22 May 2019

Kenangan Bulan Ramadan di Tahun 90-an


Puasa di bulan Ramadan menjadi satu kewajiban bagi umat muslim di seluruh dunia. Bulan Ramadan di setiap tahunnya pasti meninggalkan cerita yang menjadi kenangan bagi siapapun. Buatku kenangan itu tidak akan terkenang terus kalau tidak diingat kembali, kalau tidak diceritakan kembali. Beruntunglah menjadi generasi 90-an, di mana sekarang menjadi generasi yang dikenang menjadi generasi paling menyenangkan pada jamannya. Termasuk juga kenangan puasa di bulan Ramadan.

kenangan bulan lebaran
kenangan ramadan anak-anakku kelak


Kenangan puasa di bulan Ramadan itu ada banyak sekali di setiap tahunnya. Pasti dech di setiap bulan Ramadan ada saja kenangannya, apalagi seiring bertambahnya usia dan perubahan dalam kehidupan. Di tahun 90-an itulah masa-masaku dari anak-anak menuju remaja dengan segala permasalahan dan cerita yang tercipta. Cerita yang menjadi kenangan terbingkai dengan rapi dalam ingatan. Beberapa kali melihat artikel dan meme viral anak 90-an, saya ikutan mesem-mesem. Seperti melihat di situ ada saya yang masih culun bin wagu.

Lalu apa saja sich sebetulnya kenangan puasa di Bulan Ramadan di masa kecilku dulu? apakah sama dengan yang menjadi cerita dari anak-anakku sekarang? bisa jajan takjil sendiri di depan komplek perumahan. Bisa pegang hape seharian, ngedowload game sesuaka hati karena ada internet via WiFi rumah yang hora hore. Bisa nonton televisi seharian tanpa diganggu, karena televisi sudah satu kamar satu. Ternyata tidak temans, boro-boro nonton televisi sebelum adzan maghrib berkumandang. Andalanku jaman dulu untuk tahu waktu berbuka puasa itu yaaaa dari Radio. 😬

1. Bangun Sahur Paling Akhir


Kangen gak sich flash back ke masa 30 tahun yang lalu. Saat masih menjadi anak kecil yang tidak wajib bangun lebih pagi untuk menyiapkan makan sahur? dibangunin bapak yang sabaaaarnya luar biasa. Bapak membuka pintu kamar, nyalain lampu, duduk di pinggir ranjangku. Bukan yang teriak teriak, bukan yang gedorin pintu supaya saya bangun, bukaaaan.

Bapak cuma akan mengusap dahiku, membenahi poni manjaku dan menyampaikan jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Mau tidak mau bangun dong ya. Karena di akhir tahun 90 an, saya memiliki permintaan kepada Bapak untuk dibangunin menjelang imsak. Duh menyenangkan sekali masa 30 tahunku yang lalu ya.

Now : Bangun paling awal, menyiapkan makan sahur, membangunkan anak lanang, duduk makan dan membereskan sisa peralatan makan sendiri juga. Bisa kubilang kenapa kenangan itu terulang lagi setelah 30 tahun ya? tapi saya yang menjadi ibuku dan anakku menjadi diriku yang dibangunin menjelang imsak. 

2| Berangkat Bersama-sama untuk Sholat Subuh di Masjid


Keluar rumah masih gelap gulita dan menuju tempat janjian bersama teman segengs. Iya dulu sudah ada geng-gengan. Sebetulnya bukan geng kaliya, tapi karena rumah kami satu jalan menuju masjid yang jarak tempuhnya 10 mneit tapi jauh sekali. Makanya kelihatan ngegengs padahal memang satu jalur saja rumahnya.

Tidak ada janjian menggunakan japrian di chat Whatsapp maupun di WAG. Janjian kami ya setelah pulang sholat taraweh. Sholat subuh berjamaah di masjid kalau tidak dilakukan rasanya merasa bersalahnya ke teman-teman yang sudah janjian. Wkakkkw, lucu banget dech jaman dulu, masih takut gak ditemenin kalau ingkar janji.

Now: Merelakan diri untuk tidak sholat subuh berjamaah di masjid karena ada anak kecil. Anak kecil yang dengan penuh semangat, melakukan story telling saat jamaah sedang mendengarkan imam membaca surat Al Fatihah. Kata si anakku ini, habis Fira gak diajak mainan sama ummi, jadi Fira ngobrol sendiri aja. 


Mungkin ya, mungkin. Jaman 30 tahun yang lalu, saya dan teman-teman suka ngobrol sampai ketawa ketawa disaat para jamaah yang kebanyakan nenek-nenek sedang khusuk sholat. 

3| Mukena dan Sajadah


Satu hal yang membuatku suka tertawa geli sendiri adalah cara menyiapkan mukena dan sajadah serta cara membawanya. Pertama-tama, sajadah dilipat menjadi dua. Ke-dua letakkan mukena yang sudah dilpat rapi di tegah-tengah sajadah yang telah dibentangkan. Posisi mukenanya miring ya sis, jadi kepingin ngasih tutorial loh.

Ke-tiga letakkan buku kegiatan Ramadan di atas mukeana. Pernah juga ada yang membawa camilan, pisang gorenglah, pisang buah aslilah atau permen, ssssst. Langkah terakhir nih tutup sajadah seperti cara membuat amplop. Bisa dibayangkankah? semoga bisa ya, heheheee. Saatnya berangkat menuju masjid dengan sajadah dibawa di depan dada, berkerudung putih yang pinggirannya ada rendanya. Selalu posisinya begitu, belum ada kepikiran membawa dengan tas atau tali, ehheee.


Now : Anak sekarang lebih cerdas dari anak jaman dulu, mukena langsung dipakai saat berangkat. Saat pulang dari masjidpun, anak generasi sekarang lebih menyukai masih menggunakan mukenanya. Anakku yang perempuan belum kelihatan nih, masih balita soalnya. Tapi juga kuajari memakai langsung mukena dari rumah, ehehehe.

4| Buku Kegiatan Ramadhan


Satu hal yang tidak pernah dilakukan anak generasi setelah 30 tahun yang lalu. Menunggu imam sholat taraweh dan pengisi kuthbah menyelesaikan ibadahnya. Setelah kedua orang penting itu siap, kami semua tidak saling berebut loh untuk menyodorkan buku kegiatan Ramadannya. Tapi antre duduk dan menunggu dengan sabar sampai buku sudah ditandatangani oleh dua prang penting itu.

Lupa kapan buku Ramadan itu sudah tidak diadakan lagi. Dengan adanya buku ini, saya dan anak generasi 90-an mendapatkan banyak hikmah. Hikmahnya baru terasa sekarang, kalau dulu mungkin suka bingung. Jadi, buku ini adalah buku yang diberikan (beli atau diaksih ya? lupa, ehehe) pihak sekolah.

Buku kegiatan Ramadan berisi kegaitan-kegiatan selama bulan Ramadan. Ada check list sholat wajib, sholat taraweh, sholat jumat. Isian setiap kegiatan, ada tanggal, ada tempat sholat, nama imam, nama orang yang memberikan khutbah, isi khutbah juga harus diisi, paraf dari dua orang penting. Buku kegiatan Ramadan juga harus diberi paraf orang tua dan dikumpulkan setiap beberapa hari sekali untuk dicek oleh guru kelas.

Berat sis. Berat bangetlah, tapi anak generasi 90-an tidak ada yang ogah-ogahan menjalaninya. Semua dijalani dengan senang meski kadang ada yang absen, yah wajarlah ya. 

Now : Anakku kuceritain adanya buku kegaitan Ramadan langsung geleng kepala. entahlah, mungkin dulu aku seperti itu. 

5| Jalan Kaki Pergi ke Pantai di Pagi Hari


Namanya apa ya kalau ngabuburit kan jalan-jalannya sore menunggu adzan maghrib. Nah ini setelah pulang dari sholat subuh di hari libur, saya dan teman-teman berjalan ke arah pantai. Jarak dari rumahku ke pantai itu kurang lebih ditempuh selama 15 menit lebih. Tapi namanya jalan beramai-ramai bukan hanya dengan rombongan temans, jadi senang-senang saja.

Pantai dipenuhi pengunjung, baik anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu bahkan usia lanjut juga datang ke pantai. Anak-anak bermain ombak, berlarian, bermain pasir dan setelah matahari mulai panas, semua pulang. 


Now:  Jalan- jalan setelah subuh menjadi hal yang paling saya rindukan di 30 tahun kemudian ini. Rasanya menyenangkan sekali bisa jalan-jalan pagi setelah subuh bersama teman-teman. 

Oh iya, pernah suatu hari, sudah janjian dengan teman-teman untuk jalan ke pantai. Tapi karea ibu baru melahirkan adik, saya tidak diijinkan berangkat. Tahu apa yang saya lakukan? Isi rak sepatu saya keluarkan dan saya lempar ke arah kamar, di mana ada adik bayi. Sampai satu keset mampir ke badan adik bayi saya. Ya Allah, kenangan itu terkenang terus. 

6| Ngabuburit Memancing di Tepi Sawah


Sore hari saat hari libur, Bapak mengajak anak-anaknya pergi ke tepi sawah di dekat rumah. Sementara ibuku menyiapkan menu untuk berbuka puasa. Bapak membawa pancing bambu yang dibuat sendiri. Saya pernah diminta tolong membeli mata pancingnya, duh kecil sekali itu.

Meskipun sederhana, memancing menggunakan pancing bambu dan di tepi sawah. Rasanya kenangan itu ingin kuambil gambarnya. Melihat tawa riang dan wajah-wajah gembira bersama-sama menghabiskan waktu untuk menunggu adzan maghrib berkumandang. 

Now: Saya menjadi ibu dan suami menjadi bapaknya anak-anak, hal yang paling menyenangkan menunggu adzan maghrib sekarang adalah gegoleran bareng di kasur. Aktifitas yang tinggi dan berbagai kegaitan diikuti oleh anak-anak, rasanya berada di kasur bersama sembari bercerita adalah hal yang bisa dipilih. 


Tapi sekarang saya sangat merindukan semua situasi yang diceritakan di atas. Hiks, seandainya ada gambar yang menjelaskan. 

7. Berbuka dengan Takjil Buatan Ibu


Anak sekarang mempunyai pilihan berbuka puasa dengan takjil yang disediakan hampir di sepanjang jalan. Mulai dari home made, buatan kedai sampai buatan tempat makan kekinian yang disukai anak-anak. 

Masa kecil saya jarang menemui penjual takjil memenuhi sepanjang jalan. Jadi, tidak membuka kesempatan untuk jalan sebetulnya. Berbeda dengan anak saya, ada banyak pilihan jajanan dan dia mesti nyoba dengan membelinya.

Takjil-takjil yang ibuku siapkan dulu antara lain : kolak dengan berbagai isian, es dawet Banjarnegara, es dawet biasa, es buah, setup pisang, bubur kacang hijau, tahu masak, bubur mutiara dan masih banyak yang lain.


Now: Saya kok menjadi malu dengan kreatifitas ibuku dulu ya. Apa kabar saya sekarang? yang dengan percaya dirinya mengeluarkan ultimatum lebih baik waktunya dihabiskan bersama anak-anak daripada di dapur. Qiiiqi, intinya saya tetap memasak, tapi memasak yang praktis, like rendang, masak lama tapi sekali doang. Untuk takjilan saya pilih buah asli atau di buat salad. Praktis sekali kan? mana pernah saya bikin kolak sampai puasa hari ke sekian ini. Hehee.

8. Petasan Menjelang Sholat Taraweh


Jaman dulu petasannya membuat kotor jalan dech pokoknya. Sampah-sampah potongan kertas berserakan di setiap persimpangan jalan. Kami, anak-anak perempuan akan berlarian apabila ada anak laki-laki akan memasang petasan.

Bedanya dengan sekarang, anak laki-laki sopan-sopan. Mereka tidak akan menyalakan petasan saat ada orang akan lewat. Mereka akan memberhentikan terlebih dahulu orang lewat sebelum petasan menyala.

Now: Petasan sudah dilarang karena sangat membahayakan. Perbedaannya adalah pada etika anak-anak menyalakan petasan. Pada puasa hari ke-dua saya akan menuju rumah seorang teman. Saat akan berbelok ke pertigaan, ada segerombolan anak-anak sedang bermain petasan yang mengeluarkan asap berwarna biru. Bukannya berhenti menyalakan, eh malah saat saya lewat mereka dengan sengaja menyelakan. 

Menuliskan kenangan masa kecil apalagi kenangan di bulan Ramadan memunculkan rasa rindu yang sudah tersimpan dalam. Buat saya yang berada di rantauan. Menuliskan kenangan-kenangan itu seperti menderaskan air mata yang turun. Wajah-wajah teman sepermaian muncul satu persatu. Nama panggilan mereka satu per satu terdengar di sini. Kencang dan memberikan semangat ingin segera pulang ke kampung halaman.

Sayangnya, kampung halaman semasaku kecil berpindah-pindah tempat. Tak dapat kujangkau wajah mereka saat kepulanganku bersama keluarga kecilku disaat mudik. Ya Allah kenapa jadi mewek di sini. Baru kusadari, ternyata mereka, teman-teman masa kecilku memberikan makna terindah dalam kenanganku di bulan Ramadan ini. Kangen. 

No comments:

Post a Comment

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih