22 Apr 2020

Bantu Sesama pada Masa Pandemi Covid 19 dengan Bijak Membagikan Broadcast


Emosi kian tidak dapat terkendali saat pandemi covid 19 terjadi. Kita dapat mengenal sifat dan pembawaan seseorang dari caranya menanggapi persoalan covid 19. Apalagi di sebuah WhatsApp Group, di mana peluang untuk membagikan sesuatu itu sangat mudah, bebas dan tidak ada yang melarang. Jika tidak ditanggapi dianggap tidak peduli dan jika ditanggapi, beberapa akan menjadi pencetus ketegangan dan perselisihan.



Saya mengambil point membantu sesama pada masa pandemi ini dengan cara non material. Mengapa mengambil sudut pandang seperti itu? karena beberapa teman yang terdampak, tidak hanya membutuhkan materi saja, tetapi immaterial berupa empati di masa pandemi ini. Salah membagikan suatu berita atau salah menyimpulkan sesuatu, dapat menjadi ketegangan di WAG. Hal itu dikarenakan perbedaan pendapat, pemikiran dan status sosial.


Pada awal masa pandemi, saya juga masih rajin membagikan pemberitaan red zone dan kebijakan pemerintah. Saat itu saya mempergunakan broadcast berita tersebut untuk memberikan informasi kepada pihak sekolah anak-anak. Pertama, sekolah anak bungsuku tetap mengadakan study tour ke TMII meski Gubernur DKI telah menutup beberapa lokasi wisata. Hingga akhirnya pemerintah pusat akhirnya menutup kawasan Ancol dan Seluruh TMII.

Pada masa pandemi ini, saya tidak ingin membuat kekacauan hati dan pikiran teman-teman di dalam WAG maupun di media sosial. Saya berusaha untuk mengontrol emosi dan bersabar meskipun ingin mengatakan atau membagikan sesuatu di media sosial. 

Hati-hati Membagikan Broadcast di WAG


Ini ada sedikit cerita pengalaman dari saya dan dari seorang teman. Anggap saja dia bernama Ibu Mawar. Berada di sebuah group sekolah yang sebelum masa pandemi keadaanya sepi dan hanya share kepentingan sekolah. Ibu mawar bercerita, awalnya ada seorang ibu, anggap saja bernama Ibu Sita. Ibu Sita rajin sekali membagikan infografis, berita, video dan lain-lainnya tanpa ada salam atau kata pembuka sebelum dan sesudahnya.

Jadi, intinya ibu Sita masuk, meninggalkan foto atau infografis lalu pergi. Isi dari broadcastnya mulai dari hal sederhana, hal mudah, hal yang semua orang tahu, hal bisa didapat dari mana saja sampai hal yang membuat beberapa ibu termasuk Ibu Mawar merasa tidak nyaman dengan berita yang dibagikan. Ibu Mawar mengatakan juga, setelah Ibu Sita membagikan broadcast tersebut, tidak ada ibupun yang menanggapi.

Puncaknya, pada suatu hari Ibu Sita membagikan sebuah berita terusan menjelaskan tentang suatu tempat dengan pernyataan ada seorang ODP atau PDP, saya lupa juga cerita bu Mawar. Nah, di dalam WAG tersebut, ternyata ada seorang ibu yang bertanggung jawab dengan daerah tersebut dan tidak ada konfirmasi tersebut. Ibu Sita pun di "Skakmat" oleh ibu tersebut. Ibu Sita memilih jalan mengkahiri chat tersebut dengan cara kurang nyaman. 

Membantu Sesama dengan Cara Bijak Membagikan Broadcast


Ibu Mawar pun menceritakan kepada saya, dirinya sebetulnya merasa kurang nyaman dengan broadcast yang sering dibagikan oleh Ibu Sita. Hampir setiap hari dan setiap hari bisa dua hingga tiga pemberitaan yang dibagikan. Ibu Mawar termasuk ibu yang sangat tidak nyaman karena suaminya di rumahkan. Namun ibu Mawar ini orangnya bukan berpasrah begitu saja dengan adanya dampak covid 19 ini. Ibu Mawar optimis masa pandemi ini akan berakhir dan dia sekeluarga dapat tercukupi kebutuhannya.

Saya memahami posisi Ibu Mawar yang sebagai ibu rumah tangga, suaminya yang bekerja di hotel di rumahkan, tidak ada gaji. Ibu Mawar sedang menata hati dan pikirannya. Menerima setiap hal yang terjadi, mencerna dengan kepala dingin, tapi seringnya diberikan broadcast yang meresahkan, menakutkan, mengkhawatirkan meskipun itulah yang terjadi pada masa pandemi ini.

Ibu Mawar hanya ingin dimengerti. Ibu Mawar dan ibu-ibu lainnya hanya ingin adanya empati, bukan berita-berita yang meresahkan, apalagi dibagikan juga oleh seorang ibu. Jika ingin membantu dalam hal materi, masih ada saudara-saudara yang membagi sebagian hartanya. Pemerintah juga Insya Allah meringankan. Ternyata bukan hanya bantuan materi saja yang dibutuhkan oleh Ibu Mawar dan ibu-ibu lainnya.

Mereka membutuhkan bantuan untuk tidak membagikan berita yang meresahkan dan menakutkan. Ibu-ibu ini sudah cukup traumatis harus ikhlas menerima kenyataan suaminya di rumahkan. Sekolah anak tetap meminta bayaran, anak-anak juga masih tetap harus makan dan kebutuhan rumah tangga harus dicukupi. Ibu Mawar sempat tertekan dan akhirnya membagikan ceritanya kepada saya. Sayapun memberikan saran kepada Ibu Mawar untuk mengubah pengaturan media di WhatsApp-nya.

Media baik gambar ataupun video yang dikirim di WAG dalam keadaan tidak terdownload langsung. Jika Ibu Sita yang mengirimkan broadcast, acuhkan saja. Masya Allah, sejak pengaturan WhatsApp-nya diatur seperti cara yang saya ajarkan, perasaan Ibu Mawar cukup tenang dan damai. Jadi, saat membuka WAG Sekolah anaknya untuk membaca informasi dari sekolah, Ibu Mawar tidak perlu melihat atau membaca broadcast yang dikirim oleh Ibu Sita. 

Hingga tragedi yang diceritakan di atas terjadi. 

Jadi, ibu-ibu yang cantik-cantik dan baik hatinya. Membantu sesama selama masa pandemi itu, bukan hanya materi saja. Ada banyak hal yang dirasa kurang sekali meskipun tidak terlihat secara langsung, yaitu empati, simpati dan tepat di tempatnya atau tidak. Sedikit saya menambahkan juga, saya harap semua sudah tidak ada sekarang ya. Membagi hasil belanjaan di status media sosial, membagi hasil keuntungan yang banyak di media sosial, rasanya kurang pas untuk masa pandemi ini. Salah satu cara membantu sesama ya dengan menahan untuk tidak membagikan dan mengontrol emosi. 


No comments:

Post a comment

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih