23 Feb 2017

Pelajaran dari Menunda Sebuah Pekerjaan

Advertisement
Haloha selamat pagi semuanya? sudah sarapan? sudah sampai ke tempat kerja untuk yang bekerja di luar kantor? sudah mengerjakan pekerjaan rumah, apa detik ini? Jangan lupa untuk bersyukur, dengan syukur perasaanmu lebih tenang, betul begitu? Iya, aku merasakan satu hal yang luar biasa sewaktu mengucap syukur berkali-kali dan berulang-ulang.

Mengapa aku mengucap syukur berulang-ulang di pagi ini? ini aku lakukan untuk menguatkan diriku. Menguatkan perasaan yang meletup-letup supaya tetap dingin. Menjauhkan emosi dan meredakan amarah. Memang amarahnya kepada diri sendiri, tapi takutnya akan melebar ke mana-mana. Jadi, salah satu jalan adalah, bersyukur. Tentunya ditambah perasaan tenang, tarik nafas dan berpikir solusi, bukan masalah. 💞

Aku merasa pagi ini ditaburi cinta oleh diriku sendiri. Meskipun aku tahu, ini pasti karena kesalahanku sendiri yang sangat ceroboh. Ceroboh meletakkan sebuah benda yang dapat dikatakan vital untuk keadaan tertentu. Sebuah benda yang sudah kucari-cari ke mana saja, belum ketemu juga. Puncaknya pagi ini, saat benar-benar membutuhkan benda tersebut dalam waktu saat ini juga, bendanya belum terlihat.

Berawal dari Menunda Sesuatu


Berawal dari menyetrika baju seragam sekolah anak sulungku. Ada tiga buah kemeja putih yang dipakai untuk Hari Senin, Kamis dan Jumat. Beberapa hari lalu, aku menyetrika kemeja putih untuk Hari Kamis. Aku sudah melihat kancing kemejanya, hilang satu. dalam pikiranku, nanti saja, sekarang menyelesaikan setrikaan terlebih dahulu. Tapi di sinilah masalahnya. Aku menunda mencari benda yang aku sebutkan di atas. Aku menunda untuk membuka lemari, tempat benda yang berbentuk kotak berisi peralatan menjahit.

Peralatan menjahitku termasuk lengkap. Ada gunting kecil, benang berbagai warna, jarum, kancing kemeja dari kemeja-kemeja yagn terlepas dan berbagai peralatan lainnya yang mendukung pekerjaan jahit-menjahit. Dan pagi ini, aku tidak menemukan kotak tersebut di tempatnya. Lupa, benar-benar lupa aku meletakkan di mana.

Kotak berwarna biru tua. Kotak bekas tempat infusan printer jaman bahola. Kotaknya tidak terlalu besar, berukuran 15 cm x 8 cm dengan tingkat ketelabaln kurang lebih 2 cm. Permukaan kotak tersebut sangat halus, aku selalu meletakkan di lemari buku. Entahlah, mungkin aku memindahkan ke tempat mana, sampai sekarang aku belum mampu berpikir dan belum ada upaya berantakin rumah lagi. Kamu tahu teman? ada di mana benda tersebut? kasih tahu aku ya..please. Meskipun aku bisa membeli lagik, tapi benda itu sudah seperti harta karunku. 

Sebagian Alat Jahit milikku


Sampai pagi tadi, saat menyiapkan seragam sekolah anak sulungku, aku masih bertahan. Mengerjakan pekerjaan yang lain terlebih dahulu. Padahal gak berhubungan dengan "pencarian kotak". Aku malah asyik memasak dan mencuci pakaian. Tiba saat anak sulungku akan memakai seragamnya, aku baru berburu kotak peralatan menjahit di lemari.

Nihil. Tidak ada. Gak ketemu. Perasaanku marah, kesel dan hanya mengatakan "tolong jangan ganggu aku, aku sedang konsentrasi mencari satu benda". Kasihan banget kan, betapa sombongnya aku, betapa emosi aku. Sampai akhirnya aku ijin kepada suami, untuk pergi ke toko peralatan tulis di dakat rumah. Pikir aku, siapa tahu menyediakan peralatan jahit-menjahit juga, kan?

Aku mengendarai sepeda motor ke arah pasar dan berhenti di abang-abang penjual jepit rambut dan lain-lainnya. Di abang-abang tersebut, aku pernah membeli jarum jahit. Alhamdulillah aku berhasil membeli jarum jahit di sini seharga 4.000. Abang tadi menjual benang juga, tapi aku masih diuji kembali untuk sadar supaya sadar. Benang putih yang kubutuhkan untuk menjahit kancing kemeja putih, sedang kosong. Aku melangkah dan lupa belum membayar si jarum. Alhamdulillah, aku masih ingat dalam langkah ke dua.

Pergi ke toko peralatan tulis, aku menemukan benang putih. Walaupun benang putihnya dalam keadaan kotor, aku tetap membelinya. Hiks, ya Allah aku sedih banget, tapi semua ini karena membayar kecerobohanku. Membayar aku yang telah menunda sesuatu. Menerima benang putih seharga 2.000 yang kotor di bagian luarnya karena tanpa kertas pembungkus. Aku tersenyum dan tersadar, aku tidak harus marah. Aku tidak harus menyesal. Aku tidak harus emosi. Aku harus berpikir sebuah solusi karena kancing putih tidak dapat aku beli.

Tersenyumlah dan Selalu Mengucap Syukur 


Tebaran senyum dan syukur aku berikan sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Bekal sekolah yang belum disiapkan, anak sulung yang belum rapi menggunakan pakaian, rasanya aku semakin harus belajar untuk mengendalikan diri dalam sebuah situasi. Apalagi di pagi hari, yang kata orang memang wajar semuanya selalu rame.

Aku mengambil benang putih dan jarum jahit. Tapi aku urung, aku letakkan benang dan jarum. Memang pikiranku mendedel kancing putih di kemeja lainnya. Ini adalah solusi yang paling jahat.

Aku mengambil kemeja putih seragam Hari Senin dari tumpukan pakaian yang belum disetrika. Aku menyetrika dan mengajak anakku untuk menata bekalnya sendiri dengan perkataan tanpa emosi. Datar sekali aku memohon untuk merapikan bekalnya, memasukkan buku ke dalam tas dan berbenah sendiri. Ya Allah, nikmat sekali menyelesaikan satu kemeja putih, seragam sekolah anakku.

Berhentilah Menunda sesuatu. Saat masalah datang, bersyukurlah dan tetap tersenyum. In sya Allah solusi akan menghampiri. Bukan emosi dan pertengkaraan. Hikmah di pagi hari ini sangat banyak, salah satunya aku harus semakin disiplin melakukan sesuatu pekerjaan di rumah.

Sudut yang berbahagia.

Astin

8 comments:

  1. masih suka menunda2 juga, trims self remindernya jeng

    ReplyDelete
  2. saya juga masih suka menunda-nunda Mbaa dan akibatnya bisa ditebak, jadinya malah kesusahan sendiri, huhuhu :(

    ReplyDelete
  3. Saya juga masih seringkali menunda-nunda pekerjaan. Yang buruknya, karena menunda ikutan lomba, eh deadline-nya udah selesai, haha...

    ReplyDelete
  4. Postingan ini seperti menohok daku, mbak.. Saya sering menunda pekerjaan. Hiks.. Tengkyu ya mbak.. self reminder jg buat saya..

    ReplyDelete
  5. Banyak orang yg suka melakukan hal ini.

    ReplyDelete
  6. sama tante
    dija juga suka menunda nunda karena males

    ReplyDelete
  7. menunda2 .... aku bgt tu orangnya :)

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...