Skip to main content

Menggunakan Smartphone di Tempat Terbuka

Hari ini, siapa yang tidak menggenggam smartphone? mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek, saya sering melihat mereka menggunakan smartphone. Mungkin berbeda-beda penggunaan ya. Anak saya sudah bosan menggenggam smatphone yang awalnya untuk game. Ibu saya, berusia 60an lebih, menggunakan smartphone untuk berkomunikasi untuk melebarkan jaringan bisnisnya. Saya, mengunakan smartphone juga untuk membangun jaringan komunikasi bersama teman-teman blogger.

Saya belum mencari sebuah survey yang membuat laporan ada berapa banyak smartphone yang beredar di masyarakat Indonesia. Jangan lah di Indonesia, di kompleks perumahanku saja, lah. Hay..jika ada yang sudah melakukan survey, kabari saya ya *kek penting banget. Hehee. Gak usah pakai survey kali astin. Lihat sekelilingmu, perhatikan baik-baik dan kamu sendiri bisa melihatnya sendiri.

Smartphone dalam Genggaman


Smartphone di tempat terbuka
Ponsel untuk darurat selalu ada menemani smartphone

Hari Senin kemarin, saya menghadiri undangan dari Oppo untuk peluncuran produk terbarunya R7s di daerah SCBD, Jakarta Selatan. Saya menggunakan kendaraan umum, karena tempatnya berjauhan dengan kantor suami bekerja. Baik, saya niatkan untuk berangkat lebih awal, mengingat jarak antara rumah dan tempat acara sangat jauh. Google map, memberikan estimasi jarak 2 jam 30 menit. Bisa dibayangkan jika saya menggunakan kendaraan umum?

Di krl atau kereta listrik, saya tidak mendapatkan tempat duduk dari setasiun Poris menuju setasiun Sudirman. Otomatis, smartphone tidak saya keluarkan, padahal pingin sekali, mengambil gambar, selfi, atau sekedar menulis status saya sedang on the way. Gaya banget kan? padahal sayang mengeluarkan. Tapi, seorang bapak berusia kurang lebih lima puluh tahunan, asyik wae atuh, bermain game dengan posisi berdiri di krl. Penumpang lainnya yang mendapatkan tempat duduk, hampir 70 % menggunakan smartphone.

Menunggu Trans Jakarta menuju Pasific Place, tujuh dari sepuluh calon penumpang yang mengantri, mengambil smartphone dalam tas, sekedar mengecek status bbm temannya, sekedar melihat jam, sekedar mengomentari status. Saya, sibuk dengan keringat yang mengucur. Panas sekali hari itu, jalan dari stasiun Sudirman ke halte TJ di Dukuh Atas 1, lumayan pegel.

Masuk ke dalam Trans Jakarta, hanya beberapa halte, setelah itu saya akan sampai. Ada seorang gadis membaca artikel menggunakan tablet berukuran 7 inci. Posisinya ada di depan pintu masuk Trans Jakarta. Saya ada di belakangnya, otomatis saya bisa membaca apa yang ada di layar smartphonenya kan. Dalam hati, penting banget enggak sich, artikelnya,  sehingga sempet sempetnya membuka smartphone yang cukup besar begitu di tempat umum. Kalau dia duduk kan nyaman, lah ini berdiri. Lalu jawab si gadis itu "Smartphone siapa? gue kan? lu mau apa?" qiqiqiqii. Untung saya enggak komentar.

Saya dan Smartphone


Saya juga ingin seperti mereka, bisa membuka smartphone di mana saja berada. Menunggu krl, duduk atau berdiri di dalam krl, atau ketika sedang menunggu siapa saja dech. Tapi rasanya, masih kurang nyaman. Apaaa? bukan karena takut baterai habis, kan ada power bank. Pulsa? hehee tahu saja pinginnya nyari WiFi. Saya belum menjadi orang penting untuk membuka smartphone di tempat terbuka. Saya masih risih, jika orang di samping saya, atau orang di belakang saya, melonggok isi smartphone saya. Ngehe ya, iya emang.

Seperti hari Senin kemarin. Saya memang harus selalu mengecek smartphone, untuk melihat google maps. Memastikan apakah saya sudah mendekati tempat acara tersebut. Namun saya berusaha untuk bersabar. Setelah berada di setasiun Sudirman, saya mencari tempat duduk yang nyaman dan aman. Pinginnya mah di starbucks, tapi bukan penyuka kopi. Jadi, duduk tenang dulu, baru kemudian membuka tas untuk mengambil smartphone. Di tempat terbuka tapi berusaha untuk duduk terlebih dahulu. Baru dech, chat sama teman-teman dan cek google map sembari menghitung estimasi waktu.

Memang benda satu itu seperti menyihir sebagian orang, termasuk saya lah ya. Jika tidak menggenggam dan tidak mengoperasikan smartphone tersebut, kok rasanya seperti ada yang hilang. Itulah mengapa saya membawa dua handphone. Satu smartphone untuk membantu saya selama perjalanan di tempat terbuka dan yang satunya lagi ponsel biasa untuk menerima dan melakukan panggilan darurat.

Oiya, posisi paling "mager" untuk saya menggenggam smartphone adalah ketika sendirian. Anak-anak sudah tidur, menunggu suami pulang bekerja, itulah waktu yang paling peak banget buat saya menjelajah isi smartphone.

Bagaimana dengan teman-teman? apakah masih memiliki ponsel biasa? yang kalau jatuh tidak sayang?. [2015: 12]

Comments

  1. That was a good tips for traveller as well :D

    - Syamsid Blog -

    ReplyDelete
  2. Cuma punya smartphone, soalnya kemana-mana bawa modem Wifi, telponan juga jarang pake nomor hape, pada pake WA, atau facebook, gak pernah SMS juga cuma pake messenger atau WA hihihihi

    ReplyDelete
  3. Aku ga punya smartphone khusus nlp :D
    Tp pgn bgt punya hape flip dr samsung. Bodynya keceh

    ReplyDelete
  4. ponselku Nokia jadul, itu namanya sekarang mungkin stupid phone yah :D

    ReplyDelete
  5. jauh dari ipon cuma kalau lagi mandi aku mbak..maklum generasi milenium hihihii

    ReplyDelete
  6. Saya juga termasuk yang cuek menggunakan smartphone di area umum mbak. Naik busway bahkan angkot pun saya berani browsing sekedar facebookan membunuh waktu. Kalau naik metro mini dan berdiri baru nggak berani pakai

    ReplyDelete
  7. sekadar sharing, di kereta/busway saya sering lihat beberapa penumpang yang asyik baca koran/majalah saat kursi kosong/penumpang dikit

    bagi saya itu keren dibanding yang lihat ponsel
    soalnya, zaman sekarang bisa dibilang jarang banget ada yang baca koran mengingat informasi lebih update di online via ponsel :)

    ReplyDelete
  8. Saya ke mana-mana selalu bawa ponsel. Bisa buat apa aja lus nulis berita. Daripada bawa buku besar. :D

    ReplyDelete
  9. jaraknya jauh juga ya mak, sampe 2 jam-an gitu. kalo saya sih, smartphone yg biasa2 aja mak Astin hehe

    ReplyDelete
  10. Wah kalau sayamah cuman bisa pake hp jadull. cuman bisa nelpon sama sms aja,,, kayaknya kudu dii upgrade nih heheh

    ReplyDelete
  11. Bawa HP, sambil jalan kdg iya. Tp pas duduk di bis, biasanya update dl baru masukin HP ke tas. Hbis itu gak buka2 lg. Kecuali darurat ada tlfn

    ReplyDelete
  12. smartphone oh smartphone, sy kadang merasa terlalu banyak tergantung sm benda satu ini dan merasa perlu mengurangi waktu "berduaan" dg smartphone karena kadang over dan mengurangi kehangatna komunikasi sm sekitar.

    ReplyDelete
  13. dulu pas jamannya jadi anak krl, aku juga suka curi curi baca yang duduk di sebelah, karena kayaknya serius banget liat ponselnya hihiii

    ReplyDelete
  14. beneer...dan di sini juga banyak kejadian yang samaa kalau tidak hati-hati..

    ReplyDelete
  15. Ponsel daruratnya aja keren :D (y)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bagaimana Cara Print Out Mutasi Rekening BCA

Hallo selamat pagi? semangat pagi karena telah berganti tahun dan berharap tahun 2015 ini semakin lebih baik dari tahun -tahun sebelumnya. Sedikit informasi, tumpukan pekerjaan tahun 2014 masih banyak sekali dan beberapa kendala dari status sebagai anak, istri, ibu, majikan **eheheee..., pekerja kantoran, tetangga dan pengguna jalan umum, membuat pusing tujuh keliling.
Nah, daripada memikirkan masalah yang belum tentu menjadi terhambatnya aktivitas, maka syukurilah apa yang sedang dihadapi. Si embak ijin pulang kampung begitu lama ya..disyukuri saja meskipun tumpukan baju kering banyak.
Lah, apa hubungannya bagaimana cara print out mutasi rekening BCA dengan itu semua tadi? iya, saya itu kan gaptek kalau terpaksa, tapi kalau tidak terpaksa saya akan menjadi tidak gaptek, karena saya males untuk mencari tahu.
Beginilah jika dalam situasi terpaksa, akhirnya saya menggunakan klik BCA yang telah lama dianggurin untuk hal pekerjaan. Kenapa? pernah terblokir malas pakainya jadi ***tuh kan,…

Mengapa Tabung Elpiji Bisa Berbunyi?

Alhamdulillah, ya Allah...pagi ini masih bisa menikmati sajian makanan meskipun hasil beli di pasar. Iya, tadi pagi sudah semangat untuk bikin sop buat anakku, tapi ceritanya jadi beda gegara ini.
Sebelum sholat subuh, saya merebus daging untuk sop dan menitipkan ke suami untuk melihat api di kompor, karena indikator di regulator menunjukkan gas hampir habis. Namun, suamiku masuk kamar dan aku sholat subuh. Masuk ke rakaat terakhir, saya mencium bau gas, menyengat dan langsung mempercepat gerakan sholat.
Saya matikan api, menarik nafas, karena tidak sampai mati apinya, jadi kalau pasang elpiji bisa gampang pikirku. Selang beberapa lama, saya kembali ke kompor dan mendengar suara mendesis dari elpiji *apa ini? aku panggil suamiku dan suamiku hendak mencabut regulator pada tabung elpijinya. Kaget kami berdua, suaranya dari mendesis menjadi *ngiiiiiiing seperti alarm kebakaran, panjang dan keras.
Saya melihat wajah suami mulai panik, tapi masih terkendali, saya diminta keluar mengajak a…

Penyebab Nasi di Rice Cooker Cepat Basi

Pernah tidak mengalami nasi di rice cooker cepat basi, baru juga masak tadi pagi, sore hari sudah basi, basinya berair pula. Beberapa kali saya mengalami nasi di rice cooker basi dan dari kurun waktu 2008-2015 saya sudah berganti rice cooker sebanyak, lima kali. *Boros sekali ya? semoga ke depan tidak sering-sering berganti rice cooker ya. Mengganti rice cooker juga dengan pertimbangan, nasi yang dimasak cepat sekali menjadi basi. Iya, sewaktu membuka rice cooker setelah masi matang, aroma yang keluar sudah tidak enak, sewaktu dicentong, nasinya berwarna kuning dan pada lapisan bawah, nasinya berair.
Pengalaman Mendapati Nasi di Rice Cooker Basi
Sewaktu mendapati nasi di rice cooker basi, saya kaget dong. Lah wong baru saja masak, kok aroma nasinya sangat tidak enak. Lengket dan ketika nasinya dipindahkan, bagian bawah nasi itu berair. Rice cookernya juga berair, airnya juga bau.

Menyalahkan Beras Duh, merasa bersalah sekali nich, akibat nasi di rice cooker cepat basi, saya menyalahka…