30 May 2019

Mudik Menjadi Salah Satu Tradisi Lebaran di Masyarakat Indonesia


Terpisah jauh dari rumah tinggal bapak dan ibu. Dari sanak keluarga kandung menjadikan saya sebagai seorang perantau. Merantau ke kota satu ke kota satu yang lainnya. Sampai akhirnya menetap di sebuah kota di pinggiran Jakarta Raya.

Perjalanan mudik tahun 2012


Berumah tangga bersama suami dan akhirnya beranak pinak di kota perantauan. Menjadikan sebuah mudik sebagai tradisi lebaran yang setiap tahun pasti disempatkan. Merantau dan mudik ini sudah sejak masa kuliah saya lakukan. 

Kuliah di kota sebelah rumah tingga bapak dan ibu. Mengharuskan saya harus ngekost. Mudik setiap bulan sekali, bahkan pernah selama enam bulan tidak mudik. Saat ini mudik diidentikan dengan tradisi lebaran


Mudik yang diartikan sebagai kegiatan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia menjadi tradisi tahunan menjelang hari kemenangan. Tradisi lebaran yang tidak pernah ditinggalkan yaitu mudik.

Setiap satu tahun sekali, masyarakat Indonesia rela begadang untuk mendapatkan tiket mudik menggunakan kereta api/ bus/ pesawat terbang. Di satu sisi lain, ada pekerja migran yang akan mudik harus merelakan uang tabungan diambil untuk perjalanan mudik.


Para pekerja migran tersebut akan melakukan tradisi lebaran tersebut menjelang hari kemenangan tiba. Tetangga sebelah rumah mudik satu minggu sebelum lebaran. Ada juga yang mudik setelah hari H ada juga yang mudik menjelang hari kemenangan tiba. 

Saya dan keluarga pernah merasakan berbagai kondisi mudik untuk mengikuti tradisi lebaran tersebut. Mudik menjelang hari kemenangan tibalah yang sering. Sampai di kampung halaman tepat saat kaum muslim mengumandangkan takbir. Tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya terharu mendengar takbir saat kendaraan memasuki kampung halaman tercinta.

Pengalaman Mudik


Mudik merupakan tradisi lebaran yang selalu ditunggu. Anak sulung saya sudha tidak sabar menunggu kapan mudik ke rumah Utinya di Cilacap. Jarak yang memisahkan terlalu jauh, menjadikan mudik ke Cilacap dilakukan hanya dua kali dalam satu tahun.

Sampai hari ini saya masih belum menyiapkan perlengkapan mudik. Hanya daftar perlengkapan mudik yang sudah dibuat. Apalagi hari ini saya jatuh sakit dan tenaga masih belum terkumpulkan untuk menyiapkan travel bag dan beberapa peralatan yang akan dibawa mudik. Insya Allah satu hari sebelum mudik, semua harus sudah disiapkan untuk kelancaran mudik lebaran.

perjalanan mudik terberat di tahun 2005


Tradisi lebaran yang satu ini selalu membuat hati berdesir saat melihat berita dan info mengenai perjalanan mudik teman-teman. Jaman semakin canggih dan setiap saat dapat memantau perjalanan mudik mereka. Sebuah tradisi lebaran yang membuat orang-orang bersuka cita, saling bergembira menyambut hari mudik tiba.


Beberapa cerita dari beberapa teman juga membuat saya makin menangis. Sudah tidak pernah mudik semenjak bapak dan ibu meninggal dunia. Kakak dan adik tidak ada, hanya saudara keluarga besar yang sudah sibuk juga dengan keluarga masing-masing. Satu cerita yang membuat saya meleleh menangis adalah cerita bude nasi uduk.

Bertanya Kapan Mudik?


Beliau menjawab pertanyaanku yang tidak tahu diri ini dengan mata menerawang. Bibir terkatup dan kedua tangan saling meremas satu sama lainnya. Suasana menjadi sebegitu hening. saya merasa amat sangat bersalah dengan menanyakan pertanyaan yang sebetulnya juga banyak ditanyakan oleh orang lain.

Hanya saya bude nasi uduk bukan orang yang tepat untuk ditanya. Aura sedih dan sesekali menggelengkan kepala berusaha menjawab pertanyaanku. "Saya tidak tahu, apa kami bisa mudik." Suaranya makin parau dan akhirnya beliau menunduk. Saat itu saya ingin sekali menarik pertanyaan "Bude kapan mudik?" pertanyaan yang menjadi aneh karena sang penjawab melibatkan emosi.

Saya baru menyadari bahwa keadaan ekonomilah yang membuat bude nasi uduk tidak dapat menjalani tradisi lebaran ini. Belajar dari bude nasi uduk, saya harus belajar untuk melihat-lhat kondisi orang untuk melontarkan pertanyaan yang menyangkut emosi. Mohon maaf ya bude.

No comments:

Post a Comment

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih