26 Sep 2017

Wajib Mengikuti Seni Tari di Sekolah Dasar Negeri Kesenian

Pada beberapa sekolah dasar menerapkan jam tambahan pelajaran atau istilah kerennya extra kulikuler yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan pada sekolah tersebut. Di sekolah anakku, tepatnya di MI, untuk kelas 1 dan 2, eskul-nya hanya tahfidz dan tahsin. Pramuka dan olah raga seperti basket, sepak bola dan drum band tidak diperuntukan untuk anak kelas bawah.

Beda halnya sewaktu aku menempuh pendidikan dasarku, di sebuah sekolah dasar negeri di daerah Cilacap Utara. Sejak awal, murid-murid (pada masanya) diajarkan untuk lebih mengenal kesenian. Sampai suatu ketika sekolah dasarku tersebut dijuluki sekolah dasar kesenian. Aku ingat sekali, pada jadwal pelajarannya ada pelajaran seni lukis, seni musik dan seni tari. Sedangkan seni tari diberikan tambahan untuk praktek, pada sore harinya.

Gambar yang sering dibuat untuk menyetorkan hasil karya kepada guru adalah gambar pemandangan sawah dan rumah. Jaraaaang sekali menggambar karakter seperti doraemon. (Eh, itu mah, anakku dink, meyetorkan gambar doraemon dan dorami untuk nilai kepada buguru. Dalam hati aku ketawa *ops).



Maju ke depan sendirian, senderan di papan tulis yang hitam, tangan ke belakang untuk menyanyikan satu buah lagu. Terkadang menunduk, terkadang memainkan jemari dan matanya berkaca-kaca hendak menangis. Sang guru akan melihat dengan seksama, kemudian menutupi gerakan tangannya saat menuliskan nilai dari murid yang bernyanyi dengan sebuah buku.

Seni Tari Teori dan Praktek


Seni tari diajarkan di dalam kelas dengan sebuah teori tapi terkadang praktek. Bagaimana caranya tangan supaya luwes untuk ngiting dan ukel, kalau enggak bisa bakal diulang-ulang terus supaya bisa dan enggak kaku. Selendang juga harus diseblak yang benar, ada gerakan halus dan ada gerakan kasar, dibutuhkan untuk jenis tarian tradisional jawa yang berbeda. Jadi harus bisa nyeblak sampur atau selendang.

Gerakan kaki dalam seni tari juga belibet sekali. Gejuk atau mendhak, sampai sekarang aku belum bisa membedakan. Guru kesenian seni tari ini kebetulan adalah kepala sekolah dari sekolah dasar negeriku. Beliau guru yang tegas dan teliti seklai, jadi saat murid belajar bagaimana caranya ngruji, tapi jemarinya enggak berbentuk ruji, ya sudah diomelin dan diulang-ulang terus. Duh, enggak kelar omelannya.

Praktek seni tari diadakan setiap berapa kali ya dalam seminggu, rasanya aku sering sekali datang ke rumah kepala sekolah untuk les nari. Duh, bahasanya les nari, tapi tidak dipungut biaya. Rumah kepala sekolah sangat luas, jadi bisa digunakan untuk belajar menari satu kelas. Ada banyak lemari yang berisi baju-baju tari tradisional dari seluruh daerah.

Hal yang paling kuingat akan pelajaran seni tari ini adalah saat kakiku sakit. Hari itu aku tidak datang les menari, tapi masuk sekolah. Esok paginya, aku ditanya sampai harus menjawab kenapa hanya sakit kaki, aku tidak datang les menari? kan bisa datang saja dan melihat teman-teman belajar menari. Ilmu menarinya dapat, meskipun tidak ikut menari. Hiks, anak SD loh sudah ditanamkan hal yang seperti itu.  

Foto kuambil dari Sekolah Kita. Gerbang yang menjadi saksi aku jajan cireng dan cilok di situ. Kangen


Kenangan masa sekolah dasar selalu aku ingat, karena terkadang aku masih berteman dengan teman-teman SD. Aku juga berteman dengan rekan blogger yang berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Dari facebook-nya aku mengikuti apa yang sedang dikerjakan. Dari blogpost-nya aku selalu mendapatkan informasi apa yang telah diajarkan dan dipelajari bersama anak-anak muridnya. Cheila R. Firmawati. Cheila juga pernah membagikan hasil gambarnya yang diwarnai menggunakan teknik mewarnai menggunakan gradasi crayon.

Meskipun anakku juga usia sekolah dasar, aku kurang menghayati bahwa anakku adalah anak SD seperti aku 25 tahun lebih yang lalu. Masalahnya, tidak ada satupun seragam sekolahnya yang berwarna merah. Hiks, padahal aku kepingin sekali melihat dia menggunakan seragam merah dan putih, sama sepertiku dulu. Tapi ya sudahlah, semoga semangatnya melebihi semangatku ya, Nak.

14 comments:

  1. Asyik ya ada sekolah dasar kesenian? Di sini nggak ada. Itu sekolah impianku waktu kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan SD kesenian, tapi julukan SD kesenian, karena aktifitas keseniannya tinggi

      Delete
  2. Anakku juga suka gambar kartun buat dinilai gurunya. :'D

    ReplyDelete
  3. dulu jaman aku SD pelajaran kesenian ala kadarnya banget, mba. Terus kemaren anakku dpt tugas bikin perahu pakai origami lha aku sempet kelimpungan.
    Yasudahlah nyontek di yutup aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekarang juga banyak tutorialnya di yutub, dulu mah guru sd masih sabar ngajarin origami, ya

      Delete
  4. baca ini jadi inget jaman kecil. waktu jaman SD saya seneng banget berkesenian, begitu udah smp engga karena guru keseniannya ngeselin hahaha. terus dulu lagu yang diingat minimal ada nyiur melambai, desaku, rambadia, dll. jaman sekarang pelajaran kesenian isinya lagu apa ya? disuruh gambar apa ya? masih pada gambar gunung dua biji ditengah-tengahnya ada jalan gak ya?

    ReplyDelete
  5. malah saya ekstra kulikuler tarian ada nya pas saya SMA, saya sempat join tuh nari daerah mbak. seru2 menantang gitu jadinya :D

    ReplyDelete
  6. Bagus tuh kalau ada sekolah yang keseniannya tinggi. Apalagi kalau seni daerah. Biar gak punah

    ReplyDelete
  7. aku belajar seni tari itu SMP mba teorinya dikit yang banyak prakteknya bahkan ujiannya harus bisa menarikan tarian sendirian hehehe dulu aku inget nari tarian Anjasmara, Katumbiri sama apa ya pokoknya 3 tarian dalam 3 tahun hehehe seru sih kalau anakku sekarang di RA ada eksul nari tapi anakku ga mau milihnya Tahfidz sama Angklung :D

    ReplyDelete
  8. Aku pegang ekstra kurikuler nari juga mbak.padahal aku gak bisa nari.hahahana

    ReplyDelete
  9. Wah kita mungkin seangkatan ya mbak? :) Di SD ku dulu juga ada ekstra nari, dulu tarinya tari Bondan hehe. Gak pernah menekuni tari, awal tinggal di sini sempat ikutan grup tari Indonesia hahaha...

    ReplyDelete