5 Jun 2013

Kisah Inspiratif pada Sebuah Perjalanan

Advertisement
Mataku bertumpu pada matanya dan kudengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aku suka sekali cerita itu...sudah beberapa kali, tapi aku suka mendengarnya. 
"Dalam malam yang kelam, ditengah cerita 'k**a* m*ra*' aku hanya berpasrah dan berbincang kepada Allah de,"
Aku suka menopangkan lenganku pada pahanya, ketika aku mendengar cerita darinya.
"Aku meminta pertolongan Allah, tolong...datangkanlah pertolonganmu, pertolonganmu, itu terus yang ada dipikiranku, aku tidak berpikir yang lainnya"
Kejadian itu beberapa minggu menjelang hari akad nikahku dengan dia. Ketika itu, profesinya masih menjadi agen asuransi dan sedang berbagi ilmu dengan temanku yang tinggal di daerah Rawamangun, pukul 22.30 an, dalam kondisi motor kenanganmu yang sedikit kurang baik.

"Dari awal aku bersyukur, malam-malam, hampir pukul 23.00 malam, ada bengkel yang masih buka de, businya diganti setelah motor nouvoku mati"
Aku masih ingat, betapa sibuknya aku menelepon dirinya yang hendak pulang ke rumahnya di Tanjung Priuk. Aku tak mampu tidur, sebelum mendapatkan kabar dia telah ada di rumah, dengan selamat.
"Di perempatan Cempaka Putih, kalau mau ke Priuk itu melalui by pass, jembatan yang tinggi itu lho de, tahu kan?"
"Heeh, aku tahu" ucapku sederhana, 
"Nouvoku mati lagi, di tanjakannya. Distater enggak nyala, hampir pukul 24.00 malam. Logikanya, berjalan kaki  menanjak itu luar biasa, ini mendorong motor nouvo yang berat (nouvo jaman dulu-red) sungguh lebih berat. Tapi aku tetap memilih jalan menanjak, karena di bawah terkenal dengan cerita yang tidak aman"
Aku berkedip dan menggenggam tangannya. Cerita itu memang selalu diceritakan, ketika aku ataupun dia, sedang dalam kondisi down, dalam keadaan harus ber-positive thinking, dan meminta pertolongan kepada Allah.
"Yang kuminta ketika itu, Allah mendatangkan pertolongan dalam keadaan tidak ada apapun. Jalan yang sepi, mobilpun tidak ada yang melintas. Pikiranku satu, Allah pasti akan mendatangkan pertolongan dan aku tetap mendorong sepeda motor"
"Lama de, lama sekali...jalannya panjang kan itu? jalan layang yang di sebelahnya terlihat Pasar Pramuka"
"Tiba-tiba, ada motor yang berhenti, tanya kenapa motorku, aku jawab, setelah ganti busi, mati, bensin full"
 Aku menahan nafas dan menelan ludahku, sungguh adegan ini yang seharusnya, aku benar-benar bersyukur kepada Allah. Dia melirik dan menatap tajam mataku.
"Aku minta mengantar sampai pom bensin terdekat, dia tidak mau de'. Dia mengantar hingga depan rumah. Di rumah aku hanya kasih teh botol, ketika hendak pulang, setelah teh botolnya habis,  aku memberi uang dan dia menolaknya."
Subhanallah, "Maka Nikmat Tuhan Kamu Manakah Yang Kamu Dustakan?". Aku diberikan suami yang begitu tampan ** Alhamdulillah, yang begitu baik, dan telah diselamatkan dan ditolong Allah melalui pengendara sepeda motor yang melintas, sampai rumah. Cempaka Putih-Koja, Tanjung Priuk itu luar biasa jauhnya lho?
"Intinya de, kita harus berpikir positif, apa yang kita pikirkan itulah, yang akan datang pada kita. Karena kehendak Allah, juga akan mengikuti sangkaan hambanya. Berpikirlah bahwa kita tidak sakit ketika tubuh dalam keadaan payah. Berpikirlah bahwa rejeki itu pasti akan diberi Allah, tentunya dengan jalan yang benar"

Nah, ketika sedang sakit adalah salah satunya cerita tersebut diputar kembali oleh dia. Kemudian dia menambahkan untuk membuatku takut *sepertinya.
"Mungkin, jika pada saat itu aku berpikir akan ada gerombolan yang membawa senjata yang aku takutkan, mungkin juga akan datang, tapi aku lebih memilih untuk terus mengingat Allah dan meminta pertolongannya, Subhanallah"
"De, ketika kamu sakit, jangan tarik pikiranku tentang penyakitmu, berpikirlah untuk kesembuhanmu, pasti akan sembuh"
***
 Ini kejadian Selasa, 4 Mei 2013 pukul 16.20 sore. Ketika itu aku hendak pulang dari kantor. Biasanya aku menunggu bis di halte, kemudian bus akan bergerak dan masuk ke pintu toll. Sore itu, aku pasrah, jika aku ketinggalan bus yang akan membawaku dari Jakarta ke Tangerang. Toh, menunggu 45 menit tidak selama aku harus jalan kaki dari Jakarta Tangerang.

Ketika aku belum mencapai halte yang kira-kira masih satu kilo, bus telah bergerak hendak masuk ke pintu toll. Aku hanya memandang pasrah dan tidak berpikir macam-macam. Namun ternyata entah supir atau kernetnya yang menghentikan bus itu di depan pintu toll dan menungguku. Yang pasti Allahlah yang menghentikannya.

Intinya, belajar untuk senantiasa berpikir positive dan menghilangkan pikiran-pikiran yang membuat kusut pikiran, adalah jalan untuk dipertemukan dengan cinta-Nya.

Sahabat semuanya, kadang banyak sekali yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Berlalu, tak berkesan ataupun serasa tak berbekas. Namun dengan mengambil setiap detik menjadi sebuah rasa syukur dan mengambil hikmah dibalik kejadian itulah, rasa bahwa cinta Allah begitu dekat denganku...

6 comments:

  1. Alhamdulillah... akhirnya sampai di rumah.. Kok gak SMS saya mbak Astin, kan saya bisa bantu benahin motornya. Tapi nanti balikin saya balik lagi ke Jember loh hehehe

    yupz.. saya juga belajar positif thinking mbak dan terus mensyukuri sekecil apapun kondisi kita

    ReplyDelete
  2. Hehee, Uncle...itu ceritanya baru setelah menikah.. Yup postink Yuk.

    ReplyDelete
  3. loh dari jember?? aku situbondo :D

    akhirnya... g jalan kaki karna bisnya dah berenti... bersyukur :)

    ReplyDelete
  4. Allah sesuai dengan prasangka HambaNya, selalu mengingat Allah hati menjadi tenang.

    salam kenal juga ya Mbak

    ReplyDelete
  5. Hmmm nostalgia masa berpacaran ya mbak.. Jadi ngiri pingin segera punya bini hihihi

    ReplyDelete
  6. LAdangduters : cerita ketika masih belum menikah, heee.

    Arr Rian : Betul, semoga selalu istiqomah, aamin

    Suria : Yang Jember uncle Lozz, akyunya di sini, Alhamdulillah bisnya berhenti menungguku, hihhii

    ReplyDelete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...