1 Jan 2021

Terpapar Covid-19 dan Bagaimana Cara Menyikapi Ujian-Ujian Kehidupan

Bismillahirrohmannirrohim


Alhamdulillah Tahun 2021. Kalender baru dibuka, lembaran baru mulai dibuka, semua dimulai dari awal. Resolusi demi resolusi dituliskan dan harapan-harapan mulai dibuat kembali.




Tahun ini satu yang aku inginkan, covid 19 tidak lagi membuat paparan lebih banyak. Tahun ini aku ingin semuanya diberikan kesehatan, orang tuaku, mama mertua, aku dan suamiku serta anak-anak supaya kami dapat mudik. Rasanya ada yang kurang jika belum pulang ke rumah orang tua. Anak-anakku sudah rindu dan kangen ingin sekali berjumpa dengan Uti dan Akungnya serta saudara-saudaranya.

Ya Rabb, aku percaya bahwa semua pasti akan berlalu. Kilas balik pada tahun 2020 aku ingin memindahkan statusku di facebook menjadi sebuah tulisan di blog.

Menemani Anak Belajar di Rumah

Awal Maret 2020 menjadi cerita yang baru dialami. Mendampingi, menemani anak anak belajar di rumah. Hingga paham kekurangan akademik anak anak dan mengubah pola menemani menjadi belajar bersama. Ada kesabaran yang dibutuhkan untuk menyamakan hati bersama anak anak. Terima kasih suami, kau menjadi penguat di kala lemahku, penguat di kala lemahku

Rasa bahagia, senang, tenang dan lega setelah mendapatkan informasi dari sekolah anak-anak dengan keputusan yang mententramkan. Keputusan memindahkan anak untuk belajar di rumah di awal pandemi. Komentar anak pertama senang dan komentar anak kedua yang berjiwa sosial, begitu sedih, begitu ingin bertemu dengan teman-temannya.

Akupun pada awalnya merasa canggung karena perubahan tersebut. Pekerjaan rumah, aku prioritaskan dan menemani anak-anakpun kewajiban. Hobby menulis di blog dan mendapatkan penghasilan dari blogpun urung kulakukan, kuhentikan untuk sementara. Alasan menghentikan karena ingin fokus dengan anak-anak. Alhamdulllah selama 2020, aku fokus menemani anak-anak belajar di rumah, meski banyak drama mewarnai.

Seiring waktupun, drama menemani anak-anak belajar di rumah mulai berkurang. Kunci dari minim drama adalah dari diriku sendiri. Yup, semua tergantung dari ibunya. Ibunya enjoy, nyaman, senang, tenang dan ikhlas, anak-anaknyapun mengikuti. Alhamdulillah makin ke sini, makin menyenangkan menemani mereka belajr, bahkan kamipun sama-sama belajar bersama.

Berlebaran Tanpa Keluarga Besarku


Awal Mei 2020 di mana setiap Ramadhan ada nuansa persiapan mudik, tahun ini berbeda. Alhamdulillah adanya teknologi membuat kami dapat terhubung satu sama lain di tempat yang berjauhan. Insya Allah tahun 2021 kita semua bisa pulang, mudik dan dalam keadaan semuanya sehat, aamin

Sejak awal pandemi di Bulan Maret aku dan suami sudah berdiskusi panjang kali lebar, tentang perjalanan. Nyaris kami tidak pernah melakukan pergi keluar rumah. Kami tidak pernah pergi ke mall, tidak makan di luar rumah, tidak mengunjungi saudara meski dalam satu kota, tidak pernah bertamasya keliling liling kota. Suamipun istirahat dari proyek selama tiga bulan. Fix kami mencoba untuk meminimalisir kegiatan di luar rumah, termasuk suami.

Alasannya karena kami tinggak di dekat rumah mama mertua yang sudah lansia. Alhamdulillah diberikan suami yang mengerti situasi dan menjaga ibunya dengan mengabaikan kebosanan. Siapa bilang di rumah saja tidak bosan. Bosan. Alhamdulillah kebosanan itu tertutupi dengan aktfitas yang kami lakukan di rumah. Aku mulai belajar baking dan membuat camilan serta membuat makanan yang biasa dibeli tapi selama pandemi, lebih nyaman berada di rumah dan membuat makanan di rumah.

Ibu dan bapakku juga memahami alasan mengapa kami tidak menerobos mudik. Alhamdulillah semua dimudahkan dan Insya Allah, ibu dan bapak selalu diberikan kesehatan begitu pula dengan keluarga kecil kami. Sedih ada, siapa sih yang tidak sedih jika lebaran tidak berkumpul bersama keluarga besar. Kangen semua, rindu semua, meski tidak membuat acara, tapi dengan berkumpul rasanya nyaman dan tenang.

Terpapar Covid-19

Awal Bulan November 2020 menjadikan bulan yang rasanya ingin ku undo dan ku delete semua yang ada. Tapi sebagai makhluk Allah SWT, wajib mengimani bahwa sehat sakit, lapang sempit, tawa tangis, muda tua semua itu ada dan datangnya dari Allah SWT.

Bulan di mana kami semua terpapar covid 19. La hawla wala quwwata illa billah. Berawal dari pertemuan keluarga besar suami, semua menjadi berubah. Alhamdulillah Allah memberikan kami semua kesabaran dan bersyukur dalam keadaan apapun. Alhamdulillah semua dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah, saat sebelum swab keluar. Saat mencari RS untuk isolasi hingga menjalani tambahan isolasi mandiri hingga pasca terpapar covid dan berbagai hal yang terjadi

Aku bersyukur sekali diberikan pertanda oleh Allah SWT. Suami terpapar covid dan langsung seketika bergejala demam. Sebelumnya, mama mertua dan ipar suami sudah lebih dahulu sakit bersamaan. Aku langsung berpikiran bahwa ini bukan sakit biasa. Suami dalam keadaan fit meski beberapa hari begadang, tapi tidurnya cukup dan pola makannya juga bagus. Hal yang membuatku kaget saat itu adalah hasil kerokan suami, rata merah semua. Biasanya hasil kerokan itu bervariasi, ada yang merah ada yang transparan, bahkan ada yang tidak berwarna meski dikerok beberapa kali.

Langsung saat itu juga kami menggunakan masker, dan berpindah kamar. Rasanya ada yang tidak biasa, satu rumah tetapi tidak melakukan aktifitas bersama. Makan sendiri, ngobrol hanya melalui video call dan anak-anak menjadi rindu. Untuk memastikan keadaan, Hari Kamis, sehari setelah bergejala, suami memutuskan untuk swab di RS Mayapada. Hasilnya tidak bisa cepat. Hari Jumat, suami mencoba Rapid test dan rongsen, semua hasilnya bagus dan non reaktif untuk rapid testnya. Hari Jumat sore, iparnya mengabari, bahwa hasil swab test temannya positif. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Sabtu malam giliran aku bergejala. Bukan demam, bukan batuk, bukan hilang rasa, bukan mual dan muntah. Aku bergeja badan terasa pegal, paling parah dan menyakitkan adalah kaki sebelah kiri tidak dipegangpunr asanya sakit. Aku tidak bisa tidur, bahkan lupa caranya tidur bagaimana, lupa tidur itu bagaimana, dan aku merasakan ksur dna badan tidak mau menyatu. kasur rasanya ada paku-paku yang membuat badan menolak untuk singgah di atasnya.

Anak-anak Alhamdulillah masih mampu tertawa, bermain, lompat-lompatan dan bahkan mereka seperti tidak bergejala. Ya Rabb, rasanya tidak terlukiskan. Aku hanya berdoa, dimudahkan dilancarkan dan diberikan kekuatan menerima apapun yang akan terjadi. Aku belajar bersyukur dalam semua keadaan. Aku belajar untuk sabar dengan tidak mengeluh kenapa harus keluarga kami yang terpapar. Aku belajar sabar dengan tidak marah dan kesal dengan adanya pertemuan keluarga itu. Mudah? tentu tidak, tapi Alhamdulillah selalu Allah selalu Allah selalu Allah.

Senin pagi, swab suami keluar dan benar hasilnya positif. Langsung saat itu juga suami meminta aku membereskan pakaiannya dan pakaian anak pertamaku untuk dibawa bersama ke RS. Mengapa memilih dirawat di Rumah Sakit? semua punya pilihan dan pilihan yang tepat menurut kami saat itu adalah dirawat di RS, apapun drama yang dilalui, Insya Allah kami ikhlas.

Hari Kamis minggu berikutnya, giliran aku dan anak keduaku yang melakukan swab. Aku memilih swab di rumah, karena buatku lebih aman dan nyaman. Alasannya karena tiga hari anak pertamaku dirawat, aku harus begadang karena menemaninya sepanjang hari melalui video call. Ya Rabb, aku berdoa semoga hasil swabku sama dengan hasil swab anakku. Aku tidak ingin terpisah dari anakku. Dan hasilnya positif semua. Ya Rabb, semua doa kulantunkan dan doa dimudahkan dan dilancarkan apapun yang terjadi selalu kukuatkan. Alhamdulillah aku dan anakku mudah mendapatkan RS.

Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah tahun 2020 menjadi tahun pembelajaran yang begitu indah. Tahun yang penuh ujian da n Alhamdulillah terlewati dengan baik. Kurang, salah itu manusiawi, Insya Allah tahun 2021 menjadi tahun yang lebih membuat kami makin dewasa dalam menyikapi apa yang terjadi. Bahwa sesungguhnya semua dari Allah dan akan kembali kepada Allah

Satu hal yang aku ambil hikmah dari semua yang terjadi di tahun 2020 adalah, ada ajakan lima kali sehari untuk kita sukses dan bahagia mengapa tidak dipilih untuk segera dikerjakan? Ya Rabb, semoga dengan apa yang terjadi di tahun 2020 ini, dapat menjadi cerita untuk anak-anak dan cucu-cucu nantinya.



Salam

💝
Astin Astanti

Disclaimer : Aku menulis kejadian yang menimpa keluargaku sebagai terapi jiwa, karena aku butuh meluapkan apa yang ingin aku ceritakan. Aku bukan ingin menutupi atau ingin menimbun bahwa keluargaku pernah terpapar covid, tetapi perlu diingat, bahwa orang yang terpapar covid dapat memiliki gejala dan situasi yang berbeda. Menjadi survivor covid merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Allah, semoga keluarga kami dan keluarga kita semua, diberikan kesehatan dan dapat terus menemani dan mendampingi anak-anak hingga mereka menjadi anak-anak mandiri yang tangguh dan kuat.

Alhamdulillah keluarga kami sekarang semua sudah beraktifitas seperti biasa, normal dan semangat.

57 comments:

  1. Huh, bacanya langsung legaa.
    Alhamdullah banget ya Mak, pernah terpapar virus adalah ujian terindah tentang bagaimana kita diuji kesabaran, apalagi sekeluarga. Apapun itu yang terpenting sekarang udah sehat, semuanya hanya kenangan yang perlu kita terima baik dan buruknya.

    Semangat sehat buat kita semua, semangat beraktivitas kembali dengan rutinitas dan selamat tahun baru. Cuzz menyongsong harapan di 2021.

    ReplyDelete
  2. masya Allaah aku merinding bacanya, teringat dikau whatsapp di grup dan secara pribadi, dan pengen peluk seketika tapi saat itu aku tak berdaya :(

    sehat selalu Astin sayaaang kita sama sama berdoa terus yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun membayangkannya apa yang dirasakan huh, ahhh peluk dari jauh juga buat mak Astiin.
      Semoga kita semua selalu diberikan kesehatann ya mak.

      Delete
  3. Alhamdulillah sekarang sudah sehat...Terima kasih sudah berbagi cerita Mbak Astin. Memang tahun 2020 penuh ujian ya, Mbak Astin ujiannya terpapar..Insya Allah ada hikmah di baliknya. Semoga sehat selalu untuk seterusnya.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah semua membaik ya mbak dan mampu melewati semuanya. Awal 2021 ini malah makin nggak menentu, Covid sudah masuk ke kampung² tapi masyarakat cuek saja dan sebagian besar anggap Covid tidak ada dan dibuat². Sedih dan khawatir jadinya...

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah sudah pada sembuh, ya. Tentu ini jadi pengalaman hidup yang berharga. Saya juga jadi tau kalau gejala COVID-19 bisa berbeda-beda. Terima kasih banyak sudah berbagi informasi

    ReplyDelete
  6. alhamdulillah semuanya sudah terlewati dengan baik yaaa Astin.. memang tidak mudah tapi banyak pelajaran penting yang bisa diambil bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg penting kita juga mendapat informasi yang benar ya Astin selama proses penyembuhan

      Delete
  7. Masya Allah aku membacanya merinding :(
    Alhamdulillah kalau semuanya sudah mormal, negatif, dan bisa back to activity lagi ya Astin.
    Tahun 2020 bener² tahun pembelajaran bagi kita semua, belajar sabar, belajar ikhlas.
    Sehat² selalu ya untuk dirimu dan keluarga.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, perjuangan Mak sekeluarga berbuah manis, semuanya sembuh dengan baik..semoga sehat semua dan diberkahi Allah ya Mak

    ReplyDelete
  9. memang ujian kesabaran banget ya Mba
    InsyaALLAH keluarga mb Astin "naik kelas" karena ujian ini.

    Kita semua kudu ikhlas, sabar dan semangaaatttt

    ReplyDelete
  10. Senang dengarnya karena mba Astin sudah sehat kembali
    Tidak ada yang mau sakit
    Dan sakit pun semoga dijadikan penggugur dosa

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah semua bisa sembuh lagi ya, Mbak.
    Tahun 2020 memang ujian bagi kita semua, Mbak. InsyaAllah kita semua bisa naik kelas, dan bisa ngambil hikmahnya

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah mba, semoga ke depan semuanya senantiasa sehat ya. Mengikuti status mbak asstin di medsos saat melalui massa-massa sulit itu raasanya ingin memberi pelukan virtual setiap saat agar mba astin dan keluarga selalu dikuatkan. Dan alhamdulillah sekarang semua sudah sembuh ya mba.. Semoga situasi ini membaik dan kita semua selalu dilindungi Allah..

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah sudah sehat kembali ya mb Astin. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan juga dijauhkan dari segala penyakit

    ReplyDelete
  14. Subhanallahu..
    Perjuangan saat terpapar pasti berat banget, harus saling menguatkan.
    Kami juga mengalami, kak.. 2 minggu yang lalu, masku positif. Dan ya, harus bersabar dan ikhtiar dengan isoman. Tetap bersyukur bahwa masih diberi kesempatan mendapatkan ujian ini.

    Barakallahu fiikum, kak..
    Semoga Allah berkahi setiap yang dilewati dalam fase kehidupan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah,
      2020 membuat kita banyak belajar. Semoga ujian ini membuahkan pahala yang melimpah untuk keluarga.
      Sehat terus, kak...in syaa Allah.

      Delete
  15. Berasa ikutan merasakan nih Astin soalnya aku juga menghadapi kasus yang mirip-mirip gitu. Mendampingi suami yang terkena Covid dan harus mengatur segala sesuatu di rumah agar suasana tetap kondusif dan keluarga sehat selalu. Alhamdulillah kita sudah melaluinya dengan penuh ikhlas ya Astin.

    ReplyDelete
  16. Ya Allah mbak, satu keluarga terpapar covid-19, pasti campur aduk banget ya rasanya.

    Alhamdulillah semua bisa tertangani dengan baik dan sembuh semua ya mbak. Tetap jaga kesehatan, semoga 2021 ini pandemi bisa berlalu

    ReplyDelete
  17. Aku bacanya langsung ikutan terhanyut dalam keadaan yg mba hadapi. Alhamdulillah sehat semua dan kembali pulih ya mba. Sehat sehat ya kita semua.

    ReplyDelete
  18. alhamdulillah, kamu manusia hebat dan kuat mba, sabar juga melalui ujian ini dengan baik.. doaku sama dengan yang lain mba, semoga kamu dan keluargamu sehat terus juga dilindungi oleh Allah swt

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillaaaah yaaa Astin semuanya berakhir dengan baik.. tidak mudah perjuangan yang dilalu tapi insya Allah diberi kekuatan oleh-Nya

    ReplyDelete
  20. bener banget namanya covid ini emang sebenarnya menjadi ujian kita juga aku sendiri juga orang tuaku juga pernah ngalamin positif Corona

    ReplyDelete
  21. Alhamdulillah ya Allah, bener-bener ya mbak bikin deg-degan deh penyakit ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan ya mbak... semangat

    ReplyDelete
  22. Kakakku juga positif covid mbak, isolasi mandiri di rumah. Panik juga, lumrah karena banyak ketakutan ini dan itu. Namun harus dibawa happy, segala peristiwa adalah ujian untuk mencari hikmah dan bersyukur ya.

    ReplyDelete
  23. Masya Allah, alhamdulillah. Semuanya telah kembali normal. Tetap jaga kesehatan ya mbak, semoga virus corona ini segera berlalu dan kita bisa menjalani kehidupan dengan normal.lagi.

    ReplyDelete
  24. Alhamdulillah ya mak, di mudahkan melaluinya, alhamdulillah juga semua sudah berlalu. Semoga dikuatkan selalu imunnya dan dilindungi dari covid

    ReplyDelete
  25. Masya Allah ... terima kasih sudah berbagi, insya Allah sakitnya menjadi berkah, Salah satu berkah itu ziyadatul khair bertambahnya kebaikan... Memberi banyak hikmah yang membuat kita jauh lebih baik :D

    ReplyDelete
  26. Sabar banget mbak dan keluarga Allah sayang banget sama mbak dan keluarga. Keep strong ya mbak.

    ReplyDelete
  27. sebenarnya terpapar covid itu bukan aib, tapi memang cara orang menyikapi berbeda2, ada yang baik hati di rangkul, tapi ga jarang juga malah di jauhi :( padahal itu salah besar. Puji Tuhan sudah kembali sehat ya mbak, semoga selalu diberi kesehatan untuk mbak sekeluarga

    ReplyDelete
  28. mbak, sudah sembuh tapi kan..tetap jaga kesehatan ya...krn katanya menurut berita di tv, yg sudah pernah terpapar C19, bisa terjangkit kembali...btw semoga qtsemua diberikan kesehatan di tahun 2021 dan seterusnya. Aaaaamin

    ReplyDelete
  29. Alhamdullillah sudah kembali sehat ya, mba.

    Aku suka bagian ini:

    "... tahun 2020 menjadi tahun pembelajaran yang begitu indah!"

    Semangat untuk memulai aktivitas ya, mba!
    Ganbatte!

    ReplyDelete
  30. 2020 bakal jadi tahun yang tak terlupakan ya,mak. Nggak semua buruk, ada juga hikmahnya. ALhamdulilah senang tau keluarga mak Astin udah kembali sehat. Terima kasih juga udah berbagi cerita dengan kami. ^^
    Semoga kita sehat selalu...

    ReplyDelete
  31. Ikut prihatin mba atas ujian ini. Smg skrg semua sudah sehat wal afiat ya

    ReplyDelete
  32. Bacanya sambil mengucap syukur yang luar biasa, berkali-kali. Semoga sakitnya menjadi penggugur dosa ya mbak.. Buat suami dan anak-anak. Selanjutnya.. semoga selalu diberikan kesehatan untuk kita semua, Barokallah mbak..

    ReplyDelete
  33. Jadi pengin peluk Astin. Kita mirip-mirip hampir senasib ya Astin, tau rasanya gimana sedihnya ketika terpapar Covid ini. Sedih plus jengkel kalau ada yang masih tak mau peduli dengan upaya menjaga kesehatan, baik kesehatan dirinya sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  34. Alhamdulillah semjua sudah lewat ya Astin sehat-sehat selalu untuk kita semua. Berbagi pengalaman siapa tau aada yang membutuhkan

    ReplyDelete
  35. peluk erat mba astin,,, alhamdulillah sudah naik kelas ya mba,,, udah lulus ujian covid,, semoga setelah ini sehat-sehat semua ya,, aku salut sama kamu yang mau share baik di group wa maupun blog ini,,, insya Allah tulisan ini juga bermanfaat buat yang lain tidak sekedar luapan hati aja...

    ReplyDelete
  36. satu hal yang pasti, Allah SWT pasti akan selalu memberi kekuatan untuk kita semua ya. Alhamdulillah sudah selelsai semuaaa

    ReplyDelete
  37. mba untuk gejala2 suami dan anak apakah beda atau sama mba semuanya?

    untungnya sekarang semua sudah negatif ya mbaa. semoga selalu diberikan kesehatan ya mbaa

    ReplyDelete
  38. Alhamdulillah bisa melewati semua ini dengan baik ya, Mbak. Semoga sehat selalu, ya, bersama keluarga. Dan semoga orang lain semakin memiliki kesadaran yang tinggi dalam menghadapi si covid ini. Terapkan protokol kesehatan dan selalu jaga diri agar jangan sampai terpapar.

    ReplyDelete
  39. Alhamdulillah banget ya Mba Astin, Allah masih melindungi dan memberi kesehatan dan kesembuhan, Terbayang bagaimana situasi yang Mba dan keluarga hadapi saat itu. Semoga tahun ini semua akan lebih membaik dan pandemi cepat berlalu...

    ReplyDelete
  40. Ya Allah...
    Semoga Allah mudahkan dan jauhkan dari segala macam ujian penyakit yang berat.
    Ini kami juga sedang diuji, kak...Masku positif.
    Mohon doanya yaa, kak...

    ReplyDelete
  41. Ya Allah...
    Semoga Allah mudahkan dan jauhkan dari segala macam ujian penyakit yang berat.
    Ini kami juga sedang diuji, kak...Masku positif.
    Mohon doanya yaa, kak...

    ReplyDelete
  42. Ya Allah...
    Semoga Allah mudahkan dan jauhkan dari segala macam ujian penyakit yang berat.
    Ini kami juga sedang diuji, kak...Masku positif.
    Mohon doanya yaa, kak...

    ReplyDelete
  43. Peluukkk Mba, Alhamdulillah semua telah terlewati ya.
    Semoga Mba Astin dan keluarga selalu diberikan kesehatan , demikian juga kita semuanya.
    Semoga pandemi ini segera berlalu, dan virus tersebut bisa segera ditaklukan, aamiin :)

    ReplyDelete
  44. Ikut bahagia, bisa melewati ujian berupa sakit tersebut mbak.
    Semoga bisa meningkatkan imun.
    Itu mengapa saking takutnya, dari maret 2020 saya sama sekali gak dateng ke acara, termasuk acara keluarga.
    Selain berpasrah, memang harus terus ihtiar sampai pandemi usai

    ReplyDelete
  45. Turut bahagia ya Mbak, sekarang sudah membaik dan insyaAllah sehat seterusnya. Tapi juga ikut deg-degan baca personal experience terpapar covid. Beberapa teman di tempat kerja saya juga mengalami hal ini, dan memang setiap orang yang terpapar covid dapat memiliki gejala dan situasi yang berbeda, hal ini yg penting-penting banget utk di high light dalam pemahaman kita agar kita lebih peka terhadap semua perubahan yg terjadi pada diri sendiri.

    ReplyDelete
  46. Alhamdulillah ujian sudah terlewati. Kadang mesti ada perayaan untuk menghargai diri sendiri karena sudah berjuang sekuat itu. Semoga Allah permudah segala urusan Mbak. Aamiin

    ReplyDelete
  47. Alhamdulillah semoga sehat terus ya mbak. Terpapar Covid-19 bukan aib, kakak ipar ku juga kena Covid-19 dan harus isolasi mandiri. Aku berharap semoga Covid-19 segera pergi biar kehidupan kita kembali normal lagi ya.

    ReplyDelete
  48. Alhamdulillah, akhirnya bisa melewati itu semua. makasi sharingnya mba. jadi pelajaran juga buat kita semua. Apalagi, menjadi survivor covid menjalaninya tidak mudah ya. Perjuangan yang perlu sangat dihargai. Semoga kita semua bisa melewati pandemi ini dengan segera ya.

    ReplyDelete
  49. Pakde dann budeku di Tangerang juga kena Mba. Alhamdulillah mba Astin sekeluarga udah pulih ya. Sedih rasanya mba, kalau denger kabar demikian. Bisa belajar dari kisah ini, kalau kita benar-benar harus waspada.

    ReplyDelete
  50. Alhamdulillah sudah sehat lagi, ya, Mbak. Semoga setalah ini sehat selalu sekeluarga, dijauhkan dari COVID-19. Semoga COVID-19 segera bisa ditangani menyeluruh supaya kita bisa hidup aman.

    ReplyDelete
  51. Mbaaa peluk kenceng dariku.. akupun kemarin ngalamin terpapar sekeluarga. Kecuali ayahku yang langsung diungsikan ke tempat aman. Sedih pooool serumah nggak bisa ketemuan. Kami semua diisolasi di kamar masing-masing. Sampe sebulanan kami terasing. Bersyukur sekarang sudah sembuh semua. Tuhan sayang kita, pastinya makanya dikasih nikmat sakit yang membuat kita jd lebih kuat. Sehat selalu untuk ke depannya ya mba...

    ReplyDelete
  52. Semoga sehat terus yaa mba sekeluarga, iya itu yang harus diluruskan di masyarakat bahwa terpapar covid itu bukan aib, entah kenapa orang kok malah merasa malu kalo kena covid ya. Ya Allah, sesungguhnya kita semua lelah ya sama situasi pandemi ini semoga segera berlalu deh

    ReplyDelete
  53. Alhamdulillah Mbak jadi survior dari Covid-19. Semoga Mbak bisa menyumbangkan plasma darah bagi penderita covid-19 yang lain. Para survior ini bisa jadi penyelamat pasien lain dengan menyumbangkan plasma darahnya.

    ReplyDelete
  54. Ya Allah mbak.. ga kebayang kalo keluarga besarku yg kena COVID-19. Alhamdulillah udah berlalu ya mbak

    ReplyDelete

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih