6 Mar 2018

Belajar Menerapkan Pola Hidup Sehat Berawal dari Menjaga Makanan



[Kesehatan] [Gaya Hidup]

Saya dan suami tidak pernah menuliskan resolusi tahunan dalam selembar kertas. Tapi ada banyak hal yang ingin kami lakukan dan tingkatkan. Salah satunya, kami ingin hidup lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya. Sehat di sini berarti mengurangi gaya hidup yang kurang sesuai dan menambah gaya hidup yang lebih baik.



Contohnya soal asupan makanan yang masuk ke dalam perut. Bukan untuk kami saja, ternyata kami menerapkan hal ini untuk anak-anak juga. Hm, tulisan ini akan mengandung unsur pengakuan yang mungkin bakal membuatku bersedih dan nangis. Namun, kesedihan itu biarlah berlalu, sekarang dijalani dan esok lebih ditingkatkan.


Alhamdulillah secara fisik, kami sekeluarga diberikan kesehatan jasmani oleh Allah SWT. Di sini, saya selalu memberikan pengertian kepada anak-anak, bahwa kesehatan yang diberikan oleh Allah, harus disyukuri. Bagaimana caranya? baru ke anak pertama saja, saya dapat berdialog seperti ini. Caranya, tentu saja dengan menjaga kesehatan, mengkonsumsi makanan yang halal dan sehat dan selalu bersyukur diberikan kesehatan. Untuk anak kedua, yang usianya masih balita, saya baru sebatas memberikan pengertian, kalau ndak mau makan, kasihan perutnya. Perutnya nanti menangis dan teriak-teriak loh.

Mengurangi Konsumsi Karbohidrat


Secara khusus saya menuliskan bagaimana kami mengubah pola hidup mulai dari pola makan. Awalnya, suami saya yang ingin menurunkan berat badannya. FYI, tinggi badannya 180 an dan berat badannya hampir 100 kg. Lemak terbesar berada di bagian perut. Suami saya bukan pecinta olah raga yang bisa keluar rumah setiap hari untuk jogging/ sepedaan. Padahal di rumah sudah ada sepeda. Pernah beberapa kali tuh, sepeda digunakan, tapi setelahnya anak pertama saya yang memakai.

Dimasakin buncis dan ayam fillet, bisa dihabiskan tanpa nasi


Bagaimana cara beliau menurunkan berat badannya. Pertama-tama, mengurangi konsumsi karbohidrat. Biasanya satu centong sekarang setengah centong, bahkan apabila siang hari makan di luar, malamnya dia hanya menghabiskan sayur dan lauk tanpa nasi.

Signifikankan pola makan yang sedang dijalani? signifikan apabila saya ndak jajan/ membuat makanan yang berbahan baku gula, cokelat dan tepung. Seringnya beliau ndak bisa menolak kalau saya sudah membuat makanan tersebut dan tidak dimakan. Jadi, sementara acara baking-bakingan diskip dari daftar proses belajar saya di dapur. Kalaupun anak-anak ingin makan cake, lebih baik membeli dalam porsi yang kecil-kecil dan ngepas. 😴 kasihan.

Mengurangi Konsumsi Minyak


Duh, namanya goreng-gorengan itu nikmatnya tiada tara. Apalagi yang dibeli di abang tukang gorengan dipinggir jalan. Ya ampun, saat berada di depan gerobaknya, semua gorengan pingin dibeli, kan. Saya pernah mencoba membeli 5000 rupiah saja. Gorengan yang saya dapat 5 buah, tempe mendoan 2, tahu isi 1, pisang molen 2. Sampai di rumah, saya hanya mampu menghabiskan 2 gorengan saja. Sisanya, ada perasaan menyesal karena bayangan saya ndak sesuai kenyataan. 

Kurang lebih hampir 5 bulan, saya sudah tidak pernah membeli gorengan di abang-abang tukang gorengan. Semoga lebih dari 5 bulan, ya. Digoda sering banget, apalagi di depan gerbang perumahan, persis pintu masuk tuh, ada tukang gorengan. Ya ampun itu aroma sangat menggoda. Alhamdulillah selalu skip. Anak-anak juga ndak pernah meminta untuk dibelikan gorengan.

Membuat tahu goreng crispy di rumah


Namanya manusia kan, manusiawi ya menyukai apa yang menurutnya menarik, apalagi gurihnya gorengan. Saya harus mau untuk membuat sendiri tempe mendoan, bakwan goreng/ pisang goreng sendiri dari dapur sendiri. Tapi, saya paling sering bosen itu membuat gorengan, paling sebel melihat sisa minyak. Jadi, menu gorengan di menu yang sudah saya susun itu sangat jaraaang sekali. Mungkin yang bertahan hanya ikan, ayam dan tahu goreng. Tempe goreng sudah jarang, karena abang tukang tempenya pindah ke pasar lain. 😏 segitunyaaa.

Memperbanyak Konsumsi Sayur dan Buah


Setelah agenda baking-baking mulai saya kurangi, saya sering jajan biskuit cokelat, cake cokelat dan aneka macam jajanan yang bukan anak saya yang ingin, tapi saya. Nakal ya sayah, heheheee. Saya juga pernah membeli makanan ringan yang dijual kiloan itu loh, yang biasanya ada di kios dekat pasar. Sekali beli, saya bisa membeli 4-5 macam snack yang aromanya, ampun gurih banget.

Sekarang, kebiasaan itu sudah lama saya tinggalkan setelah suami saya memberi saya uang 150 ribu rupiah untuk dihabiskan saat itu juga. Syaratnya, saya harus belanja buah-buahan sebanyak 150 ribu untuk stock satu minggu. Whaaaat? iya, menurut suami saya, lebih baik boros untuk membelo buah-buahan, daripada membeli makanan ringan yang gurih itu. Ya ampun, itu kan cocok banget kalau ada tamu, terus disajikan snack dalam wadah tupperware, kan? Big No, katanya beliau. 😩 aku kudu piye.



Sampai suatu hari, ada teman suami yang mampir ke rumah. Tahu ndak, suguhannya apa? ya potongan buah-buahan dong. Melon saya kupas dan saya potong dadu. Semangka saya potong dadu juga. Nyuguhinnya pakai garfu dan piring kecil. Hahahahahahy, unik banget ya, suguhan tamu di rumah kami? 


Selain itu, suami saya sumbang saran dalam penyusunan menu masakan. Suami menyarankan untuk memperbanyak sayuran yang dicampur dengan lauk. Contohnya, saat menumis sawi putih, bisa ditambahkan tahu kuning. Saat menumis labu siam, ditambah dengan ayam fillet atau tempe. Jadi, sekali masak bisa mencukupi dua kebutuhan. Yaah, yang paling mudah ya bikin cap cay sederhana a la #dapurastata yak. Sayuran ditambah ayam fillet sudah mencukupi untuk gizi seimbang.

Meningkatkan Disiplin Waktu Makan


Suami saya bukan pekerja kantoran yang berangkat pagi, jam 12 siang mendapat jatah waktu istirahat dan bisa pulang sebelum makan malam. Beliau kadang masih meeting dan bertemu dengan koleganya di waktu sore hari. Kebiasaan ngumpul meeting begitu kan di cafe/ food court yang pesanannya gak jauh dari kopi yak. Nah, asam lambung suami sering kambuh. Apalagi perjalanan pulang ke rumah, sudah melebihi jam makan malam.

Saya sudah sering memberikan solusi untuk menyediakan camilan di mobil. Tapi selalu saja ditepis olehnya. Gemes kan, sudah beli biskuit dari gandum pilihan, masih tersisa beberapa. Kan, lebih nyaman begitu, sedia camilan di wadah tupperware, kalau jalanan macet kan membantu banget tuh camilan.

Begitu pula dengan anak-anak. Kebetulan anak pertama sudah sekolaj, jadwal makan pagi, siang dan sorenya Alhamdulillah teratur sekali. Nah, anak kedua yang masih balita ini, baru-baru ini saja teratur makan 3 x sehari. Ya Allah, inilah yang membuat saya sedih, setelah menyadari bahwa susu, camilan dan snack bukan pengganti makanan utama.

Anak balita ini, susah sekali makan. Baru melihat saya membawa mangkok berisi nasi, sayur dan lauk saja, mulutnya sudah terkunci. Ada saja alasan untuk menolak. Pyuh, dan saya mengantikan makanan pokoknya dengan memberi dia camilan berupa roti sobek, roti tawar, buah-buahan dan cokelat. Hiks, itulah kenapa, pemberian susunya banyak, camilannya banyak, tapi badannya agak kurusan.


Baru beberapa bulan kemarin, tidak sengaja saya memberi tolak angin anak sebelum melakukan perjalanan menggunakan kereta ekonomi Serayu. Kebetulan atau ndak, sepanjang perjalanan, anaknya minta makan terus. Kebiasaan itu terus saya lanjutkan sampai sekarang, saat melihat nafsu makannya kurang, saya beri anak itiu tolak angin anak, makannya lahap dan bisa teratur 3 x sehari. Bagaimana dengan susunya? susunya berkurang, camilannya tetap banyak.

Godaan Itu Selalu Ada


Namanya manusia, manusiawi kan ya, kalau tergoda hal-hal yang menarik nafsu makan. Anak pertama saya lebih sering tergoda jajanan di sekolah. Saat ini jajanan anak sekolah banyak buanget macamnya yak. Solusinya saya mencoba membuat sendiri tuh jajanan cilung, cilor dan sotang.

Anak ke dua saya sebetulnya belum mengenal jajan. Kalaupun minta jajan, masih bisa disaranin lebih baik jajan yang ini saja yaaa, masih gampanglah. Suami saya hebat lagi nich, jarang sekali jajan makanan di luar. Kalaupun sudah lapar sekali menjelang waktu pulang, atau bakal nyampe rumah tengah malam. Beliau makan paling nasi gorenng atau nasi lele.

Nah, yang paling mengkhawatirkan malah saya. Apalagi menjelang PMS, segala apa yang menarik mata, seperti orang ngidam saja. Pingin Pizza, langsung saja pencet-pencet di aplikasi terus mengeluarkan voucher MAP. Pingin biskuit cokelat, melaju ke supermarket dekat rumah. Solusinya, perbanyak stock buah, yang biasanya  1 minggu belanja buah 150.000, ditingkatkan menjadi 200.000. Kasihan ndak tuh, sama buah yang sudah dibeli. 😡 hayoloh.

Progres Resolusi Hidup Sehat


Jalan-jalan ke tempat wisata yang memungkinkan membawa bekal, seperti Ragunan. Saya pasti memawa bekal makanan. Praktis-praktisa saja, ndak perlu yang repot, contohnya nasi, ayam goreng, tumis sawi dan membawa buah jeruk dan pudding.

Sebaliknya saat jalan-jalan ke tempat wisata yang tidak memperbolehkan membawa masuk bekal makanan. Solusinya, sebelum masuk, makan bekal terlebih dulu di dalam mobil. Kami pernah loh, sebelum masuk ke tempat bermain air, menghabiskan bekal makanan dulu.

Di parkiran mall kami juga pernah menghabiskan bekal makanan, sebelum jalan-jalan mengelilingi mall. Kalau anak-anak merengek minta jajan di dalam mall, ya ndak apa-apa. Toh ndak sering-sering. Yang penting kami sudah makan makanan pokok.

Menghadirkan menu-menu makanan di rumah dengan makanan  yang bervariasi. Contohnya, ayam yang biasanya digoreng dengan bumbu biasa, saya akan mencari resep ayam dengan bumbu lainnya. Atau ikan goreng yang biasa di pecak, bisa dipepesa atau diapain. 

Saya selalu suka kalimat ini :  hal-hal yang awalnya aneh dilakukan, lama-lama menjadi kebiasaan yang apabila ditinggalkan rasanya sangat aneh. Saya sudah merasakan saat saya harus menerapkan kebiasan, paling ndak memasak satu kali dalam sehari. Jadi, saat sehari saja ndak masak, kok rasanya ada yang aneh. 

Tulisan ini bukan sebagai himbauan ataupun saran untuk teman-teman. Tulisan ini lebih menekankan kepada sharing pengalaman dan paling ndak, dapat dijadikan bahan saya untuk introspeksi apabila sedang berada dalam titik terendah, dalam hal ini masalah kebiasaan baik terutama dalam hal menerapkan pola hidup sehat.

17 comments:

  1. Waaah, saya suka buah, dan belum bisa mengurangi nasi, Mbak... Apalagi klu nasi tutug oncom, bisa habis berpiring2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupun masih banyak nasinya, kalau suamiku karena perutnya ndut, jd berusaha utk mengurangi

      Delete
  2. Wah, hebat Mba, tahapan hidup sehatnya. Hampir sama, saya sekarang udah ga beli makanan kiloan di pasar. Pak suami minta dibawain buah buat bekal daripada jajanan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanan kiloan itu enak banget loh, hehehee. Sama, takut dicerewetin lagi, Mbak. Jadi uangnya kubelikan buah-buahan aja

      Delete
  3. Keren pola hidup barunya. Saya akui masih susah untuk bisa berkomitmen seperti Mbak dan keluarga. Padahal sudah kepengen banget. Bismillah, mau saya ikuti caranya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, awalnya mungkin susah ya, tapi lama kelamaan jd kebiasaan y

      Delete
  4. yuk lah gaya hidup yang sehat mulai dari menjaga pola makan ada asupan makanan. melatih untuk tidak makan gorengan wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gorengan itu menggoda banget, kan

      Delete
  5. terutama yang susah akalau anak sekolah banyak jajanan yang mengdoda padahal agk sehat

    ReplyDelete
  6. Sama nih, aku juga mengurangi nasi. Meski kadang-kadang masih kepengen mie juga sih. Udah berhasil makan mie hanya seminggu sekali. Nasi juga nggak setiap hari. Ternyata kalau udah biasa, bisa kok. Pengen gitu seterusnya makan makanan sehat :D

    ReplyDelete
  7. Kalo baca ini aku inget mama sih. Dulu mama yg telaten bgt bikinin sarapan, makan siang dan malam. Semua tersedia komplit. Kita jarang jajan yg ga sehat. Tp sjk nikah, buyarlah semua. Akunya kerja, makan siang dan pagi malah kdg2 malam, ya udh pasti beli di luar. Mba asisten di rumah masak sih, tp jrg kita sentuh jadinya.

    Tp thn ini aku jg udh niat, pokoknya pgn lbh sehat dlm hal makanan dan lifestyle. Pgn rutin olahraga.. Moga2 ttp bisa konsisten ngejalaninnya mba :D. Kyknya utk makanan, aku jg mau memperbanyak buahlah :D.

    ReplyDelete
  8. Mengurangi konsumsi minyak memang berat banget mba...tapi ini lagi mencoba hehehe pengennya bisa kasih contoh ke anak-anak

    ReplyDelete
  9. Saya termasuk orang yang suka makan sayur. Bahkan, tak jarang saya ambil nasinya sedikit saja agar dapat ngambil sayur lebih banyak, hehehe. Apalagi buah. Tentu sangat suka.

    ReplyDelete
  10. Baru bisa ngurangi karbohidrat aja. Duuuh semoga gorengan segera juga.

    ReplyDelete
  11. Memang makanan juga perlu di perhatikan supaya kesehatan tetap stabil ya mba :D

    ReplyDelete
  12. semangaaat astin..sayur dan bush segar memang very important

    ReplyDelete
  13. Saya juga mengurangi karbohidrat. Lumayan turun beberapa kg. Asalkan jangan ditawarin nasi padang aja :D

    ReplyDelete