13 Nov 2012

Hujan dan Ai

Advertisement
Sore yang sibuk, langit tergantung mendung, ada sedikit genangan air dan kesibukan membersihkan lantai yang terkena bocoran air hujan karena atap rumah rusak.
Tita....tolong bawakan ember dan lap yang kering ya nak?”
Ibu Tita memanggil dari kamar, segera Tita menuju ke dapur untuk mengambil ember dan lap kering kemudian masuk ke kamar memberikan kepada ibunya yang sedang mengeringkan genangan air di kamar Tita.
Ini bu embernya, biar Tita bantu ya?”
kata Tita sembari memberikan ember dan lap kering, Tita seorang gadis cantik, berusia delapan tahun, Tita belajar di sekolah dasar islam kelas tiga, rajin membantu ibu dan sayang sekali kepada ibunya.
Hati-hati ya Tita, lantainya licin. Coba lap keringnya berikan kepada ibu” pinta ibu Tita dan begitu pula ibu Tita sangat perhatian kepada anak-anaknya.
begini kan bu?”
tutur Tita memeras lap yang telah basah diember dan ibunya mengeringkan kembali dengan lap kering. Hujan siang tadi begitu lebat, hujan biasa dirumah Tita tidaklah membuat bocor atap namun karena angin dan hujan lebat menjadikan atap rumah jebol.
“iya sayang terima kasih ya.....” belum selesai ibu Tita melanjutkan perkataannya, tiba-tiba dari ruangan sebelah terdengar suara seperti tebaran ranting pohon. Segera ibu dan Tita beranjak ke kamar sebelah dan menemukan Ai, adik Tita yang berusia sekitar empat tahun berdiri dan dari matanya keluar butiran air mata dan di tangannya tergenggam beberapa batang pensil warna.
Masya Allah Ai, kenapa?”
tanya ibu Tita sambil meraih tubuh Ai lalu memeluknya, tangisan Ai semakin pecah air mata Ai membasahi kerudung biru ibu Tita.
Ai kenapa menangis? Tadi Ai sedang mewarnai dengan riang, kenapa sekarang Ai menangis dan melempar pensil-pensil warna ini sayang?” Ibu Tita mengelus punggung Ai yang masih terisak dipelukkannya. Tita juga ikut duduk membereskan pensil-pensil warna yang disebar oleh Ai, Ai memang senang sekali mewarnai, hasil mewarnai Ai bagus-bagus.
“Iya nih Ai, kasihan kan pensil ini Ai lempar-lempar? Gimana kalau pensil-pensil ini tersakiti dan menangis meronta?” Ujar Tita sambil melirik Ai yang telah reda tangisnya
Ai gak mau hujan bu, Ai gak suka hujan
keluarlah kata-kata Ai dari mulutnya yang sedari tadi hanya menangis tersedu.
lho kenapa sayang? Hujan itu Rahmat dari Allah sayang?, kenapa?
tanya ibu sambil mengangkat wajah Ai kemudian menatap sambil tersenyum
Hujan itu Anugerah dari Allah ya bu?” tambah Tita sambil berjalan menuju meja untuk meletakkan pensil warna yang telah dibereskan.
Hujan itu pemberian Allah, Allahlah yang menjadikan hujan turun” jelas ibu sambil membawa kedua putrinya untuk duduk ditepi tempat tidur mereka.
Coba, kalian bayangkan ya...setiap hari didunia ini tidak ada hujan apa yang terjadi kak Tita?
suara ibu begitu halus dan bertanya kepada Tita, kemudian Tita meletakkan telunjuknya ke kening, mengerutlah kening Tita,
em...pasti kita tidak bisa mandi ya bu?”
jawab Tita sambil mengangguk-angguk seperti memahami sesuatu.
juga pegunungan tidak bisa mengaliri air untuk minum kita betul bu?
tambah Tita dengan bersorak karena menemukan suatu akibat dari sebab tidak terjadinya hujan.
anak sholehah, benar sekali kak Tita, coba Ai...kalau dipermukaan bumi ini tidak turun hujan, maka apa yang terjadi sayang? em...ayo dong senyum... mana senyum anak manis ibu? Dari tadi kok cemberut terus ? Hujan kan sudah berhenti sayang?”
Ibu melihat Ai masih menutup mulutnya, tangan disilangkan didepan dada dengan mata masih belum bergerak seperti Ai dalam kesehariannya yang ceria. Namun Ai masih saja membisu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
ih adik kecil kakak kok jadi begini ? Apa yang terjadi hayo kalau hujan tidak turun di bumi?” Tita gemas melihat adiknya yang membisu walau ibunya telah mencoba meredakan dengan senyuman dan dekapan yang hangat. Tiba-tiba pecah tangis Ai kembali membuat ibu dan Tita kaget dan kebingungan mendengar ledakan tangis Ai yang begitu keras.
eh, Ai sayang kenapa menangis lagi nak? Apa yang salah? Uuuhh...cup ah, ayo anak ibu yang cantik, udah berhenti nangisnya, tidak baik lo nangis keras-keras begini...
bujuk ibu sembari menggendong Ai, menciumi wajah Ai yang basah teraliri air mata.
huaaaaaa....haaaaaa...Ai gak mau hujan....kenapa harus hujan? Haaaaaaa” tangis Ai yang kembali memprotes hujan, ini membuat Tita semakin bingung kenapa Ai tidak suka hujan.
ibu adik kenapa ? Kok Ai tidak suka hujan? Sampai menagis begini , memang Ai benar-benar tidak suka hujan?
selidik tita bertanya kepada ibunya yang sibuk meredakan tangisan Ai.
Nak, sudah diam, coba beri ibu senyum paling manisnya Ai dong...lalu cerita sama ibu dan kak Tita, kenapa anak ibu ini kok menangis dan tidak suka hujan yang turun?
Kalau hujan turun dari Allah biar Ai bisa mandi, biar Ai bisa minum kenapa hujan itu merusak gambar rumah Ai yang sudah Ai beri warna buuuuu?
terang Ai sambil memberikan kertas bergambar yang telah pudar warna diatasnya terkena air.
ini bu, Ai mewarnai dengan bagus, milih warnanya saja sambil mikir, warna apa ya? Tapi kenapa hujan siang tadi membuat hasil warna Ai jadi begini?
Ibu dan Tita mendengarkan dengan penuh perhatian walau sebenarnya bibirnya menyunggingkan senyum tapi mereka menutupinya dan ibu segera menjelaskan kepada putri-putrinya
sayang, Tita dan Ai, hujan adalah kejadian alam, hujan memang kuasanya Allah, walau sebenarnya bisa saja manusia membuat hujan buatan. Nah hujanpun turun tidak setiap hari sayang, hujan turun pada musimnya, meskipun begitu ada saat musim kemaraupun hujan turun nah itulah kuasa Allah. Hujan turun banyak sekali manfaatnya, dari musim kemarau tanah kekeringan, tidak adanya air, tanaman layu dan mati dengan adanya hujan pastilah tanah yang kering menjadi gembur kembali, tanaman menjadi segar dan udarapun bersih dari debu-debu yang kering
ibu telah memberikan penjelasan yang bisa dipahami oleh Ai dan Tita yang mengangguk-anggukan kepala tanda memahami.
“jadi bila hujan turun berdoalah kepada Allah ya nak, ayo kak Tita sudah hafal kan?” tanya ibu sambil menengok kearah Tita, dan Tita menggangguk kemudian
“اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا yang artinya Ya Allah! Turunkanlah hujan yg bermanfaat {untuk manusia tanaman dan binatang}. Aamiin” Ibu mencium Ai dan Tita
Ai, tidak mengapa air hujan merusak gambar Ai, Ai kan anak pintar bisa mewarnai gambar lainnya lagi dengan lebih bagus, ya nak?
iya ibu, Ai tidak marah lagi dengan hujan, Ai akan lebih hati-hati saja bila meletakkan sesuatu
Akhirnya Ai berlapang dada, kertas mewarnainya yang telah selesai terkena air hujan, dan Ai tidak lagi bertanya kenapa harus ada hujan. Karena hujan banyak sekali manfaatnya untuk bumi dan semua isi bumi, termasuk Ai, Tita dan keluarganya, tanaman dan hewan serta tanah.



10 comments:

  1. Bagus Mbak :)
    SEmangat ya untuk menulis :)

    Saya juga masih semangat untuk terus belajar, belajar dab belajar ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sippp, semangat yang tertular ya...
      makasih ya sudah berkunjung

      Delete
  2. oia Mbak, ada banyak grup kepenulisan di FB yang bisa diikuti. Sudah bergabung kah? Kita bisa belajar banyak dan ikut lomba-lomba yang ada ^^

    Hitung-hitung mengasah kemampuan menulis ^^
    GAnbate...

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih saja error ya saat minggalkan komentar ditempat mba... komentar sih sudah ditulis, nah kan diberikan sandi (we re human ) getoooo....itu kok gak muncul tempat untuk menuliskan sandi yang diberikan ya?
      Sedikit bingung jadinya karena sudah google profilnya.

      Informasinya terima kasih sekali ya, ada ya di blog mba? nanti saya singgahi satu-satu dah. kita sudah berteman ya di fb? kabar kabari ya klo ada kesempatan. tks...salam

      Delete
    2. hujan dan ai ? itu mksdnya apa ya mak :3 ? saya masih blom paham

      Delete
  3. keren banget mbak... salam kenal dari aku ya... azizah

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mba azizah,saya sedang belajar
      salam kenal juga dari saya.

      Delete
  4. Salam kenal mbak, penuh hikmah cerpennya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAi...salam kenal juga mba Hida Azzam
      heheee....saya sedang belajara, makasih ya masukkannya

      Delete

link

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...