Skip to main content

Wajib Mengikuti Seni Tari di Sekolah Dasar Negeri Kesenian

Pada beberapa sekolah dasar menerapkan jam tambahan pelajaran atau istilah kerennya extra kulikuler yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan pada sekolah tersebut. Di sekolah anakku, tepatnya di MI, untuk kelas 1 dan 2, eskul-nya hanya tahfidz dan tahsin. Pramuka dan olah raga seperti basket, sepak bola dan drum band tidak diperuntukan untuk anak kelas bawah.

Beda halnya sewaktu aku menempuh pendidikan dasarku, di sebuah sekolah dasar negeri di daerah Cilacap Utara. Sejak awal, murid-murid (pada masanya) diajarkan untuk lebih mengenal kesenian. Sampai suatu ketika sekolah dasarku tersebut dijuluki sekolah dasar kesenian. Aku ingat sekali, pada jadwal pelajarannya ada pelajaran seni lukis, seni musik dan seni tari. Sedangkan seni tari diberikan tambahan untuk praktek, pada sore harinya.

Gambar yang sering dibuat untuk menyetorkan hasil karya kepada guru adalah gambar pemandangan sawah dan rumah. Jaraaaang sekali menggambar karakter seperti doraemon. (Eh, itu mah, anakku dink, meyetorkan gambar doraemon dan dorami untuk nilai kepada buguru. Dalam hati aku ketawa *ops).

Maju ke depan sendirian, senderan di papan tulis yang hitam, tangan ke belakang untuk menyanyikan satu buah lagu. Terkadang menunduk, terkadang memainkan jemari dan matanya berkaca-kaca hendak menangis. Sang guru akan melihat dengan seksama, kemudian menutupi gerakan tangannya saat menuliskan nilai dari murid yang bernyanyi dengan sebuah buku.

Seni Tari Teori dan Praktek


Seni tari diajarkan di dalam kelas dengan sebuah teori tapi terkadang praktek. Bagaimana caranya tangan supaya luwes untuk ngiting dan ukel, kalau enggak bisa bakal diulang-ulang terus supaya bisa dan enggak kaku. Selendang juga harus diseblak yang benar, ada gerakan halus dan ada gerakan kasar, dibutuhkan untuk jenis tarian tradisional jawa yang berbeda. Jadi harus bisa nyeblak sampur atau selendang.

Gerakan kaki dalam seni tari juga belibet sekali. Gejuk atau mendhak, sampai sekarang aku belum bisa membedakan. Guru kesenian seni tari ini kebetulan adalah kepala sekolah dari sekolah dasar negeriku. Beliau guru yang tegas dan teliti seklai, jadi saat murid belajar bagaimana caranya ngruji, tapi jemarinya enggak berbentuk ruji, ya sudah diomelin dan diulang-ulang terus. Duh, enggak kelar omelannya.

Praktek seni tari diadakan setiap berapa kali ya dalam seminggu, rasanya aku sering sekali datang ke rumah kepala sekolah untuk les nari. Duh, bahasanya les nari, tapi tidak dipungut biaya. Rumah kepala sekolah sangat luas, jadi bisa digunakan untuk belajar menari satu kelas. Ada banyak lemari yang berisi baju-baju tari tradisional dari seluruh daerah.

Hal yang paling kuingat akan pelajaran seni tari ini adalah saat kakiku sakit. Hari itu aku tidak datang les menari, tapi masuk sekolah. Esok paginya, aku ditanya sampai harus menjawab kenapa hanya sakit kaki, aku tidak datang les menari? kan bisa datang saja dan melihat teman-teman belajar menari. Ilmu menarinya dapat, meskipun tidak ikut menari. Hiks, anak SD loh sudah ditanamkan hal yang seperti itu.  

Foto kuambil dari Sekolah Kita. Gerbang yang menjadi saksi aku jajan cireng dan cilok di situ. Kangen


Kenangan masa sekolah dasar selalu aku ingat, karena terkadang aku masih berteman dengan teman-teman SD. Aku juga berteman dengan rekan blogger yang berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Dari facebook-nya aku mengikuti apa yang sedang dikerjakan. Dari blogpost-nya aku selalu mendapatkan informasi apa yang telah diajarkan dan dipelajari bersama anak-anak muridnya. Cheila R. Firmawati. Cheila juga pernah membagikan hasil gambarnya yang diwarnai menggunakan teknik mewarnai menggunakan gradasi crayon.

Meskipun anakku juga usia sekolah dasar, aku kurang menghayati bahwa anakku adalah anak SD seperti aku 25 tahun lebih yang lalu. Masalahnya, tidak ada satupun seragam sekolahnya yang berwarna merah. Hiks, padahal aku kepingin sekali melihat dia menggunakan seragam merah dan putih, sama sepertiku dulu. Tapi ya sudahlah, semoga semangatnya melebihi semangatku ya, Nak.

Comments

  1. Asyik ya ada sekolah dasar kesenian? Di sini nggak ada. Itu sekolah impianku waktu kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan SD kesenian, tapi julukan SD kesenian, karena aktifitas keseniannya tinggi

      Delete
  2. Anakku juga suka gambar kartun buat dinilai gurunya. :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihii, anak-anak sekarang gambarnya kartun y

      Delete
  3. dulu jaman aku SD pelajaran kesenian ala kadarnya banget, mba. Terus kemaren anakku dpt tugas bikin perahu pakai origami lha aku sempet kelimpungan.
    Yasudahlah nyontek di yutup aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekarang juga banyak tutorialnya di yutub, dulu mah guru sd masih sabar ngajarin origami, ya

      Delete
  4. baca ini jadi inget jaman kecil. waktu jaman SD saya seneng banget berkesenian, begitu udah smp engga karena guru keseniannya ngeselin hahaha. terus dulu lagu yang diingat minimal ada nyiur melambai, desaku, rambadia, dll. jaman sekarang pelajaran kesenian isinya lagu apa ya? disuruh gambar apa ya? masih pada gambar gunung dua biji ditengah-tengahnya ada jalan gak ya?

    ReplyDelete
  5. malah saya ekstra kulikuler tarian ada nya pas saya SMA, saya sempat join tuh nari daerah mbak. seru2 menantang gitu jadinya :D

    ReplyDelete
  6. Bagus tuh kalau ada sekolah yang keseniannya tinggi. Apalagi kalau seni daerah. Biar gak punah

    ReplyDelete
  7. aku belajar seni tari itu SMP mba teorinya dikit yang banyak prakteknya bahkan ujiannya harus bisa menarikan tarian sendirian hehehe dulu aku inget nari tarian Anjasmara, Katumbiri sama apa ya pokoknya 3 tarian dalam 3 tahun hehehe seru sih kalau anakku sekarang di RA ada eksul nari tapi anakku ga mau milihnya Tahfidz sama Angklung :D

    ReplyDelete
  8. Aku pegang ekstra kurikuler nari juga mbak.padahal aku gak bisa nari.hahahana

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Tabung Elpiji Bisa Berbunyi?

Alhamdulillah, ya Allah...pagi ini masih bisa menikmati sajian makanan meskipun hasil beli di pasar. Iya, tadi pagi sudah semangat untuk bikin sop buat anakku, tapi ceritanya jadi beda gegara ini.
Sebelum sholat subuh, saya merebus daging untuk sop dan menitipkan ke suami untuk melihat api di kompor, karena indikator di regulator menunjukkan gas hampir habis. Namun, suamiku masuk kamar dan aku sholat subuh. Masuk ke rakaat terakhir, saya mencium bau gas, menyengat dan langsung mempercepat gerakan sholat.
Saya matikan api, menarik nafas, karena tidak sampai mati apinya, jadi kalau pasang elpiji bisa gampang pikirku. Selang beberapa lama, saya kembali ke kompor dan mendengar suara mendesis dari elpiji *apa ini? aku panggil suamiku dan suamiku hendak mencabut regulator pada tabung elpijinya. Kaget kami berdua, suaranya dari mendesis menjadi *ngiiiiiiing seperti alarm kebakaran, panjang dan keras.
Saya melihat wajah suami mulai panik, tapi masih terkendali, saya diminta keluar mengajak a…

Bagaimana Cara Print Out Mutasi Rekening BCA

Hallo selamat pagi? semangat pagi karena telah berganti tahun dan berharap tahun 2015 ini semakin lebih baik dari tahun -tahun sebelumnya. Sedikit informasi, tumpukan pekerjaan tahun 2014 masih banyak sekali dan beberapa kendala dari status sebagai anak, istri, ibu, majikan **eheheee..., pekerja kantoran, tetangga dan pengguna jalan umum, membuat pusing tujuh keliling.
Nah, daripada memikirkan masalah yang belum tentu menjadi terhambatnya aktivitas, maka syukurilah apa yang sedang dihadapi. Si embak ijin pulang kampung begitu lama ya..disyukuri saja meskipun tumpukan baju kering banyak.
Lah, apa hubungannya bagaimana cara print out mutasi rekening BCA dengan itu semua tadi? iya, saya itu kan gaptek kalau terpaksa, tapi kalau tidak terpaksa saya akan menjadi tidak gaptek, karena saya males untuk mencari tahu.
Beginilah jika dalam situasi terpaksa, akhirnya saya menggunakan klik BCA yang telah lama dianggurin untuk hal pekerjaan. Kenapa? pernah terblokir malas pakainya jadi ***tuh kan,…

Wardah, Kosmetik Pilihan di Usia 30

Mengingat waktu masih pakai seragam abu-abu putih, bedakpun masih yang beli di warung seharga 500 perak, lipstik cukup pakai madu dan deodoranpun pake yang serbuk anti bau badan. Pantesan banyak cowo-cowo lari lunggang lunggung kali ya dari dirikuh dan enggak punya pacar waktu es-em-a. aaaach kenapa jadi buka rahasia???
Pun ketika sudah menjadi mahasiswa yang katanya lebih dewasa gitu *ini aneh bin ajaib gitu loh, masih pake bedak baby *pyuuuuh. Lipstik udah mule pake lips gloss getu dan deodorant pun ada plus minyak wangi. Tapi untuk riasan wajah, jauh dikatakan dewasa *qiqiqiqiqiqik.

Lambat laun ketika terdampar di kota gudek Jogja yang indah akan eksotisme kulkural dan mengenal dunia kerja, akhirnya mau enggak mau keluar masuk salon yang berdominasi warna empink itu. *uuugh, jadi inget pake pingin ke Jogja.
Kosmetik yang digunakan pun hanya kosmetik dari tempat perawatan tersebut. Bedak masih yang imut-imut dikhususkan pada range usia remaja *laaah, padahal saat itu usiaku sudah tidak…