10 Feb 2018

Mengendalikan Emosi Seperti Bermain Layang-Layang


[Pengembangan Diri] : Langkah Mewujudkan Resolusi , Jiwa dan Raga Sehat


Alhamdulillah Hari Sabtu ini saya berhasil menaklukan kantuk dans egera bangun setelah alarm berbunyi. Sebelum tidur, saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk bangun lebih pagi. Saya menyeting alarm jam tiga pagi. Ada banyak hal yang harus saya kerjakan di Hari Sabtu ini. Saya berpikir, apabila bukan diri sendiri yang menerapkan disiplin, siapa lagi? apa perlu sewa tentara untuk terus menyemangati dan membangunkan saya dari keterlenaan yang maha dahsyat ini.

Unsplash


Saat teman-teman beramai-ramai menuliskan resolusi untuk satu tahun ke depan. Saya hanya terdiam. Saat teman-teman beramai-ramai mengevaluasi yang telah terjadi selama satu tahun ke belakang, saya tidak bergeming. Dalam hati saya melakukan dua hal. Pertama mensyukuri setiap tarikan nafas, setiap senyum, setiap kalimat, setiap perbuatan dan setiap tindakan yang membuat orang lain bahagia. Kedua saya menangis meraung-raung, meratapi betapa banyak sekali kalimat, sikap dan mungkin tindakan yang membuat orang lain sedih akan kalimat dan tindakan yang sudah dengan sengaja keluar dari diri ini.

Mengendalikan Emosi


Tidak muluk-muluk, saya berharap hari-hari ke depan, saya ingin menambah syukur dan mengurangi tangisan penyesalan. Salah satu hal yang mungkin dapat saya lakukan adalah Mengendalikan Emosi. Mengatasi Emosi dengan bijak. Mengurangi Emosi yang tidak baik. Mungkin dapat meminimalisir Emosi yang tidak perlu. Tujuannya supaya saya dapat memiliki hidup yang lebih baik. Saya dapat memiliki jiwa yang bahagia yang setiap saat dapat menularkan kepada siapapun. Saya dapat memiliki badan yang sehat yang dapat saya pergunakan untuk melaksanakan aktifitas yang bermanfaat.

Emosi menurut Wikipedia Indonesia, merupakan perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. 

Dalam sebuah seminar parenting. Emosi itu dimiliki oleh semua orang. Emosi bisa senang, bisa sedih, bisa haru dan semua emosi tersebut memiliki tingkatan/ level. Contohnya, saat ada tiga orang ibu, mendapati anaknya sama-sama memecahkan gelas kesayangannya. Emosi yang keluar sudah apsti emosi marah. Namun emosi pada tiga ibu tersebut dapat berbeda-beda. Ada yang marah dengan terkendali. Marah dengan mencak-mencak. Mungkin ada yang marah dengan halus. 

Seperti Bermain Layang-Layang


Mengendalikan emosi itu layaknya bermain layang-layang. Saat saya sudah agak kendor, ternyata ada angin yang membawa layang-layangku terbang ke atas dengan kuat. Saya tak dapat mengendalikannya dan akibatnya ada dua, saya jatuh terseret atau saya dapat mempertahankan pijakan dan semakin kuat mengendalikan layang-layang. Saya harus terus belajar, bagaimana saat mengendalikan layang-layang, saya dapat seirama dan sejiwa. Saat ada angin kencang membawa layang-layangku, saya harus sadar, saya harus siap dan saya harus semakin kokoh mempertahankan pendirian saya. Menata jiwa, tenaga dan emosi supaya layang-layang tetap stabil.

Beberapa kali saya mencoba belajar mengatasi emosi saat anak-anak sedang bertengkar. Dulu, saya akan langsung marah tanpa terlebih dulu "jeda" dari keadaan diri saya. Maksudnya saya akan langsung marah. memarahi siapa yang salah dan kemudian ngomel. Saat ini, saya berusaha untuk "jeda" menarik nafas terlebih dulu, diam dan kemudian mendatangi anak-anak. Saya akan diam sampai mereka yang akan berbicara terlebih dulu. Saya akan bilang bahwa saya marah atas kelakukan dan perbuatan si salah. Saya minta untuk tidak mengulangi lagi. Tanpa membicarakan perbuatan anak saya yang salah.

Perjuangan Mengendalikan Emosi


Perjuangan memang, butuh effort yang benar-benar kuat untuk mengatasi emosi tersebut. Awal-awal terasa aneh. Awal-awal terasa, ini  bukan saya. Tapi lama kelamaan saya akan menyadari bahwa inilah sesungguhnya yang harus dilakukan. Saya hidup untuk apa? apakah saya harus terus menerus terbawa emosi negatif?. Bukankah emosi negatif apabila diikuti akan berdampak negatif? Dampak negatif dapat berpengaruh kepada diri sendiri dan orang lain. Mau pilih mana?


Saya bersyukur langkah awal supaya jiwa dan badan saya semakin sehat, perlahan-lahan bekerja dengan baik. Saya akan berusaha untuk menikmati masa-masa indah ini. Masa saya harus menyadari keberadaan saya untuk pasangan dan keluarga. Masa saya harus "jeda" terlebih dahulu saat mendapati hal yang tidak saya sukai. Hal yang tidak saya sukai biasanya membuat saya emosi. Dengan "jeda" saya dapat menarik nafas dan memasukan energi positif untuk menerima bahwa hal yang membuat emosi itu, hanya sementara, kenapa harus memuncakkan emosi?. 

Ya Allah, rasanya lega sekali. Senyumpun terkembang saat menuliskan ini. Sebuah obat yang luar biasa membantu menuntun langkah terbaik merealisasikan resolusi di tahun ini dan tahun tahun ke depan, aamin. 

5 comments:

  1. Semakin bisa mengendalikan diri, maka akan semakin sehat ruhani, begitu juga akan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani. Makasih banyak ya, Mbak, artikelnya penting ini.

    ReplyDelete
  2. Sangat betul,,saya sendiri terkadang juga masih susah untuk mengendalikan emosi sendiri,,sangat inspiratif :)

    ReplyDelete
  3. Setuju mbak... jika kita mampu mengendalikan emosi kita dengan baik, insya Allah sepanjang tahun hidup kita akan terasa lebih adem dan tentram lagi...

    ReplyDelete
  4. Saya suka perumpamaannya, mengelola emosi seperti bermain dengan layang-layang

    ReplyDelete
  5. hal yang paling menantang diri adalah mengendalikan emosi diri sendiri, Juaraaa banget kalo udah bisa menenangkan. Alhamdulillah aku mah selalu jadi juara Mak, belajaar..dan belajaar!

    ReplyDelete