4 Jul 2018

Mudik Lebaran Episode Pertama Menikmati Lengangnya Jalanan Ibukota



[Gaya Hidup] : Mendiskusikan Mudik Lebaran


Alhamdulillah sudah 10 kali berlebaran bersama dengan si pendamping hidup, abinya anak-anak. Sebelum menghadapi ramainya orang-orang antre membeli tiket mudik lebaran, saya dan suami sudah ngobrol ngalor dan ngidul, tips dan trik menghadapi mudik lebaran. Tentang tradisi berlebaran di keluarga besar, tentang di mana lebaran pertama harus hadir, karena saya dan suami masih memiliki ibu dan bapak.

Mudik jauh itu rasanya menyenangkan seperti ini, macet di jalanan Bendung Gerak Serayu Banyumas


Satu hal yang sangat sederhana tentang di mana lebaran pertama dan kemana mudik lebaran adalah giliran. Contohnya, tahun ini mudik lebaran supaya dapat berlebaran di rumah orang tua saya, tahun depan, lebaran pertamanya berarti di rumah mama mertua. Apabila tidak ada keperluan yang urgent, lebaran ke dua/ ketiga, baru dech cuz ke rumah orang tua saya. Biasanya sich di rumah orang tua saya yang lebih lama, karena kan jauh. Hal seperti itu, juga sebaiknya dikomunikasikan terlebih dulu ya, supaya ndak saling menggerutu.

Mudik Lebaran Pertama ke Ibu Kota Jakarta


Jadi, mudik lebaran tahun ini seperti mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya, selalu mempunyai dua episode. Episode pertama mudik ke rumah mama mertua di Jakarta Raya, pada sore menjelang takbiran. Berangkat dari Tangerang ba'da Ashar sudah membawa koper-koper berisi pakaian untuk mudik episode ke dua yaitu ke Cilacap, ke rumah orang tua saya. Memang rencananya setelah Sholat Idul Fitri, langsung cuz ke Cilacap karena ada acara silaturahmi keluarga besar suami di Banyumas pada hari ke dua Lebaran.

Mudik lebaran episode pertama di toll Tangerang-Jakarta, lancar


Rute mudik lebaran episode pertama rencanya akan mampir ke jalanan di pusat Ibu Kota Jakarta, mampir ke Monas, mampir ke Istiqlal untuk menikmati lengangnya Ibu Kota yang ditinggal mudik para perantau atau penduduknya yang mudik ke kampung halaman. Sayang disayang, padahal hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari pintu toll Karang Tengah ke Jakarta. Karena keasyikan otak atik mirroring di mobil, keberangkatan molor pada pukul 5 kurang. Beuh, sayang banget kan.

Rutenya berubah ke arah Bendungan Hilir, mau mencari takjil yang konon ada pasar Benhil yang ramai menjelang buka puasa. Mencari-mencari sampailah di sebuah pertigaan, ada beberapa penjual takjil dan suami bertanya, mau mencoba beli? awalnya saya geleng, karena memang gak begitu tertarik. Tapi pas melihat ada Burger King, langsung saya minta turun dan memastikan voucher MAP terbawa di dompet, wkwkwkwkw, maunya gratisan, buu. Tapi entah magnet dari mana, setelah membeli paket nasi ayam, kentang campur beef yang dikasih mayonaise dan saos keju, kok kaki saya melangkah ke penjual gorengan yak. Wkwkwkk, Alhamdulillah kerusakan terjadi hanya uang 10.000 rupiah yang tergantikan dengan 3 buah tempe goreng/ mendoan dan 2 buah risol isi bihun.

Buka Puasa di Perjalanan Mudik Lebaran


Setelah menceritakan hasil belanjaan, suami melanjutkan perjalanan dan nampaklah sederetan parkiran sepeda motor dan terlihatlah bermacam-macam takjil buka puasa yang sangat buanyak. Ealaaah, pasarnya di sini, wkwkwkkwk, berhenti ndak, berhenti ndak, akhirnya lanjuuut. Lain kali mau susurin lagi nich, pasar benhil, banyak banget pilihan takjil buka puasanya. 

Melewati Monumen Nasional, Adzan Maghrib berkumandang. Alhamdulillah di mobil sudah tersedia 1 pack air mineral bekal perjalanan mudik dan kerusakan membeli takjil di pinggir jalan serta hasil belanja di Burger King  voucher MAP gratis. Saya memberikan mendoan ke suami dan kebetulan anak lanang belum bangun, jadi harus membangunkan dulu. Eh kata dia, barus aja mimpi mencium aroma kentang yang ditaburi beef dan mayonaise. Lah emang ada di mobil, ternyata aromanya bisa masuk ke alam mimpinya bocah.

Jadi, buka puasa di akhir bulan Ramadan tahun ini adalah di jalan, yap bukan buka puasa di luar lagi kan namanya, tapi di jalanan. Sepanjang perjalanan mudik ke Jakarta Utara, saya, suami dan anak lanang, makan apa yang sudah dibeli di jalanan tadi. Alhamdulillah nikmatnya melebihi apapun dech. Mau mampir ke Istiqlal, rasanya pas pulang bakal macet, karena kabarnya ada takbiran keliling/ takbiran di taman monas. 

Sholat Maghrib di Masjid Ramlie Mustofa


Perjalanan berlanjut sampai Danau Sunter, suami saya memutuskan untuk melaksanakan sholat Maghrib di Masjid Ramlie Mustofa yang sering banget dilewati, tapi ndak pernah mampir. Dari jauh, banyak sekali mobil parkir di sepanjang jalan sebelum dan sesudah Masjid Ramlie Mustofa. Ya kali memang waktu untuk melaksanakan sholat maghrib, bu.

Masuk ke dalam pelataran Masjid, bangunannya kurang terlihat, karena ada tenda untuk buka puasa dan memang sudah gelap. Dua orang satpam menyapa dengan senyuman yang ramah dan salam yang sangat tegas. Luar biasa, satpamnya masjid ya harus mewakili apa yang dijaganya ya. Saya dan anak perempuan saya, masuk ke dalam tempat wudhu wanita. Design-nya sangat bagus, penerangannya agak redup gitu, jadi kalau mau selfi agak kurang cocok menjelang malam, eh. Gak ding, saya hanya mengambil gambar anak perempuan yang sedang wudhu saja.

Untuk sholat, jamaah wanita dipersilahkan langsung masuk dari ruang wudhu, disambut dengan gantungan mukena yang tidak sedikit, banyak loh. Kebetulan, saya membawa mukena sendiri, dan anak perempuanku, ditanya mau pakai mukena atau ndak, jawabannya menggeleng. Pas mau sholat, melihat ke atas, saya kaget, eh ada tampilan video di televisi. Ada suami dan anak lanang saya sedang sholat. Untungnya anak perempuan saya ndak teriak panggil-panggil, hanya saja, mencari di mana gerangan abi dan kakaknya berada.

Keluar dari ruang wudhu, saya melihat banyak sekali jamaah yang berfoto, kan saya jadi kepingin. Sayangnya tidak bisa menjelajah seluruh bagian Masjid Ramlie Mustofa karena memang sudah malam, sudah lapar kepingin makan berat dan sudah lelah mungkin selama perjalanan mudik lebaran episode pertama, hehehehehee, Tangerang-Jakarta Utara, mudik di malam takbiran itu nggak nyampe 2 jam, bahkan kalau ndak mampir-mampir bisa 1 jam saja. Hari biasanya? jangan ditanya, pernah 4 jam dari Tangerang ke Tanjung Priuk.





Sampai di rumah mama mertua, Alhamdulillah hidangan berat untuk lebaran sudah mateng, tinggal santap. Ada ketupat, ada rendang, ada rica-rica bebek, ada opor ayam, lengkaaap sekali. Tapi saya hanya icip kuah opor dan menyantap semur daging buatan saya sendiri. Alhamdulillah nikmatnya berlebaran adalah nikmatnya berkumpul bersama keluarga. Baik itu keluarga sendiri, maupun keluarga dari suami, semua sekarang sudah menjadi keluarga dan saudara. Yuk, perpanjang tali silaturahmi dan saling menyapa supaya anak-anak jadi mengenal saudara. Eng ing eng, meskipun sekarang ada smartphone yang menyita perhatian, ternyata tidak selamanya berimbas negatif loh. Karena  eh karena, anak lanang saya kenal nama saudara jauh suami itu karena mereka bermain game online yang paling ndak saya suka, khawatir sekali saya ini. 

10 comments:

  1. Ibu kota sepi, ditinggal penduduknya mudik ke desa hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sayang nggak sempet foto di jalanannya

      Delete
  2. Musim mudik lebaran arah ke kota lenggang, arah ke desa yang padat merayap hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehee iya, nuansanya beda banget, ya

      Delete
  3. Ibu kota sepi, bukti bahwa di Jakarta penduduknya mayoritas pendatang.

    ReplyDelete
  4. Mudik memang menjadi tradisi yang unik di Indonesia ya hehe

    ReplyDelete
  5. Walaupun tradisi mudik lebaran berlangsung setiap tahun, tapi selalu ada cerita yang berbeda di setiap tahunnya.

    ReplyDelete
  6. Wah keliatannya sangat menikmati setiap momen mudik lebaran ya

    ReplyDelete
  7. mudik ke jakarta mah enak mas. sepi kayak bukan ibukota. coba ya tiap hari jalanan begitu berangkat kerja juga tenang dan semangat. yang penting bisa jalan-jalan dan silaturahmi bersama kerabat dan keluarga merupakan hal yang luar biasa.

    ReplyDelete