Monday, 1 February 2021

Watak Melankolis, Kekuatan dan Kelemahan si Watak Paling Baperan

Bismillahorrohmannirrohim,

Watak Melankolis, Kekuatan dan Kelemahan, si Watak Paling Baperan. Pekan lalu saya menuliskan Pentingnya Memahami Watak Dasar Manusia dalam Menjalin Hubungan. Tentunya kita semua telah memahami bahwa pembawaan/ karakter/ watak orang itu berbeda-beda. Saya dan suami memiliki watak yang berbeda, bisa jadi anak-anak memiliki watak yang sama atau berbeda juga dari kami. Lebih luas lagi, saya memiliki pembawaan yang berbeda dengan teman yang sedang melakukan komunikasi menggunakan direct message pada aplikasi Whatsapp atau pesan elektronik. Meskipun sudah menjalin hubungan pertemanan lama,  karena pembawaan kami  berbeda dan sedang minim informasi kondisi satu sama lainnya, bisa saja komunikasi akan mengalami benturan. hal ini dikarenakan saat membaca pesan dengan redaksi yang sama, bisa dibaca atau diartikan berbeda. Apalagi untuk watak melankolis, si watak paling baperan. Duh, salah lagi ya, 😅

Astin Melankolis
Mencoba mengikuti metode Konmari


Menyadari bahwa pembawaan atau watak saya adalah si watak paling baperan. Watak melankolis yang sering membuat teman menjadi geregetan karena kebaperan atau rasa terlalu peka-nya ini. Membuat si watak mealnkolis ini suka menerka-nerka perasaan teman-teman/ lawan bicaranya/ orang yang sedang dekat dengan si watak baperan ini. Watak melankolis yang kadang "dibully" supaya kebaperannya dihilangkan dan jangan terlalu mendramatisir perasaaan. Saya dan mungkin teman-teman melankolis lainnya tidak ya, pernah merasa, bahwa  watak mealnkolis ini sungguh merepotkan. Ada kalimat yang kurang pas lalu membuat kita baper, rasanya menjadi hal yang paling aneh. Tapi menurut Dr. Aisah Dahlan dalam kajiannya, itu wajar. Salah satu ciri watak melankolis itu lembut hatinya dan terlalu peka perasaannya. Pernah loh, saya merasa ingin menjadi orang lain, yang tidak peduli dengan apa yang disampaikan orang lain. Tapi rasanya itu tidak mudah, karena dari pembawaannya saja sudah berbeda.

Al Qur'an Surat Al Isra ayat 84 diartikan :

Katakanlah (Muhammad) , "Setiap Orang Berbuat Sesuai dengan Pembawaannya Masing-Masing." Maka Tuhan Kamu Lebih Mengetahui Siapa yang Lebih Benar Jalannya.

Baca Juga : Memahami Watak Dasar Manusia 

Dari firman Allah di atas, dan dengan kajian yang disampaikan oleh Dr. Aisah Dahlan, saya kemudian mencari tahu lebih banyak mengenai watak atau pembawaan ini. Semua manusia dilahirkan dengan pembawaannya masing-masing. Saya lahir dari bapak dan ibu dan memiliki saudara kandung yang juga memiliki watak atau pembawaan bisa saja sama dan bisa saja berbeda. Pun dengan orang lain yang ditemui dalam menjalin hubungan. Teman yang lainpun  memiliki watak atau pembawaan yang berbeda dengan kita semua. Menyadari adanya perbedaan tersebut, membawa saya untuk belajar memahami watak dasar yang dikenal secara umum ada 4 watak dasar.

  1. Watak Melankolis : Hasratnya selalu sempurna
  2. Watak Plegmatis : Hasratnya selalu damai
  3. Watak Koleres : Hasratnya selalu Menyelesaikan tujuan
  4. Watak Sanguinis : Hasratnya selalu gembira 

Aku Pembawaannya Mealnkolis, Mohon Maaf Suka Baper, Ya😐


Saya merasa memiliki semua watak dasar tersebut di atas, hanya saja lebih dominan atau utama di Melankolis. Ada juga watak kombinasi yang tercipta karena lingkungan, bisa jadi dari pendidikan dan hubungan pernikahan. Watak utama saya Melankolis dan turunan dari Ibu dan Bapak. Terlihat dari selalu tersusunnya rumah Ibu dan Bapak dengan rapi dan semua peralatan yang digunakan selalu dikembalikan ke tempatnya. Ibu dan Bapak juga memiliki kebiasaan mencatat semua hal, termasuk membeli gayung , beliau berdua akan menulis di permukaan gayung tersebut loh. Ditulis secara lengkap tanggal pembelian, nama tokonya, bahkan harganya. Luar biasa kan bapak dan ibuku ini. Jadi watak saya sudah jelas menurun dari Bapak dan Ibu tercinta. 

Astin Melankolis
Salah satu keranjang yang saya bawa dari rumah Ibu, ada tulisan tahun 2008. Di baliknya ada tulisan harganya 25.500


Sedangkan watak kombinasi keluar setelah proses pendewasaan. Bisa didapat dari proses belajar atau juga bisa didapat dari hubungan pernikahan. Kita semua tahu ya, pernikahan adalah ibadah sepanjang waktu. Selalu berada di bawah atap yang sama, bertemu setiap hari, berkomunikasi setiap hari, saling mempelajari satu sama lainnya, saling memahami dan saling toleransi. Keluarlah watak kombinasi atau watak yang berbeda dari watak utama. Saya mendapatkan watak plegmatis dari suami. Yup, suami adalah seorang juru damai yang tidak pernah marah dan paling sungkan untuk menyampaikan keadaannya di kala mendapat kesusahan. Apa yang saya dapatkan dari watak damai ini. Saya menjadi lebih mudah untuk melepaskan energi negatif yang keluar saat terbawa perasaan membawa tulisan yang kurang pas di hati. Contoh lainnya banyak sekali ya, jadi kekuatan plegmatis menutupi kelemahan melankolis, begitulah intinya.

Kebaperan Tidak Bisa Hilang, Tapi Diminimalisir Bisa, Kok.


Apakah semua orang memiliki semua watak untuk watak kombinasinya? Bisa jadi iya, tetapi, lagi-lagi tidak dominan ya. Sayapun pernah merasa keluar watak koleris pada saat memiliki urusan yang banyak dan waktunya mepet. Contohnya, keluarga saya akan menghadiri acara yang waktunya sudah ditentukan. Suami yang memiliki watak plegmatis, muncul kelemahannya yaitu santai. Nah, saya yang melankolis ini kan pembawaannya ingin sempurna, jangan telat, sebisa mungkin datang sebelum acara dimulai. Muncullah pembawaan memerintah dan mendominasi untuk menyuruh suami lebih cepat. Huhuuu, kalau sudah muncul Kolerisnya Melankolis, urusan makin panjang dan bisa-bisa di Plegmatis ini malah merasa kurang suka. Apalagi posisinya sebagai pemimpin rumah tangga yang pastinya ada pembawaan memimpin ini.

Apakah akan muncul juga watak sanguinis dari pembawaan saya? tentu bisa. Saat melankolis dengan berada di fase paling bahagia, akan muncul watak sanguinis meski tidak sempurna seperti orang yang memiliki watak utama sangunis. Kebetulan saya memiliki dua orang anak. Laki-laki dan perempuan. Mereka berdua mendapati watak yang turun dari saya dan suami. Anak laki-lakiku memiliki watak melankolis juga dong, ya Masya Allah. Dan, anak perempuan saya inilah yang berbeda dari Ibu dan bapaknya. Dia memiliki watak Sanguinis yang utama dan plegmatis sebagai watak kombinasinya. Kok bisa melenceng jauh sekali? ya, semua itu pasti sudah menjadi Qodar-nya Allah ya. Menjadi pelengkap di dalam keluarga. Saya bisa menjadi sanguinis saat bersama dengan anak perempuan ini. Awalnya karena saya mempelajari watak anakku ini. Saya mengikuti bahasa kasih apa yang ingin didapat dari anak ini. Bahasa kasih berupa kalimat dukungan. Salah satu contohnya adalah, saya harus memasang wajah gembira, senang dan memberikan dia sapaan setiap bertemu dengan si anak ini. Meskipun saya dalam keadaan pusing, lelah atau banyak persoalan dalam hidup. Hehehe. 

Seru ya ngobrolin tentang watak diri sendiri dan orang lain, khususnya watak suami dan keluarga. Ada saja yang kemudian menjadi semangat untuk saling memahami satu sama lainnya. Allah menciptakan di dunia ini berpasang-pasangan. Ada malam dan siang. Ada laki-laki dan wanita. Ada sedih dan bahagia. Ada sakit dan sehat. Begitiu juga dengan watak atau pembawaan ini. Ada kekuatan dan ada kelemahannya. Sebetulnya saya kurang suka untuk membahas kekuatan dan kelemahan ini, tapi untuk lebih memahami lagi dan sebagai bagian dari memahami watak dasar untuk menjalin hubungan yang lebih baik, okelah saya akan mencoba menuliskannya, ya.

Semua Suka Kerapihan, Jika Keteraturan itu Membosankan.


Melankolis hasratnya selalu sempurna. Melankolis bisa sakit kepala melihat ketidaksempurnaan yang sederhana, karena kesempurnaan itu milik Allah. Contohnya, saya akan berangkat tidur dalam kondisi lelah dan mengantuk. Melihat sprei, bantal guling berantakan dan banyak benda lain yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan tidur berantakan, apa yang pertama kali keluar dari pikiran saya? Ya benar, berantakan banget sih? kenapa bisa begini? Lalu. Dalam keadaan ngantuk dan lelah, si Melankolis akan membereskan semua itu dan tentu saja, kadang muncullah kalimat kalimat pusitis lainnya. "Gimana sih, gak tahu apa, ummi sudah lelah menyelesaikan urusan dapur, mau tidur saja, kasur berantakan, apa kalian gak ngerti? ga kasihan sama ummi?" Huhuhuuuu, nangislah, melaow-lah, jadi kesel ujung-ujungnya.

Lain lagi misalnya jika yang mau tidur suamiku-si plegamatis. Suamiku bisa langsung naik tempat tidur tanpa mempermasalahkan berantakannya tempat tidur tersebut. Bahkan suamiku bisa langsung tidur dan damailah kehidupannya. Pernah mencoba menjadi seperti si Plegmatis itu? pernah banget, tapi lagi-lagi di tengah-tengah proses tidur, saya turun dari tempat tidur, membereskan dan beruntunglah tidak mengeluarkan kalimat puitis karena niatnya ingin mengatasi emosi dari pembawaanku-si melankolis. 

Astin Melankolis
Kekuatan sekaligus Kelemahanku



Berikut ini adalah Kekuatan atau Kelebihan Melankolis :

  1. Sempurna. Melankolis ingin semua yang dikerjakan sempurna meskipun akan menghabiskan waktu dan waktu penyelesaiannya lama. Contohnya saat ingin memindahkan foto-foto dari gawai. Saya ingin membuat pengelompokan yang detail dan teratur. Tetapi hal ini memakan waktu lama, karena saya harus memilah satu persatu foto dan menyimpan di folder yang berbeda secara detail.
  2. Analisis. Melankolis memiliki perasaaan yang dalam. Semua yang dilihat dan dirasa, akan dianalisis sampai dalam. Hal ini mungkin ya yang membuat si melankolis ini mudah baper, hehheee. Melankolis akan membuat banyak pertanyaan-pernyataan sendiri dari sebuah kasus kecil.
  3. Rapi dan Teratur. Melankolis memiliki pembawaan yang rapi dan teratur. Matanya tidak ingin barang-barang tersusun tidak pada tempatnya. Misalnya menyusun buku-buku menggunakan sistem warna cover yang sama diurutkan atau sesuai dengan tinggi buku. Melankolis juga memiliki sifat yang teratur. Dia akan lebih mudah mengerjakan sesuatu dengan cara teratur, mulai dari yang paling susah atau paling mudah. 
  4. Mudah Peka. Melankolis memiliki perasaan yang dalam dan perasa. Hal ini membuat melankolis mudah peka, termasuk dalam sebuah hubungan. Sifat peka inilah membuat si melankolis rela berkorban, apapun itu termasuk waktu. Melankolis tidak mudah menolak ajakan, misalnya temani aku dong, aku sedang ingin ditemani. Padahal melankolis sedang memiliki urusan lainnya. 
  5. Rajin. Melankolis anaknya teruatur dan rapi. Dia akan meluangkan waktu untuk menekuni apa yang disukainya. Saya diharapkan Bapak untuk menjadi anak yang tekun. Alhamdulillah salah satu keberhasilan saat kuliah adalah rajin. Saya memberikan hadiah Cumlaude kepada bapak karena ketekunan saya belajar. 

Kadang Curiga itu Ada Manfaatnya, Tetapi Bukan untuk Dibenarkan!


Melankolis ini tipe orang yang memang menggemaskan sekali. Salah seorang temanku, yang jika membaca tulisan ini pasti akan geregetan dan mengingat apa yang sering dikatakan kepadaku. Intinya dia tuh paling gak suka kalau kalimat-kalimat puitis keluar. Yup, melankolis ini orangnya suka mendramatisir suasana, suka membuat kalimat puitis yang runyam dan sangat susah untuk diterka arahnya ke mana. Melankolis ini suka muter muter gak pernah bosan.

Melankolis ini memiliki ciri suka menganalisis apapun dan cenderung menjadi seorang yang mudah curiga. Berdampingan dengan seorang plegmatis, sifat mudah curiga ini makin lama makin terkikis dan kurang peka lagi. Contohnya kejadian tiga bulan lalu, saat keluarga kami tepapar covid-19. Sore itu, hanya ada saya dan anak perempuan di dapur. Ada suara dua orang laki-laki yang sedang ketawa di belakang rumah. Saya sempat menegor dan jawabannya hanya main-main saja. Mungkin saat itu saya dalam kondisi ikhlas mendapati bahwa kami terpapar covid, jadi saya tidak menganalisa terlalu dalam. Satu minggu setelahnya saat saya memilih isolasi di Rumah Sakit, saya mendapati informasi, rumah saya kemasukan maling. Huhuhuuu sedihnya, tetapi saya tidak bisa meratapi dan sama sekali tidak keluar air mata kesedihan barang-barang berharga diambil maling. 


Sepertinya saya harus mulai mempeka-kan rasa curiga untuk hal-hal yang tepat lagi nih. Meski begitu curiga berlebihan juga tidak dapat dibenarkan. Contohnya saat menelepon suami, berkali-kali tidak diangkat dan mulai tuh, penyakit melankolis muncul. Hal ini tidak dapat dibenarkan sama sekali, pun untuk semua orang ya. Mulai saya istighfar, berpikiran positif dan jika tidak dapat tenang, mulailah melakukan sesuatu yang membuat damai. Tidak mudah dilakukan pada awalnya, tapi suamiku pasti sudah mulai memperhatikan perubahanku. Jika setiap hari saya bisa menelepon hampir setiap jam, setiap waktu, saat ini hanya beberapa kali saja bahkan kadang malah suami yang telepon duluan. Pertanyaan suami ya itu, kok tidak telepon?. 

Berikut ini kelemahan atau kekurangan Melankolis :
  1. Pesimis dan Curigaan. Duh, Melankolis ini mudah sekali pesimis dan menjadi kurang bersemangat karena terlalu mendramatisir keadaan. Aku gak bisa ah, gak mau ambil resiko itu. Padahal orang menilai dia mampu, tapi karena sifatnya pesimis dan curiga dia bakal sedih, maka kesempatan di depan mata, tidak diambil. Sedihnya
  2. Tertekan. Menekan orang melankolis mudah sekali. Hanya menggunakan kata-kata yang kurang enak didengar atau bersikap frontal kepada di melankolis. Akan mudah tertekan pun dengan membaca berita, melihat berita tentang kejahatan. Masih ingat penergapan dan perampokan di daerah Jakarta Timur yang disekap di kamar mandi? Tidak mudah untuk saya berlama-lama di kamar mandi dan keadaan ini berlangsung sangat lama. Saya sampai tidak berani ke kamar mandi saat rumah dalam keadaan kosong. Hal ini tentu saja berbahaya dan tidak baik, perlahan saya mulai merelese perasaan tersebut. 
  3. Menghabiskan Waktu. Orang melankolis menghabiskan waktu tanpa terkontrol hanya untuk urusan perasaan atau saat dia beberes sesuatu. Melankolis ingin semua nampak sempurna dan rapi dan tentu saja banyak detail yang dia perhatikan sehingga habis waktu.
  4. Sulit Bersosialisasi. Duhuduh. Ini menyiksa sekali loh untuk si melankolis. Sulit bersosialisasi, tetapi saat sudah bertemu teman yang cocok, dia akan lupa sudah ngobrol berapa lama. Di awal mungkin si melankolis ini tidak mudah membuka pembicaraan. 
  5. Sulit Disenangkan. Yap, ada banyak standar kebahagiaan yang dimiliki oleh si melankolis. Apalagi setelah dia jatuh dan kecewa. Padahal sih, sebetulnya, standar kebahagiaan dia hanya dimengerti itu saja. Tetapi kadang melankolis itu juga gak mau jujur sih dan menganggap orang lain memahaminya. 
Masya Allah obrolan mengenai si melankolis ini panjang sekali ya. Saya senang menuliskan apa yang ada di diri saya, karena mungkin saya tidak mudah untuk mengungkapkan apa yang ada di kepala. Jadi kepanjangan nih membahas kekuatan dan kelemahan si watak paling baperan. Pekan depan mungkin saya akan menulis bagaimana melankolis dapat mengatasi kelemahannya kali ya, seru ih buka-bukaan mengenai kelehaman. Manfaatnya untuk saya adalah menjadi paham apa sih yang ada di dalam diri saya, apa sih yang mampu saya perbuat, apa sih yang harus saya ubah dan apa sih yang harus saya perbaiki. Semuanya tentu bertujuan untuk hidup yang lebih baik lagi. Insya Allah ya, teman doakan selalu.

46 comments:

  1. Asik yaa ikut kajian Bu Aisah Dahlan, jadi makin memahami karakter dan perbedaan sifat antara tiap orang.

    Kalo udah saling paham kayak gini, insyaAllah kita bisa meng-highlight ciri yg paling asyik dan mengoptimalkannya.

    Semangaattt😉

    ReplyDelete
  2. Woow, Tantiii...sepertinya (?) kita punya banyak kesamaan nih. Apa bunda jugavtype melankolis ya? Bunda suka gampang tersinggung lho, baperan kadang2. Bunda paling suka memaafkan sehingga terkadang disalah gunakan sifat bunda yg ini oleh teman2. Tanti mengenal (hampir)semua tentang watak manusia. Pengalaman hidup dan bergaul dengan banyak orang juga memperkaya pengetahuan kita tentang sifat dan karakter manysua yg kita kenal. Salut sama Tanti.

    ReplyDelete
  3. Watak itu kalau kata dokter Aisyah, bisa dilihat dari wajah loh, Mba.. salah satunya dr sudut pupur dan sudut mata. Saya termasuk yang plegmatis, sukanya damai aja memang.. nggak suka ribu-ribut.. xixixi.. Seru ya, Mba kalau mempelajari karakter seseorang. Minimal kita jadi tau harus bagaimana ke orang tersebut.

    ReplyDelete
  4. Mbak sepertinya karakter kita samaan deh, saya juga baperan dan nggak suka liat berantakkan ahhaha... Sampai2 saya banyak beli storage box yang kecil2 untuk suami dan anak nyimpen printilan2 biar nggak ganggu mata :D

    ReplyDelete
  5. wah seru juga nih belajar watak-watak manusia, hmm aku masuk ke dalam watak yang mana ya? sepertinya si melankolis karena hatinya terlalu sensitif dan perasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu itu masuk dalam Melankolis kak Aie wakakakaka... Karena seringnya kita bersama dan ngobrol. Tapi aku pun banyak dikelilingi orang-orang melankolis.

      Delete
  6. Makin ke sini aku bingung, apa aku udah nggak melankolis lagi 🤣 semenjak menikah.plegmatis aku lebih dominannya skrg kynya. Eh iyakah susah disenangkan? Aku baru tauu mba..

    ReplyDelete
  7. Gak suka lihat yang berantakan, makanya suka baper, Apalagi kalau hasrat beberes menggebu gebu tapi tenaga udah loyo, sok sok gimanaaa gitu

    ReplyDelete
  8. Gak suka lihat yang berantakan. Apalagi kalau hasrat beberes menggebu, tapi tenaga loyo hadeh banget rasanya.

    ReplyDelete
  9. krn suka ga cocok jamnya aku suka nonton kajian bu dr Aisyah via youtube aja mba...banyak membuka wawasan dan pembawaannya nyenegin gt sih cara beliau yaa... Aku nih si melankolis yang sudah mulai tobat hahahaha

    ReplyDelete
  10. Kalau di rumah yang memiliki melankolis itu anakku, hampir sama banget deh penjabarannya. Kalau ibunya tentu bukan melankolis, karena aku cenderung ke Sanguinis orangnya. Ini juga yang dibilang sama teman-teman kantorku dulu yang sudah bersama aku selama 12 tahun.

    ReplyDelete
  11. Saya sempat menyangka kalau punya tipe melankolis. Karena kadang-kadang ada bapernya juga. Tetapi, setelah baca di sini, kayaknya banyak bedanya. Saya masih tipe yang banyak cueknya ^_^

    ReplyDelete
  12. AKu melankolis juga tapi ga baperan atulah hahhaa. Semuaanya hanya berdasarkan teori saja, tapi kita sebagai manusia bisa meminimalisirnya agar jangan sampe solid pikirannya.
    Misal melankolis pasti baperan, sampe kapanpun kalo disolidkan dengan diri sendiri, pasti baper terus.
    Ahh seruu pokonya belajar karakter dari berbagai sudut pandang. Semakin ketemu banyak orang, aku banyak belajar juga. Yang penting kita bisa menutupi kekurangan dengan kelebihan yang kita punya ya.

    ReplyDelete
  13. Bener, si melankolis umumnya perfeksionis. Aku yang plegmatis ini kadang bingung lihat temen yang melankolis, kok bawaannya curiga mulu dan kaya negatif thinking gitu, padahal sesekali ada gunanya juga sih punya intuisi kaya gini

    ReplyDelete
  14. Jadi menilai kira-kira aku termasuk watak dasar yang mana ya..hehe.. Setiap watak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing ya..

    ReplyDelete
  15. wah mbak, bapak ibu nya sampai sedetail itu ya membuat catatan, bahkan sampai urusan gayungpun dibuatkan catatan inventarisasinya. Orang dengan watak melankolis kalau kerja di bagian pengadaan barang cocok banget ya, teliti dan rapi penataan barang maupun dokumentasinya.

    ReplyDelete
  16. Wah..setua ini aku blm tahu pasti watakku sendiri! Haha..patah deh aku ini.. Cenderung ke plegmatis sepertinya, tapi entahlah. Jadi ingin tahu juga..masihvadakah kajian ttg hal ini mba?

    ReplyDelete
  17. Suka banget sama kajian Dr Aishah Dahlan.Masalah watak huhu. Saat baca artikel ini serasa bercemaku tuh mbak dan cengengesan juga karena saya melankolis juga hahah. Wajar sih melankolis emang suka baper tapi harus mengontrol diri. Peer banget buat saya mbak.

    ReplyDelete
  18. Tantiii...orang yg melankolis itu hatinya baiiik banget gak ada bengkok2nya. Hampang pula memaafkan dan cepat mrlupakan kesalahan seseorang pada dirinya.

    ReplyDelete
  19. sepanjang kita tau kelebihan dan kekurangan kita, kita bisa tau mana yang perlu dikontrol dan mana yang bisa selalu ditonjolkan. Yang penting saling menghormati

    ReplyDelete
  20. Kok seperti mamahku ya Mbak Astin. Kalo aku pribadi, aku nggak tau nih termasuk watak yang mana. Ngebahas masalah berantakan misalnya, biasanya kutinggal istirahat dulu sih hehe..kecuali urgen banget misal ada eek kucing atau pipisnya yang tentu aromanya sangat mengganggu. Terpaksa deh, langsung bangkit kerja bakti.

    ReplyDelete
  21. Hmm.. nganu kak, kayaknya aku ada sisi Melankolis juga. Soalnya terdeteksi punya ciri suka menganalisis apapun dan cenderung menjadi seorang yang mudah curiga. Eeeaaaaa

    ReplyDelete
  22. it's good to know we all understand our strengths and weaknesses. The most important part is to control it ya

    ReplyDelete
  23. Melankolis itu kayaknya juga banyak pertimbangan dan penuh drama alias apa2 di dramatisasi *eh sama gak sih sama baperan hahahaha

    ReplyDelete
  24. Lengkap sekali mbak pembahasannya.. Tapi untuk mengetahui seseorang memiliki watak teretntu biasanya dari mana mba? Apa self diagnosed aja atau pakai tes tertentu? Karena aku kadang merasa aku ada di semua watak yang mbak sebutkan itu hanya saja waktunya yang berbeda. Hehe..

    ReplyDelete
  25. Hmm kalau dilihat aku pun masuk melankolis mbak walau ada juga yang lain masuk tapi kurang mendominasi..yang kejadian kamar mandi itu juga membekas di hatiku cukup lama..sedih membayangkan para korban...

    ReplyDelete
  26. Seneng banget mengenal watak melankolis. Tapi sepertinya yang melankolis di rumahku ini anakku yang pertama. Tapi gak murni melankolis, untuk hal-hal tertentu aja.
    Seneng yaa...kalo hobinya beberes. Hiihii..harus banget punya si malankolis di rumah.

    ReplyDelete
  27. Kalau baperan agaknya udah bawaan perempuan juga ya Mbak. Karena memang biasanya lebih menonjol dalam hal perasaan. Tapi biasanya kadar baper si melankolis memang agak ekstra he he. Saya jg tipe melankolis sih. Yg penting tetap kontrol bapernya aja apalagi saat sosialisasi dengan orang lain.

    ReplyDelete
  28. Aku tuh sebenarnya punya sisi melankoli juga lho Astin. Mudah tersentuh dengan hal-hal kecil yang mengena di hati. Namun jiwa sanguinisku lebih dominan saat ini, dimana untuk sampai ke tahap itu bukannya tanpa usaha hehee... Soalnya jaman kecil aku kan baperan. Sekarang malah ganti hobi bikin orang lain baper hehehee..

    ReplyDelete
  29. Wah, buat aku yg juga punya watak melankolis merasa beruntung. walau terlihat cuek, pada dasarnya sangat memperhatikan sikap dan perilaku orang. mudah tersentuh hatinya, tidak bisa melihat orang sengsara,diintimidasi, atau ditipu, kena musibah dll, bawaannya pengen bantu. hehehe...

    ReplyDelete
  30. kl tau setiap watak manusia kaya gini, insyaAllah baperan lbh bs di manage yah hehe.. terkadang suka ada benturan krn krng paham sama watak seseorang. balik lagi semua da kelebihan dan kekurangan, kita bisa memaksimlkan kelebihan dan minimalis kekurangan, amin.. makasi sharingnya mba

    ReplyDelete
  31. penting banget dan banyak manfaatnya ya mba kalau kita mengenali watak diri sendiri. Jadi lebih mudah untuk bersikap dan menyesuaikan diri. Meski begitu saya juga setuju dengan mba astin kalo watak tidak menjadi pembenaran untuk kita agar lebih dimengerti orang lain ya. Justru pemahaman akan watak ini membuat kita bisa menyeimbangkan diri dengan memahami kelebihan dan kekurangan diri secara lebih baik lagi...

    Ah, hmmm, susah juga memikirikan saya termasuk dominan watak yang mana. mesti belajar lebih dalam lagi ini...

    ReplyDelete
  32. dulu aku gitu mba, dan rasanya ngga nyaman banget saat harus kerja bareng sama orang yang ngomongnya ngasal. ngebangun moodnya itu susah.

    ReplyDelete
  33. Ternyata kalo dijelasin, jadinya panjang banget ya mbk tipikal watak melankolis ahahaha. Menarik sekali.. Aku termasuk melankolis tapi nggak begitu baperan wkwkwk. Udah kebayang, rumah si melankolis ini rapi terus ya

    ReplyDelete
  34. aku fokus ke gambar gambarnya, masyaallah mbak....
    rapi banget rumahnya, sukses menerapkan konmari..
    btw klo kita bisa paham watak masing masing, pasti dalam berinteraksi jadi lebih mudah ya mbak, misalnya saat bertemu orang yg baperan, kita bisa jaga omongan dan tingkah laku, biar tdk menyinggung gitu ya mbak?

    ReplyDelete
  35. Aku ajdi baca lagi tulisanmu, mba. Karena memang aku kurang paham sih dengan watak melankolis yang baperan hihi. Tapi seru ya mempelajari karakater atau watak, jadi bisa lebih memahami diri sendiri juga maupun oranglain.

    ReplyDelete
  36. Wah sama nih sama aku. Aku juga orangny melankolis. Cengeng dan baperan. Banyak kelemahannya, tapi juga punya kekuatan tersendiri. Tapi saat ini, aku sedang pengen ngilangin sedikit aja watak ini. Huhuhu.... gampang baper banget soalnya. :(

    ReplyDelete
  37. Berarti harus mengurangi baperannya ya Astin :) Astin perfeksionis banget kalau menurut aku selama ini

    ReplyDelete
  38. Ini yaa..pentingnya mengenal karakter masing-masing pribadi.
    No judgement dan percaya bahwa setiap watak pasti ada yang bikin ia menjadi lebih dari yang lain.

    ReplyDelete
  39. Maasya Allah itu rapi banget rumahnya Mbak
    Kalau aku bakalan susah untuk saat ini karena ada batita aktif

    ReplyDelete
  40. Saya masu kategori yang mana ya? Melankolis bukan banget saya itu.
    Apakah saya termasuk plegmatis kali ya...

    ReplyDelete
  41. Aku masih mencoba cek watak dasar aku ini apa, masih ragu dengan hasil test yang kadang suka berubah ahahaha

    ReplyDelete
  42. Itu tipe melankolis kok cocok banget sama aku Mba Asti, hehehe jangan-jangan aku Melankolis.
    Semunya tepat diaku soalnya ehehehe.

    ReplyDelete
  43. Kayaknya kita satu server nih kak, aku juga baperan banget dan sering menerka-nerka apa yg orang lain pikirkan tentang aku pas lagi ngobrol sama aku ataupun pas lagi di lain tempat. Kalo ada sesuatu yg gak enak dihati juga mikir-mikir banget kalo mau ngomong, takut menyinggung/menyakiti perasaan orang lain.

    ReplyDelete
  44. Aku sih koleris tapi suka sanguinis juga haha jadinya kadang bingung, aku tuh sebenernya tipe kepribadiannya apa.. entahlah

    ReplyDelete
  45. Terima kasih banget Mbak. Aku jadi paham sekarang ternyata suamiku termasuk melankolis. Aku jadi lebih paham lagi nih bagaiman untuk menjinakkan suami. Ya ampun bahasaku. Semoga selalu sehat dan bahagia ya Mbak.

    ReplyDelete

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih