17 Jun 2016

Dari Sebuah Novel Embun di Atas Daun Maple

Advertisement
Hallo, selamat sore teman-teman semuanya? bagaimana hari ini? di sudut Tangerang sedang turun hujan, kebanyang kan kalau hujannya sampai mendekati bedug maghrib, saya takjil menggunakan apa? enggak pernah masak begini dan numpang dimasakin orang lain. Semoga hujannya enggak lama-lama ya.

Beberapa hari sebelum bulan Ramadan datang, datanglah sebuah novel islami di depan rumah saya. Embun di Atas Daun Maple karya Hadis Mevlana yang merupakan nama pena dari Maulana Hadisona. Hadis Mevlana seorang novelis yang juga bekerja di sebuah bank syariah.

Cover novel bergambar daun maple berwana hijau, kuning dan orange memberikan warna ceria dan romantis. Novel yang memiliki 286 halaman ini, sudah dapat ditebak temanya, yaitu percintaan, tapi percintaan yang bagaimana dalam tutur bahasa islami.

"How about Mary the virgin?" sebuah pertanyaan dari orang yang belum pernah dikenal oleh Sofyan, hingga membuat Sofyan kaget.

"Aku tak pernah menyangka bisa bertemu langsung dengan penulisnya di sini, I Love Mary the Virgin and I like your poem. Puisimu mengingatkan tentang doa yang sering ku baca: Doa Salam Maria," Lalu Sofyan melihat gadis itu membaca doa tersebut, tepat dihadapannya. 

 "Mungkinkah mawar-mawar putih itu dari Olivia? bisik Sofyan dalam hati. Sejak awal mengenal Olivia, kuperhatikan ia memang selalu mencoba menarik perhatianku dengan sikapnya. Entah sebenarnya Olivia sadar atau tidak, sebenarnya aku tahu kalau dia sering memperhatikanku dari kejauhan.

 Lelah hati ini membuatku tak sabar untuk segera merebahkan tubuh lelahku. Akhirnya, aku tiba di depan pintu apartemenku. Tak jauh dari tempatku, hanya beda beberapa pintu, kulihat Zahra, teman satu jurusanku, hendak masuk ke apartemennya.

Mahasiswi S2 berwajah cantik khas gadis Minang dibalut dengan jilbab modis itu melihat ke arah Sofyan, dan menjawab salam yang diucapkan oleh Sofyan.
Membaca penggalam cerita dalam novel tersebut, tiga gadis yang menemani perjalanan belajar Sofyan seorang Mahasiswa penerima beasiswa yang sangat patuh terhadap nasehat orangtua dan memiliki wawasan yang luas mengenai agama islam.



Membaca novel Embun di Atas Daun Maple memang seperti diajak jalan-jalan di sekitar Saskatoon, Kanada. Penulis menyajikan diskusi-diskusi tentang agama Islam, baik dengan Kiara yang non muslim, ataupun dengan teman-teman sesama muslimnya dengan santai. Tidak ada sebuah perdebatan yang memojokan dan perdebatan yang memperkeruh suasana atau mencari salah dan benar.

Dari novel Embun di Atas Daun Maple ini, saya kemudian menjadi hening. Seorang Kiara sangat luas wawasannya tentang Islam, mau membuka diskusi dengan Sofyan dalam setiap pertemuannya di sudut kampus. Sama seperti saya dan suami, sering membuka diskusi tentang agama Islam dan lama-lama jadi dekat, lalu menikah. Eh bagaimana bagaimana?

Saya seperti diajak berlari oleh penulis novel ini. Loncatan hari-harinya begitu cepat dan selalu ada hal baru yang dibahas. Diselipkan dengan puisi-puisi yang memberikan kesan romantis islami, melabuhkan rasa rindu kepada-Nya dan rindu akan pulang ke tanah air, untuk bersama dengan keluarga si penulis.

Pertanyaan saya yang berkecamuk di dalam pikiran adalah, mengapa Kiara sangat bersemangat mengajak Sofyan berdiskusi tentang Islam? mengapa Olivia memperhatikan Sofyan secara sembunyi-sembunyi dan siapa dari ketiga gadis di atas yang memberikan bunga mawar putih untuk Sofyan?

Berada dalam kehidupan yang jauh dari kampung halaman dengan segala permasalahan, Sofyan tetap berpegang teguh dengan Islam. Mengupgrade dirinya dengan ilmu agama, dan di sinilah saya dan kita semua pastinya, harus senantiasa mengupgrade ilmu dan memperdalam wawasan tentang Islam. Apalagi di bulan Ramadan ini, jadi novel Embun di Atas Daun Maple sangat cocok sebagai bacaan ringan di bulan Ramadan ini.

Salam
Astin

1 comment:

  1. Daun maple itu kesannya romantis & isi novelnya ada romantis2nya juga ya..

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...