27 Apr 2020

Menerima Keadaan dengan Ikhlas dan Bahagia

Kata siapa di rumah saja tidak enak. Kata siapa di rumah saja membosankan. Kata siapa di rumah saja membuat kita tertekan. Kata siapa di rumah saja tidak bisa melakukan apa-apa. Kata siapa di rumah saja membuat otak dan hati tumpul. Kata siapa di rumah saja membuang-buang waktu. Kata siapa di rumah saja itu membunuhmu.



Suatu hari saya berada di sekolah anak. Ada seorang ibu menanyakan kesibukan apa yang membuat saya jarang datang ke sekolah?. Sebelum pertanyaan itu terjawab oleh saya, ibu itu melanjutkan dengan membuat sebuah pernyataan bahwa dua jam saja berada di rumah dirinya sudah merasa bosan. Oleh karena itu, dia sedang mencari kesibukan supaya bisa keluar dari rumah.


Sejak mendapatkan pertanyaan dan mendengar pernyataan ibu tersebut, saya menjadi berpikir apakah saya yang tidak normal? apakah saya yang aneh, apakah saya yang bersembunyi terus-terusan di rumah. Waduh, kenapa saya jadi terpengaruh dengan pertanyaan dan pernyataan tersebut ya. Nyatanya saja enjoy di rumah, nyatanya saya melakukan banyak hal di rumah, Nyatanya saya merasakan bahagia dan tidak pernah mengeluh bosan, kecuali hawa liburan tapi di rumah saja itu sesekali bolehlah mengajak suami dan anak-anak jalan.

Kembali kepada kenyataan saat covid 19 mulai muncul di Tangerang. Saya dan suami dengan sadar diri langsung tetap tinggal di rumah. Kami menyarankan kepada anak-anak untuk tetap di rumah, meskipun ke rumah neneknya pun saya tidak ijinkan. Tetap tinggal di rumah, melakukan aktifitas di rumah mulai dari belanja, belajar, menonton film dan lain sebagainya.

Mungkin kami, saya dan suami adalah tipe orang yang senang berada di rumah. Sejak sebelum menikah saya adalah orang rumahan. Boro-boro jalan-jalan, main ke rumah teman sampai seharian pun tidak pernah. Bukan berarti saya dan suami orang yang anti sosial, jadi bisa betah dan tidak merasakan kebosanan di rumah. Pada kenyataannya kami juga sering melakkukan traveling dan jalan-jalan ke mall.

Dengan adanya kebijakan tetap berada di dalam rumah, saya dan suami tidak repot untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski demikian, semua ada perbedaannya dari hari-hari normal, itu sudah pasti. Apalagi tidak adanya pemasukan dari bisnis yang dikelola suami. Itu artinya, raganya di rumah tetapi otaknya berkeliaran memikirkan masa depan akan seperti apa. Banyak yang menyarankan untuk tidak perlu memikirkan masa depan. Hello situ mau ngasih makan saya dan keluarga? mungkin untuk orang-orang yang bergaji dan bisa tetap berada di rumah, hal itu boleh lah ya, tidak perlu memikirkan masa depan, tapi bagi kami kaum pengusaha, yang masih membayar upah karyawan, apa kabar? (kok jadi sewot, ya?)

Okay baiklah, ada satu hal yang membuat saya tidak merasa bosan. Boleh dijadikan tips atau saya anggap ini bukan tips, tapi ini adalah kesadaran. Caranya seperti ini, menerima keadaan sekarang ini dengan ikhlas, tanpa mengerutu dan pancarkan aura bahagia bahwa covid 19 tidak boleh merampas kebahagiaanku. Teman semua, berapa lama kalian berada di jalanan, berada di tempat wisata, berada di pusat perbelanjaan, berada di ruangan yang penuh dengan orang-orang, berada di perjalanan yang mengasyikan dengan sepuas-puasnya? sudah sering kan. Lalu apa artinya jika sekarang mengikuti kebijakan pemerintah untuk tetap di rumah jika yang memungkinkan?. 

Jadi pandangan saya lebih ke arah saya harus menerima keadaan ini. Saya pun harus optimis keadaan ini tidak akan berlangsung lama, cuma sebentar. Allah menurunkan lebih banyak nikmat kok kepada kita, dibandingkan masa suram covid 19 ini. Percayalah kalian akan baik-baik saja di rumah jika kalian mampu dan dapat memilih. 

Di rumah saja ada banyak hal yang bisa kalian lakkan, kan. Di bawah ini adalah contoh yang saya lakukan selama masa karantina diri sendiri

1. Belajar Baking dari You Tube


Saya meminta ijin kepada suami untuk membeli bahan-bahan untuk baking. Saya diijinkan dan saya harus bertanggung jawab dengan keinginan tadi. Mulailah saya membuka akun Youtube yang menyediakan tutorial baking dan masak-memasak. Hal tersebut ternyata menyita banyak sekali waktu loh. Akhirnya saya mencari waktu yang tepat untuk menonton You Tube baking dan masak-memasak, yaitu waktu pagi hari, sebelum anak-anak bangun. Bisa setelah saya melakukan ibadah pagi hari sampai menjelang adzan subuh. Lumayan tuh.

Mengeksekusi resep yang dirasa mudah dan menikmati proses sampai menjadi sebuah sajian yang mengejutkan juga menyenangkan. Saya bisa belajar dari tingkat pemula yang membuat roti berantakan sampai saya belajar lebih ke arah kerapihan saat menyediakan bahan-bahan hingga proses membersihkannya. Semua saya nikmati dengan niat menambah ilmu dan keterampilan.

2. Menyedaiakan Waktu untuk Anak-Anak


Urusan ibu pada masa pandemi covid 19 ini menjadi lebih kompleks dan sangat padat jadwalnya. Urusan domestik dikerjakan, mulai dari memasak, mencuci, menyetrika dan lain sebagainya, Ditambah urusan sekolah anak dan ngaji, Belum urusan pribadinya juga sangat membutuhkan waktu.

Namun tetap rasanya jika tidak menyediakan waktu untuk anak-anak, ada yang kurang. Jika tidak anak-anak juga akan rewel dan tantrum karena tidak ditemani oleh ibunya. Mau tidak mau, harus ada yang dikurangi, misalnya bermain sosial media dikurangi. Jika biasanya satu atau dua jam membuka instagram dan melike atau berkomentar di akun teman-teman, saat ini dikurangi. Waktunya lebih baik dialokasikan untuk menemani anak-anak. Tahukah bu, anak-anak juga merasakan bosan juga kan. Oleh karena itu, ibu juga harus kreatif membuat mereka supaya tidak bosan.

3. Menelepon Teman atau Keluarga


Salah satu hal yang dapat dilakukan supaya tidak bosan adalah menelepon teman atau keluarga. Satu-satunya upaya untuk melepas rindu dan mencurahkan cerita ya dengan hubungan telepon. Saat ini kan sudah sangat mudah adanya perkembangan dunia telekomunikasi kan. Video call melalui hubungan whatsapp bisa dan berbagai aplikasi meeting lainnya yang memungkinkan untuk menelpon lebih dari 2 orang.

Tidak perlu lama-lama untuk mengobrol di telepon. Istilahnya untuk membuat rasa kangen muncul terus. Jadi, bisa menelpon terus menerus setiap hari dengan cerita yang berbeda-beda. Upaya ini bisa dilakukan loh untuk mengurangi rasa bosan berada di rumah saja. Kadang ibu atau kakak perempuanku yang menghubungi untuk sekedar bertanya kabar dan membagikan cerita.

4. Menulis Blog


Sebelum masa pandemi covid 19 saya lebih aktif berkegiatan di luar rumah. Membuat bekal untuk anak, mengantar bekal ke sekolah, bertemu dengan orang tua teman anak-anak sekolah, belanja atau sekedar jalan-jalan menikmati perjalanan dari pasar ke rumah. Selain itu saya sering berkunjung ke rumah teman meski hanya sebentar.

Pulang ke rumahpun saya lebih sering berada di luar rumah untuk sekedar mengobrol dengan tetangga. Beberapa waktu lalu, bisa dikatakan saya meninggalkan blog. Padahal saya memiliki beberapa blog yang bisa diisi dengan konten yang berbeda-beda. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menulis kembali dan mengisi blog yang sudah lama tidak diisi.

Nah itulah beberapa upaya yang dapat mengatasi rasa bosan di saat harus tinggal di rumah saja. Semua hal bisa dikerjakan dari rumah yang penting semua harus menerima keadaan dengan ikhlas dan bahagia. Jika keadaan ini hanya dikeluhkan, dibuat pusing ya, mau melakukan apapun tetap tidak nyaman saat beraktifitas di rumah, semenarik apapun kegiatan di rumah.




1 comment:

  1. Memang di saat seperti ini mau mengeluh juga tak mungkin ya mbak. Salam kenal mbak.

    ReplyDelete

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih