9 May 2016

Kuliner Murah Meriah di Tepi Kali Cisadane Tangerang

Advertisement
Libur panjang tahun ini, saya pergunakan untuk quality time bersama keluarga kecil saya. Tsjaah quality time? iya dong, kapan lagi coba, menikmati sepanjang hari bersama suami dan anak-anak. Krutelan bareng di tempat tidur dan tidak bermacet-macetan di jalan menuju tempat wisata, *padahal mah Faiz mempertanyakan kenapa kita gak jalan-jalan seperti tetangga yang lain. 

Acaranya menonton televisi, kalau anak-anak bosan, tinggal nyalain youtube tv dan menonton film serunya mereka, becanda, lari-larian kalau anak-anak mah, kalau saya beneran libur, gak masak dan gak ngapa-ngapain.

Sarapan membeli nasi uduk atau sayur dan lauk kalau sempat masak nasi, siang hari pesan makanan via ojek online atau makan di luar, malamnya tergantung, mau masak mie instant, roti atau menunggu tukang mie yang lewat di depan rumah.

Siang hari di hari terakhir libur panjang bulan mei ini, saya dan keluarga kecil ini, memutuskan makan siang di luar. Suami memberi saya uang 100.000 untuk makan berempat. Cukup enggak cukup, jatahnya 100.000, kalau kurang nanti ditambah sampai 50.000, tapi semoga gak kurang. *cukuplah, makan di d'cost kalau menunya sederhana juga cukup 100.000. #Perhitungan budget kuliner

Pergi dari rumah saat jam nanggung menuju waktu sholat dzuhur adalah hal biasa bagi kami. Hehee, niat berangkat jam 10, bisa keluar jam 11.30, ada saja kerempongan rombongan lenong ini. Jadi, mampir dulu lah, ke Masjid Agung Kota Tangerang, Masjid Al-A'zhom.

Setelah sholat dzuhur, kami berkeliling di Kota Tangerang, searching di google, rekomendasi makanan enak di Kota Tangerang, itu-itu lagi dan si kecil Fira, lah kok ya bobo. Jadi, suami memutuskan dengan sepihak untuk membeli nasi Padang saja, dibungkus dan dibawa pulang. *Ngengir kuda deech, hiiyeee. Gagal kulineran di Kota Tangerang.

Melewati tepi kali Cisadane, di tepi sebelah kiri dari arah Tang City, ada banyak penjual makanan yang menggunakan gerobak. Dibilang sepi, tapi ada saja yang berhenti dan membeli kuliner yang dijajakan. Sepanjang kali Cisadane berjejer banyak penjual makanan. Tidak hanya satu dua yang menjual satu macam kuliner, bisa tiga hingga lima penjual mie ayam keriting, es podeng, lapis Bogor, Cilok Bandung sampai kartu pedana sebuah provider, boneka dan lain sebagainya.

Tertarik menikmati mie ayam keriting yang kebetulan banyak pembelinya, saya dan suami sepakat melipir ke tepi Kali Cisadane. Parkirnya di pinggir jalan, sejalan dengan para penjual kuliner tersebut. Jalanannya memang kecil, jadi harus ekstra sabar kalau melewati jalan ini.





Saya yang ditugaskan untuk belanja makanan, suami dan anak-anak tinggal di dalam mobil. Saya membawa uang 50.000 ditambah 2 lembar sepuluh ribuan, jadi saya membawa uang 70.000. Mie ayam keriting yang menjadi sasaran utama. Saya memesan dua mangkok, satu mangkuk 10.000 sudah lengkap dengan kerupuk pangsitnya. Saya mengambil 2 kerupuk pangsit lagi, jadi total pengeluaran di mie ayam adalah 22.000 rupiah.

Es podeng, awalnya saya membeli satu gelas untuk Faiz, ternyata ada yang ngidam es podeng, jadi beli lagi. Satu gelas es podeng dihargai 8.000, jadi total pengeluaran di es podeng 16.000 rupiah.

Cilok Bandung, ini saya yang kepinginnya gak ketulungan dengan makanan yang satu ini. Satu porsi berisi 8 bulatan dihargai 5.000 rupiah. ternyata ada yang memiliki kenangan juga dengan cilok dan membeli lagi, 3.000 rupiah. Total pengeluaran di cilok Bandung 8.000 rupiah.

Air minum kebetulan selalu sedia di dalam mobil, jadi saya dan suami tidak perlu lagi membeli minuman. Lain dengan Faiz, yang meminta minuman dingin, jadi beli dech, teh dingin dalam botol 4.000 rupiah.

Cakwe dan roti bantal, menarik perhatian suami, awalnya saya tidak mau, tapi lama-lama setelah dipandang dan timang, dan ketika melihat ada saja yang berhenti untuk membeli, kaki saya tergerak untuk membeli cakwe tersebut. Harganya 2.000 rupiah satu cakwenya, untuk roti bantalnya juga sama. Saya membeli 10.000 rupiah.

Kali ini soal rasa. Mie ayam keriting tepi kali Cisadane, penampilannya sangat menarik, daun bawangnya segar, pokcoy raksasanya masih muda, jadi tidak keras, kuahnya tidak begitu keruh dan tidak banyak terlihat minyaknya. Ayamnya juga enak, masih segar dan saya memberi nilai 80 dari 100.



Es podeng. Kata suami, rasa es podeng di mana-mana sama. Saat saya mencicipi rasanya bisa enak begini ya? padahal kan cuma di tepi kali Cisadane, hehee. Es Krimnya tidak membuat batuk dech. Saya memberi nilai 70 dari 100 karena, saya pinginya ada dua rasa es krimnya, *digetook alpukat.

Cilok. Harapan awal saya, menikmati sambal yang pedes dengan cilok ini, tapi saat digigit, ciloknya aloot sekali. Ya kali ada cilok yang lunak, itu mah namanya siomay. Jadi sebelum gigitan cilok ini merusak gigi, saya serahkan cilok kepada suami. Tapi kata Faiz ciloknya enak banget. Berapa dong, ciloknya dikasih nilai? 80 dech, karena Faiz doyan sampai nambah.

Cakwe. Membeli satu cakwe diberi satu bungkus plastik kecil saos. Rasa cakwenya enak bangeet. Apalagi baru diangkat dari penggorengan, duh, minyaknya gak begitu kerasa dan tidak alot. Ini cakwe enak yang pertama saya makan, karena jarang banget beli cakwe. Ini ada tips untuk menyantap cakwe di dalam mobil. Buka karet yang mengikat plastik saos, ya ukuran plastiknya emang kecil, jadi setelah karetnya terlepas, masukan tuh cakwenya ke dalam plastik saos, cocol dech. Saya beri nilai 80 untuk cakwe, enak banget.



Perut kenyang, Fira masih tidur dan langit berubah gelap dan menandakan hujan akan turun. Suami dan anak saya mengomentari kuliner yang baru mereka santap. Faiz : Kapan-kapan ke sini lagi ya, kenyang dan enak. Suami : Setiap hari ke sini bisa juga nich. Saya : kenyaang, tolong langsung pulang ya, mau tidur. Total pengeluaran 60.000 untuk 4 orang makan di tepi kali Cisadane, kenyang dan enak adalah hal yang membanggakan buat kami. Budget awal 100.000 paling dapatnya juga dikit, ini luar biasa dech, kenyang, enak, bersih dan aksesnya juga mudah.



Kuliner tepi kali Cisadane terdapat di jalan Kalipasir Indah. Sepanjang jalan ini, ada banyak kuliner asyik, murah meriah dan bersih. Lokasinya mudah sekali ditemui, dan pembelinya juga kebanyakan orang-orang yang mengemudi melalui jalan tersebut. Para pejaja kuliner ini juga menyediakan bangku-bangku plastik dan tanahnya dijaga agar tetap bersih, jadi nyamanlah untuk makan di luar mobil. Kemarin, karena Fira bobo, jadi kami menikmati makanan di dalam mobil dengan pintu yang dibuka.

Buat saya, kuliner di tepi kali Cisadane sudah cukup baik. Teman-teman ada yang sudah pernah mencicipi kuliner di tepi kali Cisadane? bagi ceritanya yuk.

10 comments:

  1. ooohini foto yg kemarin di upload ya :)

    ReplyDelete
  2. Saya libur kemarin juga beli es kelapa muda di situ mba... enak coz ditambah susu. Anak2 juga suka. Murah meriah

    ReplyDelete
  3. aish... jalan2 sambil makan2 yg menyenangkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. teope banget lah, jalan-jalan tanpa makan biasa sich, tapi kalau nemu makan yang enak, luar biasa

      Delete
  4. ya ampun.. ni aku oagi2 liat mie ayam sm cakwe kesukaanku. jadi laperr bangettt

    ReplyDelete
  5. Wahhhh kulineran sekeluarganya asik banget Mba. Seru.

    ReplyDelete
  6. Wah,, kok baru tahu ya saya hahaha, tempatnya juga asik kayaknya

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...