21 Apr 2020

Perubahan Paling Terasa dengan Adanya Covid 19 dalam Kehidupan Sehari-Hari


Covid 19 pertama kali menyeruak di negara Indonsia tercinta di awal bulan Maret 2020. Covid 19 mengubah semua hal dalam kehidupan sehari-hari semua orang, khususnya saya dan keluarga. Sebagai seorang muslim, saya harus menerima keadaan ini dengan ikhlas dan sabar. Covid 19 menjadi sebuah teguran dan ujian yang diberikan oleh Allah. Tentu dibalik semua ujian ada hikmah yang terkandung di dalamnya bagi yang mengimani.



Pertengahan Bulan Maret 2020. Pemerintah pusat, secara resmi meminta warga untuk belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Artinya, kedatangan covid 19 benar-benar menjadi kejadian luar biasa. Meski di sisi lain, masih ada yang pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah. Saya dan suami, memilih untuk menghentikan aktifitas anak-anak dan suami menghentikan kegiatan usahanya. Alhamdulillah kebijakan pemerintah daerah dan kebijakan sekolah anak-anak seiring dengan kebijakan pemerintah pusat.


Pengaruh Covid 19 dalam Kehidupan Sehari-hari


Seketika itu juga kehidupan berubah drastis. Dalam segala sektor, ekonomi, pendidikan, pasar, psikologis, sosial, transportasi, distribusi dan lain-lainnya. Sektor yang paling terdampak dan menjadi pengaruh sektor-sektor lainnya, sudah pasti adalah sektor bisnis (ekonomi). Termasuk bisnis yang sedang dibangun dan dikembangkan oleh sang pemimpin rumah tangga, suamiku.

Jika pemerintah sering melakukan ratas. Saya dan suamipun langsung menggelar ratas dengan penuh keprihatinan. Alhamdulillahnya, saya dan suami sudah menyiapkan segala resiko yang kemungkinan dapat terjadi dalam dunia bisnis. Jadi, kagetnya lebih kepada, tidak mampu bergerak dan masih melihat-lihat untuk banting stir ke usaha yang lainnya. 

Hal utama yang diputuskan dari ratas tersebut adalah tetap tinggal di rumah. Tinggal di rumah kami pikirkan sebagai lamgkah paling MURAH dan paling MUDAH untuk dilakukan. Salah satu bentuk syukurnya adalah, suami adalah orang bisnis yang tidak terikat dengan perusahan manapun. Kedua, saya seorang ibu rumah tangga dan anak-anak dapat dikondisikan. 

Bagaimana dengan kebutuhan ekonomi keluarga? bayar sekolah tetap, bayar mengaji tetap, bayar hutang tetap, bayar antar jemput tetap, bayar listrik, internet, air tetap, membeli kebutuhan pokok tetap. Tidak ada yang bisa didiskon dan tidak ada yang bisa ditunda. Mengemispun tidak ada artinya. Hal pertama yang dilakukan tentu berhemat dan berdoa. Berdoa dana-dana yang masih di luar bisa masuk dan aset-aset yang ada dapat dijual dengan mudah dan cepat.

Gimana coba membayangkan hidup tanpa ada penghasilan? kan bisa jualan? kan bisa menjual barang pasarin saja. Tentunya banyak yang sudah melakukannya. Tapi kami memilih untuk tetap stay di rumah, untuk mengurangi resiko yang lebih besar. Jika keluar rumahpun untuk hal-hal yang penting dan sangat diperlukan sekali. 

Bagaimana dengan memenuhi kebutuhan pokok keluarga? belanja online dan belanja kebutuhan makanan dengan cara menitipkan belanjaan kepada salah satu pedagang. Barang belanjaan di antar sampai pos security, karena cluster kami ditutup portal. Hal lainnya yang kami lakukan adalah memasak makanan pokok, camilan dari dapur sendiri. Buat kami, memasak sendiri jatuhnya lebih hemat dibandingkan membeli.

Semua Anggota Keluarga Berada di Dalam Rumah


Hal yang paling terasa adalah semua anggota keluarga berada dan berkumpul di dalam rumah. Suami yang seorang pebisnis, biasanya sabtu dan minggu berada di lokasi proyek. Jika setiap harinya suami pulang selepas pukul 9 malam, sekarang semua berubah.

Suami tetap memilih tinggal di rumah untuk mengurangi pengeluaran. Pada hari biasa suami mengeluarkan 2 juta untuk transportasi setiap hari ke proyek dan ke berbagai tempat. Sekarang pengeluaran tersebut menjadi pengeluaran berbagai vitamin dan kebutuhan masker.

Anak-anak berada di rumah, tidak sekolah dan tidak mengaji di luar rumah. Tentunya hal ini mampu mengurangi tingkat kesibukan di jam pagi hari dan jam sore hari saat mereka akan pergi mengaji.

Bagi saya, di mana setiap hari ada lebih dari 5 kali keluar masuk rumah menggunakan sepeda motor. Sekarang dalam sebulan, keluar rumah bisa dihitung jemari.

Beribadah Bersama dengan Semua Anggota Keluarga


Alhamdulillah. Hal paling penting yang saya anggap menjadi hikmah adalah beribadah bersama. Kami dapat sholat berjamaah lima waktu sehari di rumah. Jika pada hari biasanya, suami dan anak laki-laki sholat berjamaah di mushola. Sekarang saya bisa menjadi makmum. Masya Allah nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? betapa Allah sangat sayang kepada kami. 

Pada awal pandemi covid 19, saya menyulap kamar anak menjadi tempat sholat. Saya ajak anak-anak tidur bersama, di masa-masa paling menegangkan di awal kebijakan pemerintah mengharapkan semua warga mengkarantina diri sendiri. Saya juga mengajak suami dan anak-anak untuk lebih menambah hafalan Al Qur'annya. Bagaimana pun ini adalah teguran dari Allah untuk banyaknya waktu yang telah kita sia-siakan.

Tingkat Kebersihan Semakin Diperhatikan


Salah satu faktor untuk mencegah penularan covid 19 adalah menjaga kebersihan. Menjaga kebersihan selama berada di luar rumah, saat pulang ke rumah dan saat berada di dalam rumah. Semenjak adanya covid 19, protokol keluar rumah benar-benar diperhatikan. Keluar rumah menggunakan kaos kaki, membawa sarung tanggan cooking, menggunakan jaket, tidak membawa dompet dan membawa uang yang cukup serta menggunakan masker.

Barang bawaan ke pasar juga bertambah, yaitu hand sanitizer maupun sabun cuci tangan. Menurut info sih, sabun cuci tangan merupakan formula yang paling ampuh membasmi kuman dan virus. Saat pulang ke rumah protokolnya juga diikuti dan dijalani dengan baik. Menempatkan barang-barang yang dari luar tetap ada di luar rumah, mencuci dan mandi serta mengganti pakaian.

Saat berada di dalam rumah juga lebih memperhatikan untuk beres-beres rumah. Di awal pandemi, saya diminta suami untuk tetap istirahat dan jangan terlalu lelah. Dipikirkan paling utama adalah kesehatan badan terlebih dulu. Baru saat kesehatan mulai bagus, membersihkan rumah memang perlu. 

Pola Makan Anak-Anak Menjadi Terkontrol


Hari-hari biasanya saya sering menemukan kotak bekal makanan yang masih tersisa nasi ataupun lauk. Rasanya sedih dan kenapa bisa begitu, padahal bekal makanannya yang disuka oleh anak-anak. Anak-anakpun terlihat begitu lelah, mungkin karena aktifitas padat namun asupan makanannya kurang.

Selama masa karantina mandiri, kami selalu makan bersama setiap pagi, siang dan malam. Saya plototin terus makanan yang masuk untuk anak-anak. Dengan makan teratur anak-anak mulai mengubah kembali pola makannya.

Bercocok Tanam di Lahan Terbatas dan Mengolah Aneka Camilan untuk Keluarga

Bercocok tanam menjadi hal yang dilakukan oleh suami untuk membunuh kebosanan. Dengan lahan terbatas, suami memaksimalkan dengan menaman jahe, cabe, pohon pandan dan mencoba menyemai kurma. 

Saya juga mulai mencari cara bagaimana mengolah aneka camilan yang mudah untuk keluarga. Camilan-camilan seperti kue bolu yang jarang saya buat, akhirnya menjadi rutinitas untuk mengganjal perut anak-anak yang doyan manis. 

Itulah perubahan-perubahan yang paling terlihat selama masa karantina mandiri ini kami lakukan. Alhamdulillah ada banyak perubahan yang baik selama masa karantina mandiri. Memang sih ada tangisan, ada kekhawatiran, ada penyesalan, tapi rasanya tidak adil jika dibandingkan kenikmatan, kebahagiaan dan kelapangan yang telah Allah berikan kepada kami.

1 comment:

  1. Keren nih mba jadi bercocok tanam, lumayan hasil panennya nanti buat dipakai sendiri ya. Semoga berlanjut terus ya nanti :)

    ReplyDelete

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih