan saja belum...hiya namun ingar-bingar saudara-saudara yang akan pulang kampung sudah begitu ramai, sebulan lalu. Iya, apa lagi kalau bukan untuk pemesanan tiket kereta api yang akan membawanya pulang ke kampung halamannya.Nonton beritanya di televisi sudah ramai dan baca berita di smartphone mampu mengusik perasaanku yang lembut...ciaaaeeeeh aku terharu booo, rasanya kek aku saja yang berebut, ngantri dan galau ketika enggak dapat tiket alias tiket sold out.

Hm...apa lebaran 2014 aku enggak pulang ke Cilacap seperti tahun lalu? yang pengalamannya aku tulis di Tiket Online Kereta Api Purwojaya... heheeee, iya sementara rencananya aku dan keluarga mungil dan imutku gak pulang kampung ke Cilacap pada waktu Lebaran...sebetulnya ini adalah giliran bapak dan ibuku untuk kutemani pas Idul Fitrinya. 

Namun, aku dan suamiku tetap merencanakan pulang ke Cilacap sebelum Ramadhan...eiyaaa lah, setahun sekali aku pulang ke Cilacap dan kebetulan ada beberapa hari libur yang enggak banget bikin seneng aku. Tralaaaa....ada yang tahu kan yaaak, masuk libur masuk libur dan aku pilih hari itu untuk mengambil cuti dan segera pesan tiket kereta api, ngantri? ya enggak laaah...kan sudah pernah by online, bayarnya waktu itu memang diberikan batas waktu tiga jam harus sudah dibayar di Alfa atau Indomaret terdekat. Daaan...untuk pembelian tiket online kali ini, Alhamdulillah teknisnya lebih mudah dan gampang sekali, mau tahuuu? siapkan tiker yaaak denger ceritaku.

Sebuah malam, suamiku memintaku untuk membuka situs tiket kereta api.co.id untuk memesan tiket karena plan A sepertinya belum bisa dilaksanakan, yaitu mengendarai mobil, hehee.  Saat anak yang cakep sudah bobo, aku mencari untuk tiket pulang sebelum Ramadhan, and...hari Sabtu full booked, coba senin kok ya nanggung, akhirnya melihat hari Minggu... masih ada beberapa yang bisa dipesan namun kelas eksekutif yang suamiku minati habis. Setelah memesan dan mendapatkan perincian pembayaran, aku bilang..harus ke Indo atau Alfa bi...eaaaa, ternyata di bawah ada beberapa pilihan pembayaran, mulai dari Debit, E-Banking, Via ATM, Via Indo atau Alfa dan Visa.

Tidak perlu beranjak dari tempat duduk untuk melakukan pembayaran adalah sesuatu buatku, karena pengalaman tahun lalu, di mana aku mengejar-ngejar waktu untuk menggugurkan limit waktu yang diberikan 3 jam. Hm....so PT Kereta Api Indoensia, semakin bagus kinerjamu, semoga selalu dilindungi oleh Allah yaaak, sukses selalu dan hari ini rencananya menukarkan bukti pembayaran yang sudah di print untuk ditukarkan menjadi tiket, tapi kok lupa yaaak? tenang, satu jam sebelum keberangkatan, masih bisa kok.

Semoga kemudahan fasilitas pembelian tiket juga diiringi kenyamanan dalam kereta juga yaaak, seperti pelayanan ketika berada di setasiun ketika sedang menunggu kereta datang, petugas pemeriksa tiket, hingga kepada bagian yang membersihkan kereta api. Faiz sudah enggak sabar untuk menikmati perjalanan menggunakan kereta api ke rumah uti, eaaa..seandainya ada penghubung setasiun Gambir dengan setasiun comutter line pasti lebih enak lagi yaaak, sayang di setasiun Gamir, CL enggak menurunkan penumpang.

Terakhir adalah impian untuk aku yang tinggal di Tangerang yang akan menggunakan kereta dari setasiun Gambir. Semoga pihak kereta api Indonesia, menyimaaaak.

Salam
Astin




14 May 2014

Bercinta dengan si Biru (Flash Fiction)

"Hai, bengong aja, kamu! mikirin apa sih nooon!!!"

"Gaaak..."

"Lah, tapi kok mpe mlongo ituh mulut? eh gimana ama si Didin?"

Haduuuuh, sikerempeng itu? gimana bisa aku falling in love? eh tapi kali aja apa yang kumau bisa dikasih sama si Didin itu yaaak...apa aku terima saja si Didin ini? gak apa kali yaak, gak butuh cinta juga keknya, kan aku cuma nerima Didin jadi pacarnya aja...tajirnya aja yang aku ambil..heheee...goood.

"Woooy...malah manggut-manggut!"

"Eits...tolong sampaikan ke Didin yaaa...aku terima dia jadi pacarku, nanti malam aku tunggu di belakang kebun Pak Sholeh" kataku sembari ngeloyor pergi meninggalkan si Diah.

***

Malam,

"Tapi ada syaratnya ya" tegasku pada si kerempeng Didin

"Apa, sayaang?"

Hadaaah...

"Aku minta ini...besok pagi udah ada di tempat tidurku, mamak ama bapak jangan mpe tahu ya, e...kalau mamak ma bapak pergi ke sawah ya" 

Hihiii, muka Didin terlihat sumringah ketika menerima sebuah gambar dan mengangguk-angguk mendengarkan permintaanku. Aku sangat ingin dan sudah mengharapkan lama sekali...semoga Didin yang baru jadi pacarku ini mau memberikannya buat aku.

"Pasti aku kasih Nyi...tenang saja yaak, aku tahu kamu belum pernah pegang juga kan? mamak ama bapakmu terlalu kolot ya? jadi gak memperbolehkan?"

"Enggak...kata mereka belum waktunya, tapi kenapa mas Mono sudah diperbolehkan uuunnntuu...., eh...sudah malam, nyamuknya banyak, aku tunggu besok pagi yaa...aku udah gak sabar loo Din!!!"

***
Pagi,

"Hoaaaaaam.....enak banget hari Minggu ini, mamak ama bapak bener-bener gak bangunin aku, eeh....eh...Didin?"

Aku melonjak turun ranjang, aku memastikan bahwa mamak ama bapak sudah pergi. Didin ada di kamarku, iya dia memang tinggal di sebelah rumahku, jadi gampang banget dia masuk. Dadaku berdetak tak jelas, Didin beneran mau kasih enggak ya? aku menarik tangan Didin yang disembunyikan di belakang badannya.

Haduuuh...

"Hayoo...sudah gak sabar ya?" Didin ngeledek pula. "Sabar ya, biar aku yang bukain..."

Didin membuka dengan perlahan, ini adalah moment pertamaku, ini sudah kuinginkan lama...iyaah Didin lama banget... waaaaah...mataku langsung terbelalak, itu yang kuinginkan...warnanya biru dan besaar, eh...

"Gimana niich...kok gelap?" tanyaku ke Didin

"Gini dooong...dipenceeet, naaah..."

"Waaah..nyalaaa...horeeeee aku punya Hape baruuuu...ini Nokiakan yaa? Didiiiiin makasih, i love you full"

Credit

"Niih, ini kartu garansinya, Nokia 3210 ...dibaca ya petunjuknya, ingeeet kamu kudu punya uang biar bisa nelepon aku" 

Aaach Didin, aku sudah enggak butuh kamu lagi, sudah ada si biru kekar ini, aku bakalan telepon yang lain deeech.

***

 Tulisan ini hasil imaginasi dan fiktif semata dan diikutsertakan untuk Giveaway Cerita Hape Pertama

***Itu Hape pertamaku, bapakku yang membelikannya. Hape itu sudah berkelana dari Cilacap ke Jakarta dan ke Yogyakarta, setelah itu ganti deeech dengan yang lain.

13 May 2014

Sebuah Keikhlasan Melepaskan Pekerjaan

Cerita mengenai ikhlas banyak sekali di sebaran internet bahkan di dunia nyata banyak sekali yang menceritakan tentang sebuah keikhlasan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keikhlasan berarti ketulusan hati, kejujuran dan kerelaan. yup, aku akan menggunakan kata kerelaan di ceritaku untuk Giveaway Mba Ade Anita. Seorang penulis novel yang menceritakan tentang Solasfiana dalam dua novelnya yang berjudul Yang Tersimpan di Sudut Hati dan Lukisan Hati. 

Tahun 2004 aku sudah mulai belajar untuk mencari nafkah, bagaimana rasanya memegang uang hasil jerih payah sendiri dan mengatur akan kemana uang tersebut. Ketika sebuah pilihan harus aku ambil pada tahun 2009 setelah melahirkan seorang putera yang sangat tampan, aku menulis surat berhenti bekerja dari sebuah perusahaan yang menurutku, itu adalah pilihan banyak orang. Namun, pemikiran akan sesuatu yang belum pernah aku alami membuatku mantap untuk mengirim surat tersebut dan clear aku resign dari perusahaan yang pernah membawaku ke Pulau Dewata Bali.

Hari-hari kulalui bersama anakku dan suamiku dalam hari penuh cinta dan kenyamanan. Yup, kenyamanan yang kadang memang terbersit sebuah pertanyaan, "Mengapa aku terlalu cepat memutuskan untuk resign" atau sebuah rasa yang aneh ketika aku melihat teman-teman di kantor tempatku bekerja mengupload foto-foto mereka berpergian ke Malaysia. Ach, seandainya aku tidak keluar, aku pasti berada di sana. Berkali-kali aku harus menepis dan jangan sampai penyesalan itu menghampiri lagi, aku ingin ikhlas dan aku pikir aku sudah ikhlas.

Ternyata sebuah kata "aku ikhlas" itu bukan jaminan rasa hati ini merelakan bahwa apa yang sedang terjadi benar-benar dikhlaskan. Jadi, intinya adalah menerima dan merelakan bahwa sebuah pilihan ada konsekuensinya, ada sebuah manfaat dan hikmah dari pilihan tersebut. 

Aku berusaha menanamkan dalam diriku, bahwa dengan aku keluar kerja dari sebuah perusahaan yang bagus, yang memberikanku banyak materi dan pengalaman, aku bisa mendampingi tumbuh kembang anak pertamaku, aku bisa mendengar jelas kata pertamanya, aku bisa melihat langsung langkah kaki pertamanya, aku bisa merasakan kegembiraannya melepas kain yang kupakai untuk belajarnya berjalan, aku bisa bermain sepuasnya bersama jagoanku, aku bisa melihat lebih dalam bahwa menjadi ibu yang stay at home adalah sesuatu yang sangat berarti, jika dijalani dengan ikhlas.

So, apapun bentuknya keikhlasan menjadi hal utama agar kehidupan yang akan dilalui menjadi tenang, nyaman dan dapat mengambil hikmah yang luar biasa. Kadang sebuah makna tak dapat diraih hanya tak ada kenyamanan yang mungkin, tidak ada keikhlasan menyertai apa yang dilakukan. Hm...semoga, keikhlasan aka kerelaan menerima dan menjalani sesuatu senantiasa menghampiri setiap sendi kehidupan ini.

Salam
Astin

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS






Tentang Sisi Konsisten

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata konsisten berarti tetap tidak berubah-ubah, selaras, sesuai. Dalam hal ini perbuatan hendaknya dengan ucapan. Jika ditambah imbuhan konsistensi berarti ketetapan dan kemantapan (dalam bertindak), jadi mana yang ingin kupakai? tetap konsisten dengan arti tidak berubah-ubah, yup mengenai perbuatan tentunya.

Nah, menjadi seorang pribadi yang memiliki tingkat konsistensi yang tinggi apakah sesulit menemukan jarum di tumpukan jerami? sesulit itukah? semoga enggak ya. Aku juga berpikir, apakah aku sulit untuk mengatakan bahwa aku ini konsisten dan tidak konsisten, takut ternyata aku menjadi abu-abu diantara konsisten dan inkonsisten. 

Padahal, dari kecil sudah terbiasa untuk belajar konsisten dan diberikan contoh oleh orangtua dan guru. Dari segi agama misalnya, aku diberikan contoh untuk mendirikan shalat lima waktu dengan konsisten, iya kan? sehari lima waktu dan jika ada yang tertinggal berarti aku tidak konsisten, hubungan dengan Allah sudah cukup untuk mengasah diri agar senantiasa konsisten. Dari segi pendidikan, aku diberikan gambaran oleh orangtuaku bahwa tugas dan tanggungjawab sebagai anak adalah belajar setelah orangtua memberikan kesempatan dengan memasukkan ke lembaga pendidikan. Jika mangkir atau jika lalai tidak belajar, berarti aku tidak konsisten, konsekuensinya aku tidak mendapatkan nilai yang aku harapkan kecuali, ada rejeki dapat contekan, hehehe.

Tentang Sisi Konsisten, mungkin di setiap hari aku sangat membutuhkannya, tidak hanya untuk shalat dan belajar, namun ketika kita menjalani sebuah peranpun sisi konsisten harus selalu dibawa, loh ya. Maksudnya? Peranku saat ini menjadi seorang ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah. Nah, apa yang dibawa dari peran tersebut seharusnya kulakukan dengan konsisten atau tidak berubah-ubah. Jelasnya, untuk urusan bangun tidur, urusan dapur, urusan menghandle anak aku ingin tepat waktu yang bisa dibilang konsisten kan? apa enggak?

Hm..jadi ya kalau bangun pagi pukul 04.00 subuh, ya begitu seterusnya dan rutinitasnya juga tetap sama agar selesainya juga sama. Manfaatnya pasti ada, aku bisa memperhitungkan jika harus pergi pukul sekian, aku bisa karena biasanya aku melakukan rutinitas pukul sekian. Sisi negatifnya? heheee...seharusnya mah kalau sudah peran dan dijalani dengan ikhlas tidak ada sebuah hal yang memunculkan sifat bosan yaaak?

Aamiiin, semoga istiqomah dan tidak ada lagi inkonsistensi lagi untuk sebuah peran. Kalau bosan itu manusiawi, mungkin bisa dicari trik dan tipsnya agar senantiasa kebosanan itu tidak menghampiri terlalu sering.

Salam
Astin

12 May 2014

Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga



Aku lahir dan besar dari seorang ibu yang stay at home, mendampingi empat orang anaknya, mengurus pekerjaan rumah mulai dari dapur hingga got yang tersumbat. Ibuku memang bukan memilih untuk stay at home untuk bisnis di rumah, namun beliau ada saja kreativitasnya untuk membuat beliau eksis dalam pergaulan sosial.

Hingga anak-anaknya telah dewasa dan waktunya untuk me time menjadikan kesempatan untuk menggerakkan bisnis ketrampilannya menjadi terbuka. Dulu mungkin penghasilannya belum terlihat, namun saat ini, saat beliau menjadi seorang nenek dari empat cucu lelakinya, beliau mendapatkan penghasilan dari kreativitasnya, itu sangat luar biasa.

Ibuku menjadi ibu rumah tangga selama hampir 35 tahun, tidak pernah duduk di belakang meja kantor untuk bekerja. Namun pemikiran dan pandangan ibuku tidak melulu terbatas pada masalah anak yang mogok mandi, harga bawang merah yang melonjak naik, tidak juga hanya sibuk memaku dinding atau menyapu halaman rumah.

Ibuku kuacungi jempol selalu membuka dan menerima wawasan dari dunia luar, ibuku seorang yang kreatif, beliau memiliki ketrampilan membuat kerajinan seperti bros, bunga, rajutan, taplak meja dan sebagainya, untuk segaram sekolah beliau yang membuatkan untuk anak-anaknya. Saat ini, ketika usianya hampir 65 tahun, ibuku aktif dengan whatsappnya, dengan facebooknya dan mungkin masih main game ketika tiga anaknya telah menikah dan memberikan cucu-cucu yang gagah.

Terlihat, tak ada penyesalan dalam matanya untuk mendampingi kami di rumah, ketika anak-anak belum mandiri, tak ada siratan untuk mencoba bekerja di luar rumah sekedar penat dengan aktivitas di rumah ketika anak-anak  masih membutuhkan tangan beliau, sekedar untuk menyetrikaan pakaiannya. Ibuku juga tak pernah mengeluh, menyodok saluran air yang mampet ketika bapakku masih sibuk di kantor. Semuanya dilakukan ikhlas dan tulus, tak pernah mendengarkan ibu-ibu sekarang yang mengatakan bahwa perempuan stay at home? gak punya penghasilan? kuper? ngabisin uang suamilah...seperti pembantulah, itu yang selalu kudengar saat ini ketika ada seorang ibu yang memilih stay at home.

Aku bekerja, memiliki asisten rumah tangga di rumah dan berusaha untuk tetap menjadikan si embak itu ya asisten. Asisten yang hanya membantuku ketika aku tidak berada di rumah, ketika aku berada di rumah...urusan rumah sebisa mungkin aku, mulai dari masak hingga memandikan anak. Kalaupun ketika aku sedang berhalangan, sakit atau terburu-buru berangkat ke kantor, ya aku minta tolong bukan menyerahkan, itu aku coba tanamkan kepada anakku untuk selalu mengatakan "minta tolong" ketika meminta dibuatkan susu atau membereskan mainan.

Semoga, para ibu yang memilih bekerja berpikir dan memandang lebih bijak kepada ibu yang memilih stay at home. Apapun pemikirannya apapun pilihannya untuk stay at home, semua itu adalah pilihan yang menyenangkan hatinya, yang membuat keluarganya nyaman.

Tulisan ini dibuat dari sebuah jawaban dari rekan yang membuatku tidak nyaman. "Kalau enggak kerja, gengsi kita turun, kita dipandang menghabiskan uang suami, gak asikkan kita gak punya uang sendiri?jangan ke luar kerja yaa" 



8 May 2014

Ekspresi Cinta Kakek dan Cicit

Sebuah perputaran waktu telah menajamkan pikiran, hati dan matanya
Namun senyumnya tak pernah hilang meski musim kering dan hujan silih berganti
Ketika kuberikan anakku untuk dipangkunya
Senyum itu sungguh melebihi rasa cinta yang dirindukannya
Ini, kakekku dan anakku



Di dalam foto tersebut, anakku dipangku oleh kakekku yang didampingi oleh nenekku. Hubungan aku dan kakekku, termasuk dekat. Dua tahun aku berada di Yogyakarta dengan beragam cerita dari pekerjaan hingga kapan aku menikah.


Kegirangan seorang kakek, tersenyum dan tertawa riang menyambut kedatangan kami, yang sudah pasti memang jarang sekali kami mengunjungi. Entah, pikiranku kala itu, aku sangat bahagia melihat ekspresi kakek memangku anakku. Usianya 85 tahun, genggaman tangannya tak sekuat dulu, namun cintanya sungguh tak mungkin aku lupakan.

Raut wajah bayi anakku selaras dengan cinta yang diberikan oleh kakekku, akan selalu dikenang oleh anakku hingga besar nanti. Alhamdulillah tahun 2014 ini, kakekku masih sehat namun kami belum mengunjunginya lagi, sudah 4 tahun kami tak bertemu. Foto ini akan selalu aku simpan, hingga nanti anakku menjadi seorang lelaki yang gagah seperti kakekku yang purnawirawan TNI ini, aamiin.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”




7 May 2014

Lindungi Anak Sejak dari Rumah

Judulnya terasa kek berat sekali, iya menulisnya juga rasanya berat sekali, meskipun sudah ngobrol dan sharing sama suami, tetep rasanya masih penasaran, karena ya aku belum mengalami melepas anak ke sekolah.  Jujur, ketika mendengar berita mengenai seorang anak yang.... aku langsung pindah chanel kalau melihat di televisi atau skip dulu, kalau beritanya aku baca di wa suami maupun wa aku. Aku enggak tega dan pertanyaan demi pertanyaan selalu terucap, kenapa kok gitu? kenapa masih ada? kenapa bisa begitu? yang salah siapa? yang seharusnya bertanggung jawab siapa? yang seharusnya memerangi siapa?

Aku dan suamiku, iseng membahas setelah ada berita (lagi) mengenai kasus kekerasan seorang anak SD oleh kakak kelasnya, dan terjadinya di Jakarta. Jujur lagi, aku takut sekali sebenarnya kami. Kenapa? beberapa kali kami melihat Faiz di bully ringan oleh anak-anak yang (mungkin) tidak seumuran dengan Faiz. Faiz sama sekali tidak membalas, Faizpun jarang untuk mendendam, setelah dipukul setelahnya masih mau bermain dengan anak tersebut dan bilang anak itu baik kok.

Iyah, Faiz kami itu baik meskipun aku, kadang geregetan hingga memberinya semangat untuk menampik jika ada yang suka mukul. Tapi yang sering ya... memberitahu jika ada anak yang suka mukul, lari saja, pergi jauh dari dia dan masuk rumah. Oleh karena itu, aku minta si embak pengasuh memantau terus Faiz kalau sedang bermain, kalaupun ada aku, aku juga harus selalu melihat Faiz di luar. Seperti cerita yang ini, silahkan dibaca yak.

Dari ngobrol ngalor ngidul dengan suami, ada beberapa point yang harus dipersiapkan ketika nantinya Faiz sekolah dan di luar rumah, contohnya seperti ini;
  1. Mendampingi anak ketika memonton film kesukaannya, meskipun kartun dan tontonan anak, sebagai orangtua wajib untuk menerangkan bagian mana yang bagus dan bagian mana yang boleh ditiru.
  2. Usahakan untuk mendengarkan apa yang anak ceritakan, bisa informasi dari televisi maupun dari luar rumah. Beri pengertian tentang apa yang telah diterimanya, orangtua sebaiknya menjadi pendengar yang penasihat atas informasi apa yang diterima si anak.
  3. Selalu bertanya kepada anak, mengenai aktivitasnya di rumah, bisa juga bertanya kepada pengasuhnya apa yang dilakukan anak kita
  4. Komunikasikan dan diskusikan bersama pasangan, fleksibelkan waktu untuk mengantar anak ke sekolah, jangan sampai sebagai orangtua tidak pernah mengantar anak ke sekolah. Tujuannya untuk memberikan kenyaman dan rasa percaya diri kepada si anak, bahwa si anak merasa terlindungi akan adanya pengaruh orangtua dalam aktivitasnya di sekolah.
  5. Buat hubungan yang baik dengan teman-teman anak kita di sekolah maupun di luar rumah, pstikan mereka menjadi teman yang baik untuk anak kita dan kita sendiri. Alasannya, jika ada sesuatu yang ingin kita tanyakan mengenai aktivitas anak kita, mereka bisa menjadi sumber informasi.
  6. Latih agar anak kita selalu menceritakan apa yang dia alami, apa yang dia dengar dan apa yang dilihat serta apa yang dirasa. Sebagai contoh, kita bisa menceritakan apa saja yang terjadi pada kita seharian, siapa tahu anak kita tanpa diminta akan melakukan hal yang sama dengan kita.
Menurut aku pribadi, semua tingkah laku anak kita, semuanya berawal dari rumah dari pelukan, dari suara, dari kata-kata dan dari hati orangtuanya. Jika anak selalu mendengarkan nyanyian jazz setiap waktunya, yang terngiang di telingganya nyanyian jazz yang dominan daripada nyanyian dangdut kan? *** kok jadi nyanyian yaak?

Semoga kita semua menjadi orangtua yang benar orangtua untuk anak-anak kita kelak, aamiin. Dan, maraknya kasus-kasus kekerasan yang muncul baru-baru ini, menjadi pelajaran buat aku pribadi untuk selalu belajar menjadi pribadi yang patut menjadi orangtua, menjadi bahan introspeksi untuk kami selaku orangtua, apakah sudah sesuai jalur sebagai orangtua yang semestinya.

Salam
Astin