29 Mar 2016

Gagal Menikmati ke Air Terjun Bidadari Sentul

Advertisement
Minggu tanggal 20 Maret 2016, suami mengajak jalan-jalan ke daerah Sentul. Daerah yang terletak sebelum Kota Bogor kalau dari Jakarta.Cukup menempuh satu jam perjalanan dari Tangerang dalam kondisi jalan tol yang tidak macet.

Tujuan awal sebelum berangkat adalah Bogor. Mencari Asinan buah. Di daerah kami banyak, tapi katanya tidak afdol kalau tidak beli di Bogor. Selain itu saya juga ingin membeli Lapis Bogor, kangen sudah lama tidak mencicipi panganan tersebut.

Di perjalanan tujuan berubah dan berbelok ke arah Sentul. Jadi rutenya Sentul dulu baru sorenya ke Bogor. Jadilah saya mengambil smartphone dan mencari tujuan wisata di daerah Sentul. Ada dua tempat wisata yang menarik. Taman Budaya dan Air Terjun Bidadari.

Saya membaca rute pada google maps. Jarak untuk menempuh perjalanan dari Pom Bensin di depan RS Pertamedika Sentul ke Air Terjun Bidadari adalah 30 menit. Saya bilang jauh, suami bilang dekat. Faiz ikut urun, dia ingin melihat air terjun, ingin bermain air dan berendam.

Taman Budaya di pending dan tujuan awal pukul 11.00 adalah Air Terjun Bidadari. Google maps mengajak kendaraan kami melewati cluster Tampak Siring Sentul. Kemudian melewati perkampungan. Disambut pak ogak pertama, kemudian pak ogah-pak ogah lainnya. Jumlahnya ada 5 pak ogah di daerah perkampungan dengan jalan yang sempit.

Jalan mulai menanjak, sebelah kanan jalan ada jurang yang dalam yang menyajikan begitu indahnya pemandangan di jalan tersebut. Jalannya sempit, tidak halus, ada beberapa batuan yang cukup mengganggu perjalanan kami.

Perjalanan menuju Air Terjun Bidadari mengingatkan saya dan suami, pada tahun 2010. Daerah Sumowono, Semarang. Medannya juga seperti ini. Malah lebih seram. Menahan nafas, deg-degan dan menyalakan klakson ketika menemui tikungan tajam.

Bukan saya saja yang was-was. Suami juga deg-degan dan gambling serta akan melihat-lihat dulu medannya. Kalau tidak memungkinkan, harus balik kanan. Ketika bertemu dengan kendaraan yang berkonvoi dari arah berlawanan. Bertemu di tikungan, sebelah kanan jurang tanpa pembatas, lalu pasrah.

Suami menghentikan sedan yang kami tumpangi. Mengalah dan tidak mau mengambil resiko menerjang bebatuan. Para pengendara mobil gagah dipersilahkan terlebih dahulu untuk melewati jalan menikung, terjal dan sempit. Duh, kalau dulu deg-degannya banget, ini lebih dari banget walaupun jalanan lumayan ramai.

Akhirnya point Zero 0 yang ditunjukan oleh google maps sudah begitu dekat. Ada pertigaan dan ambil ke kiri. Ada beberapa pemuda asal daerah tersebut yang menjaga. Mereka meminta uang masuk tapi tanpa memberikan tiket. Uang yang diminta 5000 rupiah. Suami bertanya, apakah sedan seperti ini bisa masuk? katanya mah masuk saja, Om.

Kurang lebih 10 meter lagi menuju Air Terjun Bidadari, pak ogah sang pengatur lalu lintas menghadang. Uang boleh lah diberikan lagi.Tapi, ternyata ada turunan terjal yang menyambut kendaraan kami. Turunan yang begitu terjal, bebatuan agak besar serta miring. Ada mobil Agya dari arah berlawanan menerobos jalan tersebut. Gredaaaak, bagian bawahnya menerjang bebatuan. Okeee banget, tapi tidak untuk kami.

Suami mengibarkan bendera putih. Menyerah. Balik kanan. Turunnya mah oke, tapi naik dengan jalanan bebatuan yang curam sekali, ooohg sayang uang untuk ke bengkelnya. Tidak apalah untuk merelakan deg-degan ketika naik dengan pemandangan jurang, tapi ndak jadi menikmati Air Terjun Pengantin. Dari pada uang keluar untuk ke bengkel?

Foto pribadi sewaktu di Puncak Cipanas


Suami mengambil jalan ke kiri dan bukan jalan ketika naik ke Air Terjun Pengantin. Menurut informasi yang diberikan sang pemuda, jalan tersebut ke arah Gadog (puncak). Juga, jalanannya lebar dan tidak rusak. Mulus dan nyaman. Ternyata benar, jalannya bagus, lebar, ketika menjumpai jurang pun tidak begitu was-was, karena jalannya lebar.

Kami diberikan petunjuk untuk melewati Bukit Pelangi. Bukit yang sangat cantik yang dipergunakan untuk bermain golf. Sisi kanan dan kiri dipergunakan oleh pengembang Bukit Pelangi untuk digunakan bermain golf.

Berhenti di sebuah cafe yang lumayan besar. Ada beberapa saung dan tempat makan berkursi. Saya memilih yang saung dan memesan makanan. Setelah pesanan datang, saya dan suami berpandangan. Ini? sangat mengecewakan. Titik dan not recommeded banget. Tempatnya mah oke, pelayanannya oke, tapi hidangannya mengecewakan.

Setelah makan sate marangi abal-abal di cafe tersebut, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata ketemu pertigaan Mega Mendung. Karena waktu sudah sore dan kurang tertarik berbelok ke kanan untuk ke Puncak, kami belok kiri. Jadi, faktanya adalah : teman-teman yang ingin mbolang ke  Air Terjun Bidadari bisa lewat jalan ini, lho.Meskipun memang agak muter dan jauh ya, karena harus naik ke Puncak Bogor baru turun ke Sentul Paradise Park ini.

Akhirnya beli Asinan Bogor di depan Botani. Asinan yang sudah diidam-idamkan jauh-jauh dari oleh suami. Kalau saya mah pinginnya Lapis Bogor Sangkuriang, seperti yang pernah dibawakan oleh neng Melly. Siapa Melly itu?Neng Melly yang punya Loki, si ganteng dari Bogor itu loh. [2016: 03]

8 comments:

  1. jadi? panduan dari google map kurang akurat ya Mbak Astin? walo dekat tapi kalau medan seperti itu ya mending nggak ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin karena saya start di Sentul, jadi diberikan alternatif jalan yang sempit itu, hehee

      Delete
  2. Kalau tetep nekad ke air terjun bisa2 habis piknik jadi panik karena keluar duit buat servis mobil ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya bisa aja ngojek ya, tapi ya sudahlah -v-

      Delete
  3. hahaha,,, tetap kalah ya mbak ya? suami mbak bilang dekat,,, mbak nya bilang jauh,,, eh si kecil pingin ke Air terjunnya,,, ceritanya 1 orang lawan 2 orang, yang 1 orang kalah,,, hahaha,,, tapi sayangnya pas makan, tapi makanannya mengecewakan,,,, hmmm, ikut sedih, :-)

    ReplyDelete
  4. ada bidadari cantiknya gak disana? :)

    ReplyDelete
  5. Thank you so much again it's a fantastic blog !

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...