18 Mar 2020

Percikan Cinta dari Rumah Nabi untuk Bekal Rumah Tangga Langgeng


Masya Allah, Tabarakallahu akhirnya bisa menghadiri pengajian bulanan Majelis Taklim di Masjid dalam perumahan. Awalnya agak ragu untuk hadir meskipun mendapatkan tugas sebagai panitia. Alasannya Pemerintah sudah mengeluarkan intruksi untuk mengurangi kegiatan ke tempat umum. Mengurangi berada di kerumunan banyak dan membatasi sentuhan fisik. 

Saya hadir sangat terlambat sebelum ustadz mengawali cermahannya. Duduk di bagian belakang, mencoba menjaga jarak supaya tidak terlampau berada di kerumunan orang banyak. Bukan menghindar, tetapi menjaga. Menjaga diri sendiri, menjaga keluarga dan menjaga jama'ah yang hadir.

Resepsi Pernikahan 


Perlu diperhatikan : Saya meyakini bahwa Allah memberikan ujian dengan menghadirkan mahkluknya berupa covid-19 di sebagian belahan bumi, termasuk Indonesia. Nabi Muhammad SAW menyarankan untuk kita sebagai hamba-Nya untuk berikhtiar dengan cara tidak keluar dari daerahnya, jika daerahnya dijangkiti wabah dan tidak masuk ke daerah yang terjangkit wabah. 


Insya Allah sebagai umat Islam, tidak ada rasa ketakutan jika Allah memberikan cobaan. Tetapi sebagai seorang manusia, wajib hukumnya untuk waspada. Kewaspadaan untuk menjaga diri sendiri, keluarga dan semua orang di lingkungan tempat saya tinggal. Menyerahkan semuanya kepada Allah, menceritakan apa yang dirasakan kepada Allah dan memohon perlindungan tetap kepada Allah.

Saya rasa intronya cukup ya, bukan kewaspadaan yang berlebihan. Tetapi menjaga orang-orang yang tersayang.

Percikan Cinta dari Rumah Nabi


Ustadz AM Fatchul Umam memulai ceramah dengan mengajak jama'ah yang semuanya ibu-ibu untuk mengikuti mantra dari beliau. Sudah bukan rahasia umum ya, di dalam majelis ada banyak majelis baru yang dilakukan. Meski sudah diberikan mantra supaya tidak mengobrol, tidak selfi, tidak ngantuk, sepertinya perlu kemauan yang keras untuk melakukannya.

Saya tertarik dan senang sekali dengan tema yang diberikan yaitu Percikan Cinta dari Rumah Nabi. Saya adalah seorang istri dan ibu dari anak-anak yang pastinya menginginkan yang terbaik untuk keluarga dan rumah tangga ini. Saya sebagai insan merasa diri untuk terus belajar, belajar dan belajar tentang hal baik, apalagi yang didasarkan atas Firman-Nya. Sebagai umat Nabi sudah pasti saya harus mencontoh perilaku Nabi SAW, tentang perilakunya termasuk dalam rumah tangganya.



Percikan Cinta dari Rumah Nabi merupakan buku yang diterjemahkan oleh Ustzad AM Fatchul Umam. Diberikan sebagai tema pengajian, supaya menekan angka perceraian di seluruh Indoensia khususnya. Menurut data yang dipaparkan, angka perceraian yang terjadi setiap dua jam, membuat kaget dan mengelus dada. Ikhtiarnya tentu belajar bagaimana mengendalikan emosi dan memahami bahwa Allah memilihkan pasangan hidup untuk kita karena dia yang terbaik untuk kita.

Secara garis besar ada lima hal yang disampaikan di dalam buku Percikan Cinta dari Rumah Nabi:
  1. Kepemimpinan Cinta
  2. Menumbuhkan Suasana Ibadah dalam Keluarga
  3. Berdamai dengan Kekurangan Pasangan
  4. Romantisme Nabi
  5. Nasihat Nabi dalam Mendidik Anak
Di dalam buku ini juga dituliskan Siklus Cinta dalam Rumah Tangga. Di sesi ini, saya makin terus ingin belajar untuk meningkatkan dan memantaskan diri untuk terus menjadi pendamping suami pilihan Allah. Di postingan selanjutnya, Insya Allah saya akan tuliskan menurut pandangan saya dan pengalaman saya dan suami dalam mengarungi rumah tangga mengenai garis besar dan siklus cinta dalam rumah tangga tersebut.

Buatku tema tentang pernikahan dan ilmu mengenai pernikahan itu sangat menarik. Mengapa? karena saya berada dalam pernikahan dan saya juga menginginkan menjadi orang yang tidak merugi. Apalagi rumah tangga ini sudah dianugerahi dua orang anak dan berada di usia sekolah. Sebagai istri dan ibu tentu wajib hukunya mencari ilmu, ya kan. 


Perjalanan Rumah Tangga


Memutuskan untuk menikah di usia 26 tahun, saya merasa sudah cukup dewasa dan sudah cukup ilmu. Namun ternyata, apa yang saya bayangkan tentang pernikahan bukan sebuah hal yang biasa saja. Beberapa bacaan dari buku-buku maupun jurnal di internet mengenai pernikahan saya coba untuk serap. Contoh-contoh pernikahan yang terlihat jelas menjadi referensi dalam mengarungi rumah tangga bersama suami.

Alhamdulillah saya diberikan contoh terbaik dari rumah tangga bapak dan ibu. Meski mungkin ada satu dua hal yang penerapannya harus disesuaikan, tetapi saya bersyuku mendapatkan contoh rumah tangga harmonis dan dilakukan secara islami. Sepuluh tahun berada dalam kendaraan rumah tangga, beribadah bersama suami sehidup sesurga. Dikaruniai dua orang anak sebagai penyejuk mata, peneguh hati dan penguat iman. 

Dalam Al Qur'an Surat Al-Ahzab : 21 yang artinya :

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. Yaitu orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah"  

Saya selalu mengatakan kepada suami bahwa akan terus berproses menjadi lebih baik. Alhamdulillah beliau menyediakan media untuk saya belajar meski dari rumah. Keterbatasan tenaga, keterbatasan situasi dan kondisi. Saya mencari media dakwah melalui online dan membaca buku-buku yang ada di rumah. Keluar rumah untuk mencari ilmu juga terkadang diijinkan. Saya tidak berani keluar jika tidak dijinkan oleh suami. 

Meski ada seorang teman yang mengatakan, bahwa lebih baik meminta maaf dibandingkan meminta ijin. Saya memilih meminta ijin terlebih dahulu. Jika suami kurang memahami, saya akan berikan beberapa alasan mengapa saya harus keluar. Jika tidak ditemukan titik temu, saya akan mengikuti saran suami, meski menghadapi urusan penting. Itu artinya, saya harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan yang baik, harus memiliki kemampuan negoisasi yang baik. Tapi setelah itu alangkah baiknya, berdoa kepada Allah, jika tidak dijinkan kemungkinan terbaik untukku tetapi tidak baik untuk kami berdua. Jadi, selalu belajar saling memahami itu adalah kunci utama.

No comments:

Post a comment

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih