26 May 2018

Melihat Keunikan Kampung Naga Tasikmalaya



[Jalan-Jalan] : Kampung Naga Tasikmalaya


Kota Tasikmalaya sering saya lewati saat melakukan perjalanan balik dari kampung halaman. Belum pernah mampir dengan sengaja untuk melihat kota yang terkenal santrinya, dan belum pula menikmati keindangan kota Tasikmalaya. Hanya sempat mampir untuk sholat di sebuah masjid di kota tersebut.

Foto Sportourism.id


Tasikmalaya merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki banyak potensi wisata. Letaknya berada di pesisir pantai selatan, menjadikan Tasikmalaya kaya akan spot-spot wisata terutama wisata pantainya. Saya tertarik untuk menikmati hijau-hijauan yang terlihat dari pinggir jalan utama. Rasanya saya akan menemukan kesegaran di sana. 


Tidak hanya spot wisata, ternyata Tasikmalaya memiliki potensi wisata lain, seperti wisata alam dan wisata budaya seperti yang disuguhkan seperti di Kampung Naga. Pertama kali mendengar nama Kampung Naga adalah saat saya kuliah. Seorang teman berasal dari Tasikmalaya.

Kampung Naga merupakan sebuah perkampungan di Tasikmalaya. Salah satu hal yang membedakan dengan perkampungan lainnya adalah, masyarakat di kampung ini masih sangat kuat memegang teguh adat istiadat peninggalan leluhur mereka, yakni adat istiadat Sunda.

Kampung Naga sering dijadikan objek kajian dan penelitian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda. Duh, serasa belajar di SMU lagi nihc, tentang kehidupan masyarakat pedesaan.

Lokasi Kampung Naga


Secara administratif, Kampung Naga terletak di wilayah Desa Neglasari, Kabupaten Tasikmalaya. Lokasinya berada tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Kota Garut dan Kota Tasikmalaya. Dari Kota Tasikmalaya, kawasan ini bisa ditempuh dengan berkendaraan selama kurang lebih 30 menit.

Teman-teman yang akan berangkat dari Kota Jakarta, dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum seperti Bus Primajasa dengan jurusan Kampung Rambutan - Garut. Setelah itu, turun di Kampung Naga. 

Untuk lebih memudahkan, teman-teman dapat memesan tiket Bus Primajasa di Traveloka. Traveloka kini melayani pula pemesanan tiket bus, loh. Selain mudah, Traveloka telah bekerja sama dengan banyak PO Bus, salah satunya bus Primajasa ini.

Secara geografis, Kampung Naga terletak di bawah tebing. Hal inilah yang mendasari nama Kampung Naga, yaitu yang berasal dari kata Nagawir yang artinya jurang. Kemudian asal kata tersebut menjadi singkatan Kampung Naga.

Lokasinya yang berada di sebuah jutang, kampung ini menawarkan suasana perbukitan alami yang masih asri dengan hamparan sawah yang luas.

Rumah Tradisional Unik Kampung Naga


Ada banyak hal unik dari Kampung Naga, salah satunya adalah rumah tradisionalnya yang unik. Rumah-rumah di Kampung Naga memiliki kekhasan rumah tradisional yang terbuat dari bahan kayu, bambu dan daun nipah sebagai atap rumah.

Semua rumah harus menghadap ke arah utara dan selatan. Hal tersebut dimaksudkan supaya tatanan perkampungan terlihat lebih rapi. Saat teman-teman akan memasuki rumah di Kampung Naga, teman-teman tidak akan menjumpai perabot rumah tangga seperti meja, kursi atau perabotan lainnya.

Antarafoto/ Adeng Bustomi

Ada hal yang unik lainnya adalah, jumlah bangunan di Kampung Naga akan tetap jumlahnya. Jumlah bangunan di sana berjumlah 113 bangunan yang terdiri dari 110 rumah dan 3 bangunan fasilitas umum. Hal ini merupakan peraturan tersendiri dari kampung tersebut.

Kampung Naga, Kampung Tanpa Listrik


Kehidupan masyarakat Kampung Naga bergantung pada sumber daya alam di sekitar mereka. Jadi, jangan heran ya, jika di kampung tersebut tidak ada listrik.  Adat tidak membenarikan penggunaan listrik dikarenakan kemungkinan akan terjadi ketimpangan. Cara memasak mereka juga masih sangat sederhana dan tradisional. Mereka memasak hanya menggunakan tungku dan kayu bakar.

Tradisi Gusuran di Kampung Naga


Keunikan Kampung Naga lainnya adalah adanya tradisi gusuran. Tradisi gusuran adalah tradisi prosesi masuknya anak perempuan di bawah lima tahun ke dalam Islam karena mereka dianggap telah memasuki masa aqil baligh.

Proses ini terdapat persyaratan wajin yang terdiri ayam hitam, beras, kemenyan dan koin. Di Kampung Naga memegang adat istiadat Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat, sehingga adat budaya yang mereka anut masih amat kental. 

Masyarakat Kampung Naga mengganggap bahwa menjalankan adat istiadat warisan nenek ,pyang berarti sama saja menghormati para leluhur.

Upacara Hajat Sasih di Kampung Naga


Masyarakat Kampung Naga percara mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke Mekkah untuk pergi haji. Mereka cukup melakjukan upacara Hajat Sasih yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Haji ( 10  Dzulhijjah).

Menurut kepercayaan mereka, upacara Hajat Sasih sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri.

Bagaimana teman-teman, tertarik untuk melihat secara langsung keunikan budata, adat istiadat ataupun pemandangan Kampung Naga? segera yuk jadwalkan liburan teman-teman ke kampung ini. Selain mendapatkan pemandangan indah, teman-teman akan mempelajari hal-hal baru dari Kampung Naga tersebut. 

1 comment:

  1. Namanya unik ya, kampung naga. Jadi inget zaman aku masih kecil dulu waktu masih nggak ada listrik. Lampunya pake lampu yang dipompa dan digantung itu, apa ya namanya? Ehhm aku nyebutnya lampu strongkeng hehe

    ReplyDelete