6 May 2020

Positif dan Negatifnya Berpuasa Ramadan di Tengah Musibah Covid 19

Berpuasa di bulan Ramadan pada tahun-tahun terakhir terlintas di dalam bayangan. Puasa di masa kecil dengan riang dan gembiranya menyambut dengan tarhib Ramadan. Bersuka cita orang tua mempersiapkan berbagai menu masakan dalam rantang untuk dikirim kepada sanak dan handai taulan. Puasa Ramadan di tahun ini, kita semua diberikan ujian yang begitu menguras energi dan emosi. Menguras energi untuk senantiasa waspada saat melakukan aktifitas baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Berpuasa di tengah musibah covid 19, ada negatif dan positifnya. 

astin astanti


Kita semua memahami kebijakan pemerintah mengenai jaga jarak dan tetap di rumah jika memungkinkan. Saya dan keluarga memilih untuk tetap tinggal di rumah. Bebelanja kebutuhan hidup termasuk sayur dan lauk dengan cara menitip kepada agen yang nantinya diantarkan ke rumah. Alasan utama mengapa kami memilih tetap di rumah adalah menghemat energi dan menghemat dana. Memang jika dihitung-hitung ada selisih lebih mahal, tapi jika dilihat dari high risk, kami memilih tetap tinggal di rumah. 

Makna puasa bagi saya dan keluarga adalah menahan. Saya rasa sudah cukup usiaku mengenal makna puasa Ramadan secara umum. Kurang lebih lima tahunan, saya memilih untuk tidak membeli takjil yang berlebihan. Contohnya tidak membeli gorengan, kolak dan es buah. Mungkin ada yang mengatakan, tukang jualan bangkrut jika semua orang sepertiku, bukankah rejeki masing-masing orang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Jadi, prinsip untuk tidak membeli apa yang saya bisa saya buat di Dapur Astata, kenapa tidak membuat sendiri?.

Hingga musibah covid 19 menghampiri negara tercinta, di saat kita semua sedang menyambut bulan Ramadan. Alhamdulllah hal yang membatasi pergerakan untuk keluar rumah, tidak membuat saya bersedih atau sengaja keluar rumah. Alasannya karena saya sudah terbiasa memasak dan membuat takjil sendiri dari Dapur Astata. Prinsip kami sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, jadi jika membuat sendiri kan bisa ditimbang-timbang, doyan enggak nih, cukup enggak nih? contohnya es buah. Saya lebih memilih membuat es buah dengan cara memisahkan buah potong dan menyajikan secara langsung es buahnya. Jadi bisa disimpan hingga beberapa hari.

Menurut saya berpuasa di Tengah Musibah Covid 19 ini ada hal postif dan negatifnya. Meski demikian, kita harus menerima keadaan tersebut dengan ikhlas dan menyadari bahwa ujian covid 19 ini ada karena kita mampu untuk melewatinya.

Hal Positif Berpuasa Ramadan di Tengah Musibah Covid 19

  1. Tidak perlu bangun di jam anak sekolah. Hal ini saya nikmati sekali. Biasanya kan, setelah sholat subuh tidur lagi dan harus bangun sebelum anak akan berangkat sekolah. Puasa Ramadan tahun ini, jam tidurnya bebas, dear.
  2. Anak-anak tidak ke sekolah, tidak ada alasan untuk saya menjemput mereka ke sekolah. Itu artinya make up menjemput anak sekolah utuh, bensin sepeda motor utuh dan energi juga tidak terkuras.
  3. Waktu di rumah lebih banyak, karena tidak berpikiran harus beli ini dan beli itu. Semakin banyak waktu di rumah, semakin banyak waktu yang dapat digunakan untuk beribadah di bulan Ramadan.
  4. Stock bahan makanan untuk membuat camilan lumayan, karena sudah ada persediaan dengan cara membeli online.
  5. Anak-anak tidak harus mengaji ke mushola. Anak-anak mengaji secara online dan itu artinya, mereka tidak perlu banyak berganti baju, cucian tidak banyak sudah membuat ibu bahagia.
  6. Menjadi pelajaran bagi anak-anak untuk menikmati makanan yang ada di rumah. Tidak perlu menginginkan makanan ini dan itu, karena keterbatasan pergerakan alias harus di rumah saja. Sejujurnya dompet emak menjadi lebih irit.
  7. Dapat berbuka puasa bersama suami. Ramadan Ramadan biasanya suami bekerja dan bisa sampai malam juga. Tahun ini menjadi Ramadan paling spesial karena suami di rumah saja.
  8. Dapat mendirikan sholat berjamaah lima waktu karena sang Imam ada di rumah.

Hal Negatif Berpuasa Ramadan di Tengah Musibah Covid 19

  1. Jadwal tidur terlalu panjang. Setelah sholat subuh kami selalu tidur lagi dan mengatur alarm di jam yang telah ditetapkan, Nyatanya kami selalu membuat perpanjangan waktu dengan pemikiran tidak ada hal urgent yang harus dikerjakan. Saya nih ya, setel alarm pukul 8, nyatanya bisa jam 10 pagi keluar rumah.
  2. Anak-anak kurang disiplin mulai dari bangun tidur, mandi dan belajar. Anak-anak memiliki tipe yang santai dalam urusan belajar. Saya dan suami juga tidak ingin memaksakan kepada anak-anak harus melakukan ini dan melakukan itu, sepanjang mereka mematuhi hal-hal yang prinsip. Alasannya apa> kita yang orang dewasa saja lumayan tertekan berada di rumah terus, apalagi anak-anak yang diberikan beban mengerjakan tugas terus menerus?.
  3. Urusan rumah berantakan setiap hari selalu menjadi trending topik. Meskipun saya telah menurunkan ekspektasi tingkat kebersihan dan kerapian, nyatanya menjelang jam berbuka puasa, saya selalu ingin rumah rapi. Duh ya Allah, entah kenapa, saat akan makan saya ingin rumah rapi tanpa ada barang-barang atau mainan bersliweran.
  4. Urusan memasak, saat berpuasa Ramadan di situasi normal, ada yang namanya berbuka puasa di luar rumah. Entah bersama keluarga inti atau keluarga besar ataupun dengan teman. Nyatanya sekarang untuk membeli makan di luar rumahpun harus hati-hati. Jadi, saya non stop setiap hari mengeksekusi bahan makanan di Dapur Astata terus menerus.
  5. Tidak adanya sholat berjamaah di mushola dan masjid. Mushola dan masjid menjadi sepi tanpa ada aktifitas keagamaan.
  6. Tidak ada i'tikaf, itu artinya tidak ada acara dari Masjid ke Masjid.
  7. Tidak ada packing baju untuk mudik. Tidak perlu dijabarkan ya, sedih jika ingat. Mending kita happy happy saja ya.
Nah itulah menurut saya hal-hal positif dan negatif yang dirasakan saat berpuasa Ramadan di tengah musibah covid 19. Semoga apa yang kami ikhtiarkan menjadi ladang kemudahan bagi kami semua, aamiin. 

No comments:

Post a comment

Mohon maafkeun, komentar kali ini dimoderasi ya. Terima kasih